KABARLAH.COM, Pekanbaru – Ketika sebuah bangsa disebut “tidak mudah ditumbangkan”, kita diingatkan bahwa kekuatan sejati bukan hanya pada senjata, ekonomi, atau strategi politik. Kekuatan yang paling dalam adalah keteguhan jiwa, persatuan rakyat, kesabaran menghadapi tekanan, dan keyakinan bahwa nasib manusia berada di bawah kuasa Allah.
Allah berfirman:
“Berapa banyak kelompok kecil mengalahkan kelompok besar dengan izin Allah. Dan Allah bersama orang-orang yang sabar.”
(QS. Al-Baqarah: 249)
Ayat ini menunjukkan bahwa ukuran kemenangan tidak selalu ditentukan oleh jumlah, teknologi, atau kekuatan lahiriah. Ada faktor ruhani yang lebih agung: izin Allah, kesabaran, dan keteguhan hati.
Allah juga berfirman:
“Jika Allah menolong kamu, maka tidak ada yang dapat mengalahkan kamu. Tetapi jika Allah membiarkan kamu, maka siapakah yang dapat menolong kamu setelah itu?”
(QS. Āli ‘Imrān: 160)
Namun Islam tidak mengajarkan kesombongan dalam kekuatan. Seorang mukmin tidak boleh merasa paling hebat, sebab semua kekuatan hanyalah titipan. Rasulullah ﷺ bersabda:
“Mukmin yang kuat lebih baik dan lebih dicintai Allah daripada mukmin yang lemah, dan pada keduanya ada kebaikan.”
(HR. Muslim)
Kekuatan yang dicintai Allah adalah kekuatan yang dibimbing iman: kuat sabar, kuat menjaga keadilan, kuat menahan diri dari kezaliman, dan kuat membela yang tertindas.
Maka dalam membaca konflik dunia, umat Islam harus tenang, tidak mudah termakan propaganda, tidak tergesa-gesa menyebarkan kabar, dan tidak bersorak atas penderitaan manusia. Sikap terbaik adalah berpihak kepada kebenaran, mendoakan keselamatan orang-orang tertindas, serta menjaga lisan dari fitnah.
Hikmahnya: bangsa yang kuat adalah bangsa yang memiliki iman, ilmu, persatuan, dan ketahanan moral. Sebab yang paling sulit ditumbangkan bukan bangunan negaranya, tetapi jiwa rakyatnya yang sabar, sadar, dan bertawakal kepada Allah.
Syekh Sofyan Siroj Abdul Wahab.



