KABARLAH.COM – Pesan “kita harus menyalakan lampu kita” mengingatkan bahwa dakwah tidak selalu dimulai dari mimbar besar, jabatan tinggi, atau massa yang banyak. Dakwah dimulai dari cahaya iman dalam diri: ilmu yang benar, akhlak yang baik, lisan yang jujur, dan kepedulian kepada masyarakat.
Allah berfirman:
“Serulah manusia kepada jalan Tuhanmu dengan hikmah dan nasihat yang baik, dan bantahlah mereka dengan cara yang lebih baik.”
(QS. An-Naḥl: 125)
Ayat ini mengajarkan bahwa dakwah harus membawa cahaya, bukan kegaduhan. Ia harus lahir dari hikmah, kelembutan, ilmu, dan adab. Dakwah bukan sekadar menyalahkan orang, tetapi membimbing manusia menuju Allah.
Allah juga berfirman:
“Katakanlah: Inilah jalanku. Aku dan orang-orang yang mengikutiku menyeru kepada Allah di atas bashirah.”
(QS. Yūsuf: 108)
Bashirah berarti pandangan yang jernih. Maka seorang da’i tidak cukup hanya semangat, tetapi harus memiliki ilmu, kebijaksanaan, dan visi yang panjang untuk kemaslahatan umat.
Rasulullah ﷺ bersabda:
“Sampaikanlah dariku walaupun satu ayat.”
(HR. Bukhari)
Hadits ini menunjukkan bahwa setiap muslim memiliki bagian dalam dakwah sesuai kemampuan. Ada yang berdakwah dengan ilmu, harta, tulisan, pelayanan, keteladanan, atau doa.
Beliau ﷺ juga bersabda:
“Barang siapa menunjukkan kepada kebaikan, maka ia mendapat pahala seperti orang yang mengerjakannya.”
(HR. Muslim)
Hikmahnya: jangan menunggu sempurna untuk berbuat baik. Nyalakan lampu kecil kita: ajarkan yang kita tahu, sebarkan kebaikan, jaga akhlak, bantu masyarakat, dan luruskan niat. Bila setiap muslim menyalakan cahaya dakwahnya, maka keluarga tercerahkan, masyarakat tertuntun, dan umat memiliki harapan. Dakwah adalah amanah, bukan sekadar pilihan; ia jalan cinta kepada Allah dan rahmat bagi manusia.
Syekh Sofyan Siroj Abdul Wahab.



