KABARLAH.COM, Pekanbaru – Minyak goreng bersubsidi merek Minyakita mulai langka di pasaran dan harganya melonjak drastis. Di Kota Pekanbaru, harga Minyakita bahkan mencapai Rp23.000 per liter, jauh di atas Harga Eceran Tertinggi (HET) yang ditetapkan pemerintah sebesar Rp15.700 per liter. Kondisi ini dikeluhkan masyarakat hingga pelaku UMKM.
Umar, seorang pedagang mie di Pekanbaru, mengaku terkejut saat membeli Minyakita di warung karena harganya naik signifikan.
Menurutnya, kenaikan harga tersebut sangat memberatkan pelaku usaha kecil yang bergantung pada minyak goreng untuk operasional sehari-hari.
Ia berharap pemerintah segera mengambil langkah cepat untuk mengantisipasi lonjakan harga tersebut.
Umar menilai kondisi ini ironis, mengingat Provinsi Riau merupakan salah satu daerah penghasil kelapa sawit terbesar di Indonesia, namun harga minyak goreng justru mahal dan sulit didapat.
Keluhan serupa juga disampaikan Nina. Ia menyebut harga Minyakita di sejumlah tempat bahkan ada yang mencapai Rp23.000 per liter.
“Pemerintah harus hadir membantu rakyatnya, cepat dan tanggap mengantisipasi kenaikan harga Minyakita. Jika ada pihak yang menimbun Minyakita, segera ditindak tegas dan dicabut izinnya. Rakyat sedang susah secara ekonomi, jangan dibuat semakin susah lagi,” ujarnya dengan nada kesal.
Menanggapi hal itu, Kepala Disperindag Kota Pekanbaru melalui Kabid Tertib Perdagangan dan Perindustrian, Khairunnas, menegaskan pihaknya akan segera melakukan penelusuran ke tingkat distributor.
Hal ini dilakukan untuk memastikan apakah kenaikan harga berasal dari rantai distribusi pertama atau permainan spekulan di tingkat bawah.
“Dalam waktu dekat, kami akan kembali menelusuri persoalan yang membuat harga Minyakita mengalami lonjakan. Kami meminta distributor jangan ada yang menaikkan harga di luar regulasi, karena HET sudah jelas ditetapkan,” ujar Khairunnas saat dikonfirmasi, Minggu (10/5/2026).
Ia menduga kenaikan harga ini merupakan ulah oknum distributor swasta di luar jalur Bulog. Muncul dugaan bahwa distributor menjual stok dengan harga tinggi dan membebankan ongkos kirim tambahan kepada pedagang, yang pada akhirnya membebani konsumen akhir di pasar-pasar rakyat.



