KABARLAH.COM – Ada satu fase penting dalam kehidupan seorang mukmin yang sering tidak terlihat oleh manusia: saat hati mulai sadar bahwa kehidupan bukan sekadar perjalanan dari lahir menuju mati, tetapi perjalanan dari Allah menuju Allah.
Manusia dapat menjalankan berbagai kewajiban, meninggalkan yang haram, bekerja, berkeluarga, berdakwah, dan hidup dalam lingkungan yang baik. Semua itu merupakan bagian dari ketaatan. Namun Sa‘id Hawwa mengingatkan bahwa dalam perjalanan tersebut seorang Muslim masih dapat dihinggapi kelalaian, kelemahan, kekurangan, bahkan kehilangan orientasi batinnya.
Kemudian datang suatu saat ketika ia tersadar.
Kesadaran itu kadang muncul setelah musibah. Kadang setelah kegagalan. Kadang ketika seseorang mulai merasakan kehampaan di tengah keberhasilan. Kadang pula lahir dari ayat Al-Qur’an yang tiba-tiba terasa menembus hati.
Di situlah perjalanan ruhani memperoleh maknanya.
فَفِرُّوْٓا اِلَى اللّٰهِ
“Maka berlarilah kamu kembali kepada Allah.”
QS. Adz-Dzāriyāt: 50
Ayat ini menggambarkan kehidupan spiritual dengan sangat kuat. Manusia tidak diperintahkan sekadar mengetahui Allah, tetapi bergerak menuju-Nya.
Tentu bergerak kepada Allah bukan perpindahan tempat. Allah Mahasuci dari batas ruang. Perjalanan menuju Allah adalah perjalanan hati: dari lalai menuju sadar, dari maksiat menuju taat, dari keterikatan kepada makhluk menuju ketergantungan kepada al-Khāliq, dari keakuan menuju penghambaan.
Dalam tradisi tasawuf, orang yang sedang menempuh perjalanan ini disebut sā’ir—orang yang berjalan menuju Allah.
Kesadaran Adalah Awal Perjalanan
Tidak semua manusia yang hidup sebenarnya sedang “berjalan”.
Ada yang bergerak secara fisik, tetapi hatinya berhenti.
Ada yang bertambah umur, tetapi tidak bertambah kedekatan kepada Allah.
Ada yang semakin banyak ilmu, tetapi semakin sedikit ketundukan.
Karena itu kesadaran ruhani merupakan nikmat yang sangat besar.
Kesadaran melahirkan pertanyaan:
Untuk apa sebenarnya aku hidup?
Apa yang sedang kukejar?
Ke mana seluruh aktivitas ini akan berakhir?
Dan yang paling dalam:
Bagaimana keadaan hubunganku dengan Allah?
Al-Qur’an mengingatkan:
اَلَمْ يَأْنِ لِلَّذِيْنَ اٰمَنُوْٓا اَنْ تَخْشَعَ قُلُوْبُهُمْ لِذِكْرِ اللّٰهِ
“Belum tibakah waktunya bagi orang-orang yang beriman untuk tunduk hati mereka mengingat Allah?”
QS. Al-Ḥadīd: 16
Perhatikan ungkapannya: “Belum tibakah waktunya?”
Seolah Al-Qur’an sedang mengetuk hati manusia yang terlalu lama tertidur.
Mungkin seseorang sudah puluhan tahun menjadi Muslim. Namun pada suatu malam, hatinya benar-benar mulai berjalan kepada Allah.
Tawajjuh: Ke Mana Hati Menghadap?
Sa‘id Hawwa menggunakan istilah penting: tawajjuh.
Secara bahasa, tawajjuh berarti menghadap, mengarahkan diri, menentukan orientasi.
Dalam perjalanan spiritual, tawajjuh berarti menjadikan Allah sebagai pusat orientasi hati.
Inilah pertanyaan mendasarnya:
Ketika kita beribadah, kepada siapa hati sedang menghadap?
Ketika berdakwah, apakah kita mencari ridha Allah atau penghormatan manusia?
Ketika mendapatkan jabatan, apakah ia menjadi jalan pengabdian atau makanan ego?
Ketika ilmu bertambah, apakah kita semakin merasa membutuhkan Allah atau semakin merasa lebih tinggi daripada manusia?
Karena amal lahir yang benar belum tentu otomatis disertai orientasi batin yang benar.
قُلْ اِنَّ صَلَاتِيْ وَنُسُكِيْ وَمَحْيَايَ وَمَمَاتِيْ لِلّٰهِ رَبِّ الْعٰلَمِيْنَ
“Katakanlah: Sesungguhnya salatku, ibadahku, hidupku dan matiku hanyalah untuk Allah, Tuhan seluruh alam.” QS. Al-An‘ām: 162
Inilah hakikat tawajjuh.
Bukan hanya wajah yang menghadap kiblat, tetapi seluruh kehidupan menghadap Allah.
Tiga Penjaga Perjalanan
Muqaddimah Sa‘id Hawwa memberikan tiga unsur penting agar perjalanan menuju Allah tidak kehilangan arah.
Pertama, tawajjuh yang benar kepada Allah.
Kedua, syaikh atau pembimbing yang rabbani, ‘arif, ‘alim dan ‘amil.
Ketiga, metode yang berpijak kepada Al-Qur’an dan Sunnah.
Ketiganya membentuk keseimbangan yang sangat penting.
Orientasi hati tanpa ilmu dapat berubah menjadi perasaan tanpa kendali.
Ilmu tanpa penyucian hati dapat berubah menjadi kesombongan intelektual.
Pembimbing tanpa ukuran Al-Qur’an dan Sunnah dapat membawa murid kepada kultus manusia.
Sedangkan metode tanpa ruhani dapat menjadikan agama terasa seperti kumpulan prosedur yang kehilangan kehidupan batinnya.
Karena itu tasawuf Sunni bukanlah meninggalkan syariat untuk mengejar pengalaman spiritual.
Justru jalan ruhani harus semakin memperkuat ketaatan.
Semakin dekat seseorang kepada Allah, seharusnya semakin kuat salatnya, semakin jujur lisannya, semakin bersih muamalatnya, semakin lembut akhlaknya, dan semakin takut ia melanggar hak manusia.
Mengapa Seorang Penempuh Jalan Membutuhkan Bimbingan?
Manusia memiliki keterbatasan yang sangat besar dalam menilai dirinya sendiri.
Kita mudah mengetahui kesalahan orang lain, tetapi sering sulit melihat kesalahan diri.
Ego memiliki kemampuan luar biasa untuk menyamarkan hawa nafsu menjadi “niat baik”.
Ambisi dapat menyamar sebagai perjuangan.
Keinginan dipuji dapat menyamar sebagai dakwah.
Marah dapat diberi nama ketegasan.
Kemalasan dapat dinamakan tawakal.
Karena itu seorang mutawajjih, orang yang sungguh-sungguh mengarahkan dirinya kepada Allah, membutuhkan ilmu, nasihat, koreksi dan bimbingan.
Tetapi pembimbing pun bukan manusia ma‘shūm.
Maka seorang guru ruhani tetap harus ditimbang dengan Al-Qur’an, Sunnah, ilmu dan akhlak.
Syaikh yang rabbani bukan orang yang membawa manusia bergantung kepada dirinya, tetapi orang yang semakin mengarahkan murid kepada Allah.
Guru sejati bukan memperbesar dirinya dalam hati murid.
Ia memperbesar Allah.
Dari Ilmu Menuju Ma‘rifah Dzauqiyah
Salah satu ungkapan paling menarik dalam muqaddimah tersebut adalah ma‘rifah dzauqiyah.
Secara sederhana ia dapat dipahami sebagai “pengenalan yang dirasakan”.
Seseorang dapat mengetahui definisi madu tanpa pernah mencicipinya.
Ia dapat membaca puluhan halaman tentang manis, tetapi pengalaman mencicipi sesuatu tidak identik dengan penjelasan tentangnya.
Demikian pula iman.
Seseorang dapat mengetahui secara teoritis bahwa Allah Maha Mendengar.
Tetapi ada saat ketika ia berdoa sendirian dalam kesulitan, lalu hatinya benar-benar merasakan:
Allah mendengarku.
Ia mengetahui bahwa Allah Maha Mencukupi.
Tetapi ketika semua sandaran dunia melemah, kemudian pertolongan Allah datang dari arah yang tidak disangka, ayat tentang tawakal memperoleh rasa yang berbeda.
وَمَنْ يَّتَوَكَّلْ عَلَى اللّٰهِ فَهُوَ حَسْبُهٗ
“Barang siapa bertawakal kepada Allah, niscaya Allah akan mencukupinya.”
QS. Ath-Thalāq: 3
Inilah perbedaan antara hanya mengetahui ayat dan mulai dihidupkan oleh ayat.
Namun ma‘rifah dzauqiyah tidak boleh dilepaskan dari wahyu. Pengalaman batin bukan sumber syariat baru. Perasaan tidak boleh menghalalkan yang haram atau menggugurkan kewajiban.
Dzauq yang benar justru membuat seseorang semakin tunduk kepada syariat.
Syariat, Tarekat, Hakikat dan Ma‘rifat
Jika perjalanan ini kita gambarkan dalam empat lapisan, maka syariat menjaga langkah lahir agar tetap berada dalam halal dan haram.
Tarekat mendidik jiwa agar amal tidak hanya benar bentuknya, tetapi juga semakin bersih niatnya.
Hakikat membuat hati menyadari bahwa di balik seluruh sebab terdapat kehendak dan kekuasaan Allah.
Sedangkan ma‘rifat menumbuhkan pengenalan yang semakin dalam kepada Allah melalui iman, ibadah, zikir, tafakkur, mujahadah dan pengalaman hidup.
Keempatnya bukan jalan yang saling bertentangan.
Syariat tanpa kedalaman dapat menjadi kering.
Kedalaman tanpa syariat dapat tersesat.
Karena itu perjalanan menuju Allah harus tetap berada dalam cahaya wahyu.
Akhirnya: Yang Terpenting Bukan Seberapa Jauh Kita Telah Berjalan
Dalam perjalanan ruhani, seseorang dapat terjebak menghitung maqamnya sendiri.
“Sudah sampai di mana aku?”
“Apakah aku sudah menjadi ‘arif?”
“Apakah aku sudah mengalami ma‘rifat?”
Pertanyaan seperti itu justru dapat membuka pintu ego spiritual.
Pertanyaan yang lebih selamat adalah:
Apakah hari ini aku lebih taat daripada kemarin?
Apakah hatiku lebih rendah di hadapan Allah?
Apakah dosa semakin kubenci?
Apakah manusia semakin aman dari lisan dan tanganku?
Apakah ketika dipuji aku semakin takut kepada riya?
Apakah ketika diuji aku semakin kembali kepada Allah?
Karena perjalanan menuju Allah bukan kompetisi maqam.
Ia adalah perjalanan penghambaan.
Seorang sā’ir tidak sibuk mengagumi jarak yang telah ditempuhnya. Ia sibuk menjaga arah.
Dan seorang mutawajjih tidak berkata:
“Aku telah sampai kepada Allah.”
Ia justru semakin menyadari:
“Tanpa Allah, aku tidak akan mampu melangkah sedikit pun menuju-Nya.”
Maka inti perjalanan itu akhirnya kembali kepada satu kalimat:
اِيَّاكَ نَعْبُدُ وَاِيَّاكَ نَسْتَعِيْنُ
“Hanya kepada-Mu kami menyembah dan hanya kepada-Mu kami memohon pertolongan.”
QS. Al-Fātiḥah: 5
Di situlah perjalanan dimulai.
Dan kepada-Nya pula seluruh perjalanan berakhir.
Syekh Sofyan Siroj Abdul Wahab.



