KABARLAH.COM – Membaca QS. al-Ḥasyr: 19 tentang Ghaflah, Identitas, dan Jalan Kembali kepada Allah
Allah سبحانه وتعالى berfirman:
وَلَا تَكُونُوا كَالَّذِينَ نَسُوا اللَّهَ فَأَنْسَاهُمْ أَنْفُسَهُمْ ۚ أُولَٰئِكَ هُمُ الْفَاسِقُونَ
“Janganlah kamu seperti orang-orang yang melupakan Allah, lalu Allah menjadikan mereka lupa kepada diri mereka sendiri. Mereka itulah orang-orang fasik.”
QS. al-Ḥasyr [59]: 19
Ayat ini pendek, tetapi mengandung salah satu analisis paling dalam tentang manusia. Ia tidak hanya berbicara tentang dosa dalam pengertian hukum, tetapi menyentuh persoalan identitas, kesadaran, orientasi hidup, dan penyakit batin manusia.
Al-Qur’an seakan berkata: tragedi terbesar manusia bukan ketika ia kehilangan harta, jabatan, kesehatan atau popularitas. Tragedi yang jauh lebih dalam adalah ketika manusia kehilangan dirinya sendiri karena kehilangan hubungan dengan Allah.
Inilah paradoks yang menakjubkan: seseorang dapat mengetahui banyak hal tentang dunia, tetapi tidak lagi mengetahui untuk apa dirinya hidup.
Melupakan Allah bukan sekadar lupa menyebut nama-Nya
Allah menggunakan ungkapan:
نَسُوا اللَّهَ
“Mereka melupakan Allah.”
Yang dimaksud bukan sekadar lupa secara intelektual bahwa Allah ada. Seseorang boleh jadi tetap mengaku Muslim, mengenal nama Allah, bahkan berbicara tentang agama. Namun Allah dapat “terlupakan” dalam orientasi hidupnya.
Allah dilupakan ketika keputusan tidak lagi mempertimbangkan halal dan haram.
Allah dilupakan ketika nikmat diterima tetapi Sang Pemberi nikmat tidak disyukuri.
Allah dilupakan ketika keberhasilan melahirkan kesombongan, seolah semuanya merupakan hasil kecerdasan diri sendiri.
Allah dilupakan ketika dosa dilakukan berulang-ulang tanpa lagi menimbulkan kegelisahan di dalam hati.
Di sinilah nisyān bertemu dengan ghaflah—kelalaian batin.
Ghaflah bukan berarti manusia berhenti bekerja. Justru orang yang lalai dapat sangat sibuk. Ia dapat menjadi pengusaha, akademisi, pejabat, aktivis, bahkan tokoh masyarakat. Tubuhnya bergerak sangat cepat, tetapi batinnya tidak lagi memiliki arah menuju Allah.
Maka kesibukan tidak selalu berarti kehidupan. Seseorang bisa sangat sibuk, tetapi secara ruhani sedang tertidur.
Hukuman yang sangat halus: lupa kepada diri sendiri
Setelah mengatakan:
نَسُوا اللَّهَ
“Mereka melupakan Allah,”
Allah melanjutkan:
فَأَنْسَاهُمْ أَنْفُسَهُمْ
“Maka Allah menjadikan mereka lupa kepada diri mereka sendiri.”
Inilah bagian yang sangat menggetarkan.
Mereka tidak lupa nama, alamat atau pekerjaannya. Mereka tidak kehilangan ingatan biologis. Yang hilang adalah kesadaran tentang kepentingan dirinya yang paling hakiki.
Manusia menjadi sangat pandai menjaga rumahnya, tetapi lupa menjaga hatinya.
Ia mengetahui saldo rekeningnya, tetapi tidak mengetahui berapa banyak hutang dosanya.
Ia sangat memperhatikan citranya di hadapan manusia, tetapi tidak pernah bertanya bagaimana kedudukannya di hadapan Allah.
Ia tahu cara meningkatkan penghasilan, tetapi tidak tahu bagaimana meningkatkan iman.
Ia takut kehilangan jabatan, tetapi tidak takut kehilangan hidayah.
Di sinilah “lupa diri” menjadi sebuah konsep spiritual sekaligus filosofis.
Manusia masih hidup, tetapi kehilangan jawaban atas pertanyaan paling fundamental:
Siapa aku?
Untuk apa aku hidup?
Dari mana aku berasal?
Ke mana aku akan kembali?
Apa yang disebut sukses?
Ketika pertanyaan-pertanyaan ini tidak lagi dijawab oleh wahyu, manusia mulai mendefinisikan dirinya dengan sesuatu yang sementara: gelar, kekayaan, kecantikan, popularitas, pengikut, kekuasaan.
Padahal semua itu dapat hilang dalam satu malam.
Al-Qur’an mengembalikan manusia kepada identitasnya
Identitas manusia yang paling mendasar bukan “orang kaya”, “orang terkenal”, “pemimpin”, “ulama”, “pengusaha”, atau “akademisi”.
Identitas terdalamnya adalah:
عَبْدُ اللَّهِ
Hamba Allah.
Ketika seseorang memahami dirinya sebagai hamba, ia tidak kehilangan harga diri. Justru ia menemukan martabatnya.
Sebab kehormatan manusia bukan karena ia bebas dari Allah, tetapi karena ia mengenal Rabb-nya.
Dalam bahasa ruhani:
أَنَا عَبْدٌ وَهُوَ رَبٌّ
“Aku adalah hamba, dan Dia adalah Rabb.”
Kesadaran inilah yang menyelamatkan manusia dari kesombongan ketika berhasil dan keputusasaan ketika gagal.
Ketika kaya, ia tetap hamba.
Ketika miskin, ia tetap hamba.
Ketika dipuji, ia tetap hamba.
Ketika dicela, ia tetap hamba.
Ketika sehat maupun sakit, identitas spiritualnya tidak berubah.
Krisis manusia modern adalah krisis orientasi
Dalam bahasa akademik, manusia modern sering mengalami apa yang dapat disebut sebagai alienasi: keterasingan dari makna, dari tujuan, bahkan dari dirinya sendiri.
Teknologi dapat membantu manusia mengetahui apa yang terjadi ribuan kilometer jauhnya, tetapi belum tentu membuatnya mengenal apa yang sedang terjadi di dalam hatinya.
Manusia mengetahui berita dunia, tetapi tidak mengetahui keadaan jiwanya.
Ia terhubung dengan ribuan orang, tetapi terputus dari Allah.
Ia mendapatkan banyak informasi, tetapi kehilangan orientasi.
Al-Qur’an telah menggambarkan keadaan ini secara sangat ringkas:
نَسُوا اللَّهَ فَأَنْسَاهُمْ أَنْفُسَهُمْ
Ketika pusat kehidupan tidak lagi Allah, manusia mencari pusat baru. Kadang pusat itu adalah uang. Kadang kekuasaan. Kadang popularitas. Kadang dirinya sendiri.
Dan ketika ego menjadi pusat kehidupan, lahirlah pertanyaan:
“Bagaimana saya terlihat?”
bukan:
“Bagaimana keadaan saya di hadapan Allah?”
Dzikir adalah jalan menemukan diri
Karena penyakitnya adalah lupa, maka salah satu obat terbesarnya adalah:
ذِكْرُ اللَّهِ
mengingat Allah.
Allah berfirman:
أَلَا بِذِكْرِ اللَّهِ تَطْمَئِنُّ الْقُلُوبُ
“Ingatlah, hanya dengan mengingat Allah hati menjadi tenteram.” QS. ar-Ra‘d: 28
Dzikir tentu mencakup tasbih, tahmid, tahlil, membaca Al-Qur’an dan doa. Namun hakikat dzikir lebih luas.
Dzikir adalah ketika hati sadar:
Allah melihatku.
Ketika hendak berbuat, ia bertanya:
Apakah Allah ridha?
Ketika menerima nikmat, ia berkata:
Ini dari Allah.
Ketika tertimpa musibah, ia memahami:
Aku berada di bawah qadar Allah.
Maka dzikir bukan sekadar aktivitas lisan. Dzikir adalah mengembalikan Allah ke pusat kesadaran manusia.
Dari ghaflah menuju dzikir, dari ego menuju ubudiyyah
Perjalanan tasawuf Sunni pada hakikatnya adalah perjalanan:
مِنَ الْغَفْلَةِ إِلَى الذِّكْرِ
“Dari kelalaian menuju ingat kepada Allah.”
Kemudian:
dari ego menuju ‘ubūdiyyah.
Di sini kita dapat memahami fanā’ secara benar.
Fanā’ bukan manusia menghilang atau melebur dengan Allah. Fanā’ adalah melemahnya ego yang membuat manusia merasa dirinya pusat kehidupan.
Semakin seseorang mengenal Allah, semakin kecil kesombongan dirinya.
Bukan keberadaannya yang hilang, tetapi klaim keakuannya:
“Aku hebat.”
“Aku berhasil sendiri.”
“Aku paling benar.”
“Aku harus selalu dipuji.”
Ketika keakuan ini melemah, muncullah kesadaran:
وَمَا تَوْفِيقِي إِلَّا بِاللَّهِ
“Tidak ada taufik bagiku kecuali dengan pertolongan Allah.” QS. Hūd: 88
Inilah makna ruhani yang sangat dalam: semakin manusia mengingat Allah, semakin ia menemukan dirinya yang sebenarnya.
Syariat, tarekat, hakikat, dan makrifat
Ayat ini juga dapat direnungkan melalui empat lapisan perjalanan ruhani.
Syariat mengajarkan kita menaati Allah: menjaga salat, halal-haram, kewajiban, dan larangan.
Tarekat melatih hati agar keluar dari ghaflah melalui dzikir, muraqabah, muhasabah, taubat, dan pengendalian nafsu.
Hakikat membuat manusia melihat bahwa nikmat, kemampuan, kehidupan, dan kesempatan semuanya berasal dari Allah.
Makrifat membawa seseorang semakin mengenal Allah sekaligus semakin memahami kefakiran dirinya di hadapan-Nya.
Semakin mengenal Allah, semakin sedikit kesombongan.
Semakin dekat kepada Allah, semakin dalam kerendahan hati.
Ukuran keberhasilan yang sebenarnya
Menariknya, setelah memperingatkan agar manusia tidak melupakan Allah, ayat berikutnya berbicara tentang ukuran sukses:
لَا يَسْتَوِي أَصْحَابُ النَّارِ وَأَصْحَابُ الْجَنَّةِ ۚ أَصْحَابُ الْجَنَّةِ هُمُ الْفَائِزُونَ
“Tidaklah sama penghuni neraka dengan penghuni surga. Penghuni surgalah orang-orang yang beruntung.” QS. al-Ḥasyr: 20
Seakan Allah sedang berkata: jangan salah mendefinisikan keberhasilan.
Sukses bukan hanya panjang umur. Bukan hanya banyak harta. Bukan hanya tinggi jabatan. Bukan hanya terkenal.
Semua itu dapat menjadi nikmat, tetapi bukan ukuran terakhir.
Al-Qur’an menetapkan:
أَصْحَابُ الْجَنَّةِ هُمُ الْفَائِزُونَ
“Penghuni surgalah orang-orang yang benar-benar beruntung.”
Maka tadabbur ayat ini membawa kita kepada satu kesimpulan besar:
Jangan sampai kita terlalu sibuk mengurus kehidupan sehingga melupakan Pemilik kehidupan.
Sebab ketika Allah dilupakan, manusia dapat memiliki hampir segalanya tetapi kehilangan sesuatu yang paling berharga: dirinya sendiri.
Sedangkan ketika Allah kembali menjadi pusat hidupnya, ia mulai menemukan kembali arah, ketenangan, identitas dan tujuan keberadaannya.
Perjalanan seorang mukmin bukanlah melupakan diri untuk menemukan Allah, tetapi mengingat Allah hingga ia memahami siapa dirinya: seorang hamba yang datang dari Allah, hidup dengan pertolongan Allah, dan akhirnya kembali kepada Allah.
Syekh Sofyan Siroj Abdul Wahab.



