KABARLAH.COM, Pekanbaru – Dalam beberapa waktu terakhir, bangsa kita kembali diingatkan oleh berbagai peristiwa alam. Kebakaran hutan dan lahan masih menjadi perhatian dan membawa ancaman kabut asap di sejumlah wilayah. Gunung Anak Krakatau mengalami erupsi menerus sejak 4 September 2026 dan berada pada Level III (Siaga). Di Nusa Tenggara Timur, rangkaian gempa juga masih terjadi; pada 8 September tercatat gempa M5,2 di sekitar Manggarai, setelah gempa besar M7,7 mengguncang Flores pada 15 Agustus 2026.
Semua itu jangan hanya menjadi berita yang lewat di layar telepon kita. Bagi orang beriman, setiap peristiwa harus melahirkan ilmu, kewaspadaan, kepedulian, dan terutama muhasabah.
Islam tidak mengajarkan kita tergesa-gesa menyatakan bahwa setiap gempa, erupsi, kebakaran, atau kabut asap pasti merupakan azab Allah kepada orang tertentu. Musibah dapat menjadi ujian, penghapus dosa, peringatan, atau akibat dari perbuatan manusia. Namun Islam juga melarang kita menjadi manusia yang menyaksikan berbagai peristiwa tetapi tidak mengambil pelajaran.
Allah berfirman:
«وَلَوْ أَنَّ أَهْلَ الْقُرَىٰ آمَنُوا وَاتَّقَوْا لَفَتَحْنَا عَلَيْهِمْ بَرَكَاتٍ مِنَ السَّمَاءِ وَالْأَرْضِ»
“Sekiranya penduduk negeri-negeri beriman dan bertakwa, niscaya Kami bukakan kepada mereka keberkahan dari langit dan bumi.” (QS. Al-A‘rāf: 96)
Inilah fondasi keselamatan sebuah negeri: iman dan takwa.
Keamanan tidak cukup dibangun hanya dengan teknologi, alat pemadam, sensor gempa, sistem peringatan dini, atau kemampuan mitigasi. Semua itu wajib diikhtiarkan. Tetapi di atas seluruh ikhtiar tersebut harus berdiri kesadaran bahwa manusia adalah hamba Allah.
Ketika Asap Mengingatkan Amanah Menjaga Bumi
Kabut asap akibat kebakaran hutan dan lahan memberikan pelajaran yang sangat nyata.
Allah berfirman:
«ظَهَرَ الْفَسَادُ فِي الْبَرِّ وَالْبَحْرِ بِمَا كَسَبَتْ أَيْدِي النَّاسِ»
“Telah tampak kerusakan di darat dan di laut disebabkan karena perbuatan tangan manusia.” (QS. Ar-Rūm: 41)
Tidak semua bencana lingkungan boleh disederhanakan sebagai akibat satu dosa tertentu. Tetapi ayat ini jelas mendidik manusia agar tidak menjadi perusak bumi.
Membakar lahan secara serampangan, merusak ekosistem, mengabaikan keselamatan masyarakat, atau mencari keuntungan dengan mengorbankan udara yang dihirup manusia merupakan persoalan amanah dan kezaliman.
Maka taubat dalam masalah lingkungan tidak cukup dengan mengucapkan astaghfirullah. Taubat harus melahirkan perbaikan: menghentikan kerusakan, memperbaiki tata kelola, menegakkan hukum, serta menjaga bumi yang Allah amanahkan.
Ketika Anak Krakatau Menggelegar
Ketika Anak Krakatau mengeluarkan dentuman, lava, dan abu vulkanik, manusia kembali diperlihatkan betapa kecil dirinya. Bahkan aktivitas erupsi September ini sempat menyebabkan gangguan keselamatan penerbangan dan penutupan sementara beberapa bandara.
Ilmu manusia mampu memantau aktivitas gunung, membaca kegempaan, memperkirakan arah abu, dan menetapkan zona bahaya. Tetapi manusia tidak memiliki kekuasaan untuk memerintahkan gunung berhenti.
Di sinilah tauhid menjadi hidup.
Mengikuti arahan PVMBG, BMKG, BNPB, dan petugas bukan berarti kurang tawakal. Justru itulah ikhtiar yang dibenarkan agama.
Tawakal bukan memasuki zona bahaya sambil berkata, “Allah pasti menjaga saya.”
Tawakal adalah mengambil sebab yang benar, menghindari bahaya, kemudian menyerahkan hasilnya kepada Allah.
Gempa NTT: Betapa Rapuhnya Dunia
Gempa di NTT membawa pesan yang tidak kalah dalam.
Rumah yang dibangun bertahun-tahun dapat rusak dalam hitungan detik. Jalan dapat terputus. Keluarga dapat kehilangan tempat tinggal. Kehidupan yang sebelumnya tenang dapat berubah seketika.
Allah berfirman:
«وَلَنَبْلُوَنَّكُمْ بِشَيْءٍ مِنَ الْخَوْفِ وَالْجُوعِ وَنَقْصٍ مِنَ الْأَمْوَالِ وَالْأَنْفُسِ وَالثَّمَرَاتِ وَبَشِّرِ الصَّابِرِينَ»
“Kami pasti akan menguji kamu dengan sedikit ketakutan, kelaparan, kekurangan harta, jiwa, dan buah-buahan. Sampaikanlah kabar gembira kepada orang-orang yang sabar.” (QS. Al-Baqarah: 155)
Karena itu, kepada saudara-saudara yang terkena bencana, tugas pertama kita bukan menghakimi, tetapi menolong.
Rasulullah ﷺ bersabda bahwa tidaklah seorang Muslim tertimpa keletihan, penyakit, kesusahan, kesedihan, gangguan, bahkan duri yang menusuknya, melainkan Allah menghapus sebagian kesalahannya dengan musibah itu. (HR. Al-Bukhari dan Muslim)
Tetapi bagi kita yang menyaksikan bencana dari tempat aman, musibah adalah panggilan untuk bermuhasabah.
Allah berfirman:
«وَمَا أَصَابَكُمْ مِنْ مُصِيبَةٍ فَبِمَا كَسَبَتْ أَيْدِيكُمْ وَيَعْفُو عَنْ كَثِيرٍ»
“Musibah apa pun yang menimpa kamu adalah karena perbuatan tanganmu sendiri, dan Allah memaafkan banyak.” (QS. Asy-Syūrā: 30)
Ayat ini hendaknya pertama-tama kita arahkan kepada diri sendiri untuk bertaubat, bukan dijadikan senjata untuk menghukum korban.
Dari Taubat Pribadi Menuju Taubat Sosial
Rasulullah ﷺ mengingatkan:
«إِنَّ النَّاسَ إِذَا رَأَوُا الظَّالِمَ فَلَمْ يَأْخُذُوا عَلَى يَدَيْهِ أَوْشَكَ أَنْ يَعُمَّهُمُ اللَّهُ بِعِقَابٍ مِنْهُ»
“Apabila manusia melihat orang zalim lalu mereka tidak mencegahnya, hampir-hampir Allah menimpakan hukuman yang merata kepada mereka.” (HR. Abu Dawud dan At-Tirmidzi)
Karena itu bangsa kita membutuhkan bukan hanya taubat pribadi, tetapi juga taubat sosial.
Perbaiki shalat. Tinggalkan maksiat. Hentikan kezaliman. Kembalikan hak manusia. Jauhi korupsi. Jaga keluarga. Santuni fakir miskin. Jaga lingkungan. Tegakkan keadilan. Hidupkan amar makruf nahi mungkar dengan ilmu, kasih sayang, dan hikmah.
Allah berfirman:
«وَاتَّقُوا فِتْنَةً لَا تُصِيبَنَّ الَّذِينَ ظَلَمُوا مِنْكُمْ خَاصَّةً»
“Takutlah terhadap fitnah yang tidak hanya menimpa orang-orang zalim saja di antara kamu.” (QS. Al-Anfāl: 25)
Kita tidak mengetahui bencana apa yang akan terjadi esok hari. Kita juga tidak boleh memastikan perkara gaib tanpa wahyu.
Tetapi kita diperintahkan untuk bersiap dengan iman, takwa, taubat, doa, ilmu, mitigasi, kepedulian sosial, dan perbaikan akhlak.
Jangan menunggu bumi berguncang untuk bersujud. Jangan menunggu langit tertutup asap untuk menjaga bumi. Jangan menunggu gunung menggelegar untuk mengingat kebesaran Allah.
Mari kembali kepada Allah ketika keadaan masih lapang.
Semoga Allah menjaga negeri kita, menerima taubat kita, memperbaiki para pemimpin dan rakyatnya, melindungi kita dari fitnah dan bencana yang tidak mampu kita tanggung, memberikan kesabaran kepada saudara-saudara yang terkena musibah, serta menjadikan semua peristiwa ini sebagai jalan bertambahnya iman dan takwa kepada Allah سبحانه وتعالى.
«رَبَّنَا لَا تُؤَاخِذْنَا إِنْ نَسِينَا أَوْ أَخْطَأْنَا»
“Ya Rabb kami, janganlah Engkau hukum kami jika kami lupa atau kami bersalah.” (QS. Al-Baqarah: 286)
Wallāhu a‘lam bish-shawāb.
Syekh Sofyan Siroj Abdul Wahab.



