KABARLAH.COM – Allah ﷻ berfirman:
وَالَّذِيْنَ جَاهَدُوْا فِيْنَا لَنَهْدِيَنَّهُمْ سُبُلَنَاۗ وَاِنَّ اللّٰهَ لَمَعَ الْمُحْسِنِيْنَ
“Orang-orang yang bersungguh-sungguh untuk mencari keridaan Kami, benar-benar akan Kami tunjukkan kepada mereka jalan-jalan Kami. Sesungguhnya Allah benar-benar bersama orang-orang yang berbuat ihsan.” QS. Al-‘Ankabūt: 69.
Jihad dalam ayat ini berarti mengerahkan kesungguhan untuk menaklukkan segala penghalang menuju keridaan Allah. Medannya luas: hawa nafsu, kemalasan, kebodohan, ketakutan, dosa, ketidakjujuran, keputusasaan, dan berbagai tekanan kehidupan.
Allah tidak menjanjikan bahwa seluruh jalan akan terlihat sebelum kita melangkah. Sebagian petunjuk justru dibukakan setelah seseorang mulai berusaha. Ilmu yang diamalkan melahirkan pemahaman baru. Ketaatan yang dijaga membuka kekuatan baru. Kesabaran yang dipertahankan menghadirkan jalan keluar yang tidak disangka.
Allah ﷻ berfirman:
وَمَنْ جَاهَدَ فَاِنَّمَا يُجَاهِدُ لِنَفْسِهٖ
“Barang siapa berjihad, sesungguhnya jihadnya itu untuk dirinya sendiri.” QS. Al-‘Ankabūt: 6.
Allah tidak membutuhkan perjuangan manusia. Manusialah yang membutuhkan mujahadah agar terbebas dari perbudakan hawa nafsu.
Rasulullah ﷺ bersabda:
اَلْمُجَاهِدُ مَنْ جَاهَدَ نَفْسَهُ فِي طَاعَةِ اللّٰهِ
“Seorang mujahid adalah orang yang bersungguh-sungguh melawan dirinya dalam ketaatan kepada Allah.” HR. at-Tirmiżī, hadis hasan sahih.
Karena itu, mulailah dari medan terdekat: luruskan niat, jaga salat, lawan kebiasaan buruk, tuntut ilmu, cari rezeki halal, tunaikan amanah, didik keluarga, dan berikan manfaat kepada sesama.
Jihad yang benar tidak melahirkan kekasaran dan kesombongan, tetapi ihsan, kedisiplinan, kasih sayang, dan keberanian moral.
Siapa yang bersungguh-sungguh mencari keridaan Allah, Dia akan membukakan jalan, menguatkan langkah, dan menyertainya dengan pertolongan-Nya.



