KABARLAH.COM – Allah ﷻ berfirman:
اِنَّهٗ مَنْ يَّتَّقِ وَيَصْبِرْ فَاِنَّ اللّٰهَ لَا يُضِيْعُ اَجْرَ الْمُحْسِنِيْنَ
“Sesungguhnya siapa yang bertakwa dan bersabar, maka sesungguhnya Allah tidak menyia-nyiakan pahala orang-orang yang berbuat baik.” QS. Yūsuf: 90.
Kisah Nabi Yusuf عليه السلام mengajarkan bahwa keselamatan hidup tidak hanya ditentukan oleh kecerdasan, kekuatan, atau kedudukan, tetapi oleh takwa dan sabar.
Takwa menjaga arah, sedangkan sabar menjaga langkah. Takwa menahan manusia dari dosa ketika kesempatan terbuka. Sabar membuatnya tetap teguh ketika ujian terasa panjang. Nabi Yusuf memilih berkata:
مَعَاذَ اللّٰهِ
“Aku berlindung kepada Allah.” QS. Yūsuf: 23.
Ia lebih memilih penjara daripada kebebasan yang dibangun di atas maksiat. Ia juga bersabar ketika dibuang ke sumur, dijual sebagai budak, difitnah, dipenjara, dan dipisahkan dari keluarganya. Namun semua itu tidak merusak iman dan akhlaknya.
Allah ﷻ berfirman:
اِنَّ اللّٰهَ مَعَ الصّٰبِرِيْنَ
“Sesungguhnya Allah bersama orang-orang yang sabar.” QS. Al-Baqarah: 153.
Rasulullah ﷺ bersabda:
وَالصَّبْرُ ضِيَاءٌ
“Kesabaran adalah cahaya.” HR. Muslim.
Sabar tidak selalu segera mengubah keadaan, tetapi memberi cahaya agar manusia tidak kehilangan arah di tengah gelapnya ujian. Takwa pun tidak selalu membuat jalan menjadi mudah, tetapi menjaganya tetap benar.
Karena itu, ketika godaan datang, jagalah takwa. Ketika ujian memanjang, jagalah sabar. Ketika pertolongan tiba, jangan melupakan Allah. Ketika memiliki kekuasaan, jangan membalas dengan kezaliman.
Sumur tidak mematikan harapan Nabi Yusuf. Penjara tidak memenjarakan imannya. Kekuasaan tidak merusak akhlaknya.
Barang siapa bertakwa dan bersabar, Allah tidak akan menyia-nyiakan ketaatan, air mata, dan perjuangannya.
Syekh Sofyan Siroj Abdul Wahab.



