KABARLAH.COM – Allah ﷻ berfirman:
يٰٓاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوا اتَّقُوا اللّٰهَ وَكُوْنُوْا مَعَ الصّٰدِقِيْنَ
“Wahai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah dan tetaplah bersama orang-orang yang benar.” QS. At-Taubah: 119.
Kejujuran bukan sekadar berkata sesuai kenyataan. Kejujuran adalah kesatuan antara hati, ucapan, dan perbuatan. Orang yang jujur tidak hidup dengan dua wajah: tampak baik di hadapan manusia, tetapi berbeda ketika sendirian.
Ayat ini berkaitan erat dengan kisah Ka‘ab bin Mālik dan dua sahabat lainnya yang tidak ikut Perang Tabuk. Mereka memilih mengakui kesalahan daripada menyelamatkan diri dengan alasan palsu.
Kejujuran membuat hidup mereka terasa sempit selama lima puluh malam, tetapi akhirnya Allah menerima tobat mereka. Kebohongan mungkin memberi kenyamanan sesaat, sedangkan kejujuran menghadirkan keselamatan yang abadi.
Allah ﷻ berfirman:
هٰذَا يَوْمُ يَنْفَعُ الصّٰدِقِيْنَ صِدْقُهُمْ
“Inilah hari ketika kejujuran orang-orang yang benar bermanfaat bagi mereka.” QS. Al-Mā’idah: 119.
Rasulullah ﷺ bersabda:
عَلَيْكُمْ بِالصِّدْقِ فَإِنَّ الصِّدْقَ يَهْدِي إِلَى الْبِرِّ وَإِنَّ الْبِرَّ يَهْدِي إِلَى الْجَنَّةِ
“Hendaklah kalian berlaku jujur, karena kejujuran menuntun kepada kebajikan, dan kebajikan menuntun menuju surga.” HR. al-Bukhārī dan Muslim.
Karena itu, pilihlah lingkungan yang menjaga kejujuran. Bersama orang-orang jujur, kita belajar menepati janji, menjaga amanah, berani mengakui kesalahan, dan menerima nasihat.
Jangan takut kehilangan penghormatan manusia karena berkata benar. Takutlah kehilangan keridaan Allah karena berdusta.
Bergabunglah dengan kafilah orang-orang yang jujur. Sebab perjalanan menuju Allah terlalu mulia untuk ditempuh dengan kepalsuan.
Syekh Sofyan Siroj Abdul Wahab



