KABARLAH.COM – Allah ﷻ berfirman:
وَلَا يَحِيْقُ الْمَكْرُ السَّيِّئُ اِلَّا بِاَهْلِهٖ
“Rencana jahat itu tidak akan menimpa selain orang yang merencanakannya sendiri.” QS. Fāṭir: 43.
Ayat ini menegaskan sebuah sunnatullah dalam kehidupan: kejahatan membawa benih kehancurannya sendiri. Fitnah mungkin sempat dipercaya, kebohongan mungkin memberi keuntungan, dan pengkhianatan mungkin tampak berhasil. Namun semua itu menyimpan akibat buruk yang pada akhirnya kembali kepada pelakunya.
Orang yang berdusta harus menciptakan dusta baru untuk menutupi dusta sebelumnya. Orang yang menipu hidup dalam ketakutan akan terbongkar. Orang yang memfitnah perlahan kehilangan kepercayaan dan kehormatan. Kemenangan yang diperoleh melalui kezaliman hanyalah kekalahan yang ditunda.
Allah ﷻ berfirman:
وَمَكَرُوْا وَمَكَرَ اللّٰهُۗ وَاللّٰهُ خَيْرُ الْمٰكِرِيْنَ
“Mereka membuat tipu daya dan Allah membalas tipu daya itu. Allah adalah sebaik-baik pembalas tipu daya.” QS. Āli ‘Imrān: 54.
Maksudnya, Allah menggagalkan rencana jahat mereka dan mengembalikan akibatnya dengan keadilan-Nya.
Rasulullah ﷺ bersabda:
مَنْ غَشَّنَا فَلَيْسَ مِنَّا
“Barang siapa menipu kami, maka ia bukan termasuk golongan kami.” HR. Muslim.
Karena itu, jangan membangun keberhasilan di atas manipulasi, fitnah, atau pengkhianatan. Ketika dizalimi, tempuhlah jalan yang benar: kumpulkan bukti, cari keadilan, berdoa, dan bersabar. Jangan membalas keburukan dengan keburukan yang sama.
Allah mengetahui semua rencana yang disembunyikan. Dia dapat menangguhkan hukuman, tetapi tidak pernah lalai. Maka bersihkanlah hati dari dengki dan dendam. Sebab orang yang merancang kehancuran orang lain sesungguhnya sedang menggali kehancuran bagi dirinya sendiri.
Syekh Sofyan Siroj Abdul Wahab.



