KABARLAH.COM – Allah ﷻ berfirman:
قُلْ لَّا يَسْتَوِى الْخَبِيْثُ وَالطَّيِّبُ وَلَوْ اَعْجَبَكَ كَثْرَةُ الْخَبِيْثِ
“Katakanlah, tidaklah sama yang buruk dengan yang baik, meskipun banyaknya yang buruk itu menarik hatimu.” QS. Al-Mā’idah: 100.
Ayat ini mengajarkan bahwa kebenaran tidak ditentukan oleh banyaknya jumlah, popularitas, atau keuntungan. Keburukan tetaplah buruk meskipun dilakukan banyak orang. Kebaikan tetaplah mulia meskipun hanya sedikit yang memilihnya.
Harta haram tidak sama dengan harta halal, walaupun jumlahnya lebih besar. Kebohongan tidak sama dengan kejujuran, meskipun dusta memberi keuntungan lebih cepat. Jalan yang kotor tidak sama dengan jalan yang bersih, meskipun tampak lebih mudah.
Allah ﷻ berfirman:
وَاِنْ تُطِعْ اَكْثَرَ مَنْ فِى الْاَرْضِ يُضِلُّوْكَ عَنْ سَبِيْلِ اللّٰهِ
“Jika engkau mengikuti kebanyakan orang di bumi, niscaya mereka akan menyesatkanmu dari jalan Allah.” QS. Al-An‘ām: 116.
Ayat ini bukan perintah meremehkan orang banyak, tetapi peringatan agar kebenaran tetap diukur dengan wahyu, bukan sekadar suara mayoritas.
Rasulullah ﷺ bersabda:
إِنَّ الْحَلَالَ بَيِّنٌ وَإِنَّ الْحَرَامَ بَيِّنٌ، وَبَيْنَهُمَا أُمُوْرٌ مُشْتَبِهَاتٌ
“Sesungguhnya yang halal itu jelas dan yang haram itu jelas. Di antara keduanya terdapat perkara-perkara yang samar.” HR. al-Bukhari dan Muslim.
Karena itu, seorang mukmin tidak hanya menjauhi yang jelas haram, tetapi juga berhati-hati terhadap perkara syubhat demi menjaga agama dan kehormatannya.
Pilihlah sedikit yang halal daripada banyak yang haram. Pilihlah kebenaran meskipun sepi, dan jalan yang bersih meskipun lebih panjang. Sebab yang banyak belum tentu membawa keberkahan, sedangkan yang sedikit dapat menjadi besar apabila diridai Allah.
Syekh Sofyan Siroj Abdul Wahab.



