KABARLAH.COM – Allah ﷻ berfirman:
وَالْعَاقِبَةُ لِلْمُتَّقِيْنَ
“Kesudahan yang baik adalah bagi orang-orang yang bertakwa.” QS. Al-Qaṣaṣ: 83.
Ayat ini hadir setelah kisah Qarun, seorang yang diberi kekayaan besar, tetapi gagal menjaga kehambaan. Hartanya membuat ia merasa tinggi, mandiri, dan lebih mulia daripada orang lain. Karena kesombongan itu, nikmat berubah menjadi jalan kehancuran.
Allah menjelaskan bahwa negeri akhirat disediakan bagi orang-orang yang tidak menghendaki kesombongan dan kerusakan di bumi:
لَا يُرِيْدُوْنَ عُلُوًّا فِى الْاَرْضِ وَلَا فَسَادًا
“Mereka tidak menghendaki ketinggian di bumi dan tidak pula berbuat kerusakan.”
Kesombongan bukan hanya memakai pakaian mewah atau memiliki jabatan tinggi. Ia dapat bersembunyi dalam ilmu, ibadah, gelar, kekayaan, dan keinginan untuk selalu dipuji. Rasulullah ﷺ bersabda:
اَلْكِبْرُ بَطَرُ الْحَقِّ وَغَمْطُ النَّاسِ
“Kesombongan adalah menolak kebenaran dan merendahkan manusia.” HR. Muslim.
Karena itu, orang bertakwa tidak menjadikan kelebihan sebagai alasan untuk merendahkan. Harta digunakan untuk menolong, ilmu untuk membimbing, dan kedudukan untuk melayani.
Allah ﷻ juga berfirman:
فَاصْبِرْ اِنَّ الْعَاقِبَةَ لِلْمُتَّقِيْنَ
“Bersabarlah! Sesungguhnya kesudahan yang baik adalah bagi orang-orang yang bertakwa.” QS. Hūd: 49.
Takwa tidak selalu membuat perjalanan hidup mudah. Orang bertakwa dapat diuji, difitnah, atau tampak kalah. Namun kemenangan sejati bukan sekadar keberhasilan dunia, melainkan iman yang terjaga, amal yang diterima, dan akhir kehidupan dalam ketaatan.
Maka, jangan mencari ketinggian dengan merendahkan orang lain. Gunakan setiap nikmat untuk mendekat kepada Allah. Kesudahan terbaik bukan milik orang yang paling terkenal, tetapi milik orang yang paling bertakwa.
Syekh Sofyan Siroj Abdul Wahab.



