KABARLAH.COM – Dari Kuasa yang sementara menuju kehambaan yang abadi. Ada satu kekeliruan halus yang sering menyusup ke dalam kesadaran manusia ketika ia memperoleh kedudukan: mengira bahwa sesuatu yang sedang berada dalam genggamannya adalah miliknya.
Padahal hampir semua yang kita sebut “milik” sesungguhnya hanyalah titipan yang memiliki batas waktu. Harta berpindah tangan. Kesehatan berubah. Popularitas memudar. Kekuatan melemah. Jabatan berakhir. Bahkan tubuh yang kita gunakan setiap hari akhirnya harus kita tinggalkan.
Karena itu Al-Qur’an mendidik manusia agar tidak berhenti melihat realitas pada permukaannya. Di balik keputusan manusia, mekanisme organisasi, kompetisi, kemampuan dan berbagai sebab duniawi, ada satu hakikat yang tidak boleh hilang dari kesadaran seorang mukmin:
قُلِ اللَّهُمَّ مَالِكَ الْمُلْكِ تُؤْتِي الْمُلْكَ مَنْ تَشَاءُ وَتَنْزِعُ الْمُلْكَ مِمَّنْ تَشَاءُ
“Katakanlah, ‘Ya Allah, Pemilik segala kerajaan. Engkau memberikan kekuasaan kepada siapa yang Engkau kehendaki dan Engkau mencabut kekuasaan dari siapa yang Engkau kehendaki.’”
QS Āli ‘Imrān: 26
Ayat ini bukan mengajarkan fatalisme. Ia tidak memerintahkan manusia berhenti berusaha, meninggalkan profesionalitas, atau mengabaikan sebab-sebab rasional. Justru Islam memerintahkan ikhtiar yang sempurna. Tetapi setelah seluruh sebab dikerjakan, hati tetap mengetahui bahwa sebab bukanlah Tuhan.
Manusia berusaha; Allah menentukan.
Manusia mengangkat; Allah mengizinkan.
Manusia menurunkan; Allah mengetahui hikmahnya.
Maka jabatan bukanlah identitas terakhir manusia. Ia hanyalah ruang pengabdian sementara.
Ketika jabatan masuk ke dalam hati
Ada perbedaan besar antara seseorang yang memegang jabatan dan seseorang yang dipegang oleh jabatan.
Yang pertama menjadikan kedudukan sebagai alat untuk berkhidmat. Yang kedua menjadikan kedudukan sebagai sumber harga dirinya.
Pada mulanya seseorang berkata:
“Saya sedang menjabat sebagai…”
Namun perlahan-lahan bisa muncul perasaan:
“Sayalah jabatan itu.”
Di sinilah masalah bermula.
Ketika identitas seseorang terlalu melekat kepada kursinya, berakhirnya jabatan terasa seperti berakhirnya dirinya. Kehilangan posisi dianggap kehilangan kehormatan. Tidak lagi dipanggil dengan gelar tertentu terasa seperti penurunan martabat.
Padahal sebelum seseorang menjadi menteri, direktur, gubernur, rektor, ketua, kepala lembaga atau pemimpin organisasi, ia terlebih dahulu adalah:
عَبْدُ اللَّهِ — hamba Allah.
Dan ketika seluruh gelar dunia itu dilepaskan, identitas tersebut tetap ada.
Jabatan bisa berakhir.
Tetapi kehambaan tidak pernah pensiun.
Di sinilah tauhid membebaskan manusia dari ketergantungan kepada simbol-simbol kebesaran dunia.
Dari kepemilikan menuju amanah
Al-Qur’an memperkenalkan sebuah cara pandang yang sangat penting:
وَأَنْفِقُوا مِمَّا جَعَلَكُمْ مُسْتَخْلَفِينَ فِيهِ
“…dan infakkanlah sebagian dari apa yang Dia telah menjadikan kamu sebagai pemegang amanah atasnya.”
QS Al-Ḥadīd: 7
Kata mustakhlafīn mengandung kesadaran bahwa manusia bukan pemilik absolut. Ia menerima sesuatu, menggunakannya untuk suatu masa, lalu meninggalkannya.
Prinsip itu berlaku pada harta, ilmu, popularitas, jaringan, pengaruh dan kekuasaan.
Hari ini seseorang menandatangani keputusan.
Besok mungkin namanya berada di dalam keputusan yang ditandatangani orang lain.
Hari ini orang menunggu arahannya.
Besok ia mungkin menunggu keputusan penerusnya.
Hari ini ia berada di tengah sorotan.
Beberapa tahun kemudian namanya mungkin hanya tersisa dalam arsip.
Begitulah dunia.
Maka orang bijak tidak menghabiskan seluruh energinya untuk mempertahankan kursi. Ia menggunakan kursi itu untuk meninggalkan manfaat.
Bukan “berapa lama?”, tetapi “apa yang ditinggalkan?”
Pertanyaan seorang pemimpin seharusnya tidak berhenti pada:
“Berapa lama saya akan berada di sini?”
Pertanyaan yang lebih bermakna adalah:
“Apa yang masih hidup ketika saya tidak lagi berada di sini?”
Apakah sistem menjadi lebih baik?
Apakah orang-orang yang dibina menjadi lebih matang?
Apakah lembaga menjadi lebih kuat?
Apakah generasi penerus telah disiapkan?
Apakah masyarakat mendapatkan manfaat?
Apakah ada ilmu yang diwariskan?
Apakah ada keputusan adil yang terus dirasakan setelah dirinya pergi?
Di sinilah perbedaan antara legacy dan position.
Position berakhir ketika surat keputusan berakhir.
Tetapi legacy dapat hidup melampaui umur manusia.
Karena itu seorang pemimpin yang memiliki kesadaran akhirat tidak terlalu sibuk mengabadikan namanya. Ia lebih sibuk mengabadikan manfaatnya.
Nama pada papan jabatan akan diganti.
Tetapi manfaat yang ikhlas dapat terus dicatat sebagai amal.
Jangan mabuk ketika naik, jangan hancur ketika turun
Allah berfirman:
تِلْكَ الدَّارُ الْآخِرَةُ نَجْعَلُهَا لِلَّذِينَ لَا يُرِيدُونَ عُلُوًّا فِي الْأَرْضِ وَلَا فَسَادًا
“Negeri akhirat itu Kami jadikan bagi orang-orang yang tidak menghendaki kesombongan di bumi dan tidak pula kerusakan.”
QS Al-Qaṣaṣ: 83
Yang menarik, Al-Qur’an tidak hanya memperingatkan tentang fasād—kerusakan—tetapi juga ‘uluww, keinginan meninggikan diri di hadapan manusia.
Karena salah satu ujian terbesar kekuasaan bukan hanya kemungkinan berbuat zalim, tetapi munculnya perasaan:
“Aku lebih tinggi daripada yang lain.”
Padahal semakin tinggi suatu kedudukan, semestinya semakin besar pula rasa takut terhadap pertanggungjawaban.
Maka ketika diangkat, bersyukurlah tanpa mabuk.
Ketika dihormati, bertawadhu’lah tanpa berpura-pura rendah.
Ketika diganti, terimalah tanpa kehilangan harga diri.
Dan ketika orang lain kehilangan jabatan, jangan bergembira melihat kejatuhannya.
Allah mengingatkan:
وَتِلْكَ الْأَيَّامُ نُدَاوِلُهَا بَيْنَ النَّاسِ
“Dan hari-hari itu Kami pergilirkan di antara manusia.” QS Āli ‘Imrān: 140
Hari ini kita memimpin.
Besok kita dipimpin.
Hari ini kita diundang ke barisan depan.
Besok mungkin tidak lagi.
Pergiliran adalah sunnatullah.
Yang tidak boleh ikut berganti adalah integritas kita di hadapan Allah.
Kesadaran “hari terakhir”
Ada sebuah latihan batin yang sangat penting bagi siapa pun yang memegang amanah:
“Bagaimana jika hari ini adalah hari terakhir saya berada pada posisi ini?”
Apakah ada amanah yang sengaja ditunda?
Apakah ada hak orang lain yang belum ditunaikan?
Apakah ada keputusan yang seharusnya diselesaikan tetapi terus ditangguhkan?
Apakah ada orang yang pernah dizalimi oleh kewenangan kita?
Kesadaran seperti ini bukan pesimisme.
Justru ia melahirkan produktivitas.
Sebab orang yang menyadari keterbatasan waktu tidak mudah menyia-nyiakan kekuasaan untuk perkara remeh.
Ia memahami bahwa jabatan mempunyai “ajal”.
Sebagaimana manusia mempunyai ajal.
Dari syariat menuju makrifat
Jika direnungkan lebih dalam, persoalan kekuasaan dapat dibaca melalui empat lapisan perjalanan ruhani.
Syariat: jabatan adalah amanah yang wajib dijalankan dengan adil, profesional, jujur dan bertanggung jawab.
Tarekat: hati dilatih agar tidak ujub ketika diangkat dan tidak hancur ketika diturunkan.
Hakikat: manusia menyadari bahwa kekuasaan sejati tidak pernah berpindah dari Allah. Manusia hanyalah pemegang amanah dalam batas ruang dan waktu.
Makrifat: ketika pintu terbuka, ia melihat karunia Allah; ketika pintu tertutup, ia tetap melihat hikmah Allah.
Pada tingkat ini seseorang tidak lagi berkata:
“Mengapa kursi itu diambil dariku?”
Tetapi ia bertanya:
“Apa yang Allah kehendaki agar aku pelajari setelah amanah ini selesai?”
Inilah kemerdekaan batin.
Memegang kekuasaan tanpa diperbudak kekuasaan.
Mempunyai kedudukan tanpa menggantungkan kemuliaan kepadanya.
Berpengaruh tanpa merasa menjadi sumber segala pengaruh.
Karena itu, seorang mukmin boleh memiliki dunia di tangannya, tetapi jangan membiarkan dunia menguasai hatinya.
Dan akhirnya, satu kalimat ini layak kita simpan:
Jangan mencari keabadian pada sesuatu yang diciptakan untuk berganti. Carilah keabadian pada amal yang dibawa menghadap Allah.
Maka ketika Allah memberi kedudukan, gunakanlah untuk berkhidmat.
Ketika Allah menambah pengaruh, gunakanlah untuk menebar manfaat.
Dan ketika tiba waktunya menyerahkan kembali amanah, serahkanlah dengan hati yang lapang.
Sebab kursi memang berpindah.
Nama memang berganti.
Tetapi yang akhirnya menentukan kemuliaan manusia bukan seberapa tinggi ia pernah duduk, melainkan seberapa jujur ia menunaikan amanah ketika Allah memberinya kesempatan untuk duduk di sana.
اللَّهُمَّ لَا تَجْعَلِ الْمَنْصِبَ فِي قُلُوبِنَا، وَاجْعَلْهُ أَمَانَةً فِي أَيْدِينَا، وَأَعِنَّا عَلَى أَدَائِهَا، وَارْزُقْنَا الرِّضَا إِذَا انْتَهَى أَجَلُهَا
“Ya Allah, jangan Engkau jadikan jabatan bersemayam dalam hati kami. Jadikanlah ia amanah di tangan kami. Tolonglah kami menunaikannya, dan karuniakan kepada kami keridaan ketika masanya berakhir.”
Syekh Sofyan Siroj Abdul Wahab.



