KABARLAH.COM – Allah ﷻ berfirman:
وَلَا تَزِرُ وَازِرَةٌ وِّزْرَ اُخْرٰى
“Tidaklah seseorang yang memikul dosa akan memikul dosa orang lain.” QS. Az-Zumar: 7.
Ayat ini menegaskan keadilan Allah sekaligus tanggung jawab pribadi manusia. Setiap orang akan dimintai pertanggungjawaban atas pilihan, niat, ucapan, dan perbuatannya sendiri. Anak tidak memikul dosa orang tua, orang tua tidak memikul dosa anak, dan seseorang tidak menjadi bersalah hanya karena berasal dari keluarga atau lingkungan tertentu.
Allah ﷻ berfirman:
وَاَنْ لَّيْسَ لِلْاِنْسَانِ اِلَّا مَا سَعٰى
“Bahwa manusia hanya memperoleh apa yang telah diusahakannya.” QS. An-Najm: 39.
Karena itu, jangan terus-menerus menyalahkan masa lalu, keluarga, lingkungan, atau keadaan atas seluruh keburukan diri. Semua itu memang dapat memengaruhi, tetapi manusia tetap mempunyai ruang untuk memilih, bertobat, dan memperbaiki jalan hidupnya.
Rasulullah ﷺ bersabda:
إِنَّمَا الْأَعْمَالُ بِالنِّيَّاتِ
“Sesungguhnya amal-amal itu bergantung pada niat.” HR. al-Bukhari dan Muslim.
Namun, tanggung jawab pribadi bukan berarti manusia boleh mengabaikan pengaruhnya terhadap orang lain. Siapa yang menunjukkan jalan keburukan, ia turut memikul dosa karena menjadi sebab orang lain mengikutinya.
Rasulullah ﷺ bersabda:
وَمَنْ سَنَّ فِي الْإِسْلَامِ سُنَّةً سَيِّئَةً كَانَ عَلَيْهِ وِزْرُهَا وَوِزْرُ مَنْ عَمِلَ بِهَا
“Siapa yang memulai dalam Islam suatu jalan keburukan, ia menanggung dosanya dan dosa orang yang mengamalkannya.” HR. Muslim.
Maka, jangan mencari kambing hitam. Beranilah mengakui kesalahan, bertobat dengan sungguh-sungguh, dan memperbaiki pilihan. Jagalah pula ucapan, teladan, dan pengaruh kita agar tidak menjadi jalan dosa bagi orang lain.
Semoga Allah menjadikan kita hamba yang jujur menilai diri, bertanggung jawab atas amal, dan kembali kepada-Nya dengan hati yang bersih.
Syekh Sofyan Siroj Abdul Wahab.



