KABARLAH.COM – Allah ﷻ berfirman:
وَلَا تَنْسَوُا الْفَضْلَ بَيْنَكُمْ
“Janganlah kamu melupakan kebaikan di antara kamu.” QS. Al-Baqarah: 237.
Ayat ini mengajarkan bahwa berakhirnya sebuah hubungan tidak boleh menghapus seluruh sejarah kebaikan. Ketika muncul luka, manusia sering hanya mengingat kesalahan terakhir dan melupakan pengorbanan, pertolongan, serta kasih sayang yang pernah diberikan.
Al-Qur’an mendidik kita agar tetap adil. Kesalahan harus diakui, kezaliman harus dihentikan, dan hak wajib ditunaikan. Namun kekecewaan tidak membenarkan kita mengingkari semua jasa orang lain.
Allah ﷻ juga berfirman:
وَاَنْ تَعْفُوْٓا اَقْرَبُ لِلتَّقْوٰى
“Pemaafanmu itu lebih dekat kepada ketakwaan.”
QS. Al-Baqarah: 237.
Memaafkan bukan berarti membenarkan kezaliman atau kembali kepada hubungan yang membahayakan. Memaafkan berarti tidak membiarkan kebencian menguasai hati dan mendorong kita melampaui batas keadilan.
Rasulullah ﷺ bersabda:
لَا يَفْرَكْ مُؤْمِنٌ مُؤْمِنَةً، إِنْ كَرِهَ مِنْهَا خُلُقًا رَضِيَ مِنْهَا آخَرَ
“Janganlah seorang Mukmin membenci seorang Mukminah secara keseluruhan. Jika ia tidak menyukai satu akhlaknya, niscaya ia menyukai akhlaknya yang lain.” HR. Muslim.
Hadis ini mengajarkan agar manusia tidak dinilai hanya dari satu kekurangannya. Setiap orang memiliki sisi yang perlu diperbaiki dan sisi yang patut dihargai.
Tidak semua hubungan harus dipertahankan, tetapi setiap perpisahan harus diselesaikan dengan akhlak. Tunaikan hak, jagalah kehormatan, tahan lisan dari membuka aib, dan jangan menghapus semua kebaikan hanya karena satu luka.
Orang beriman bukan hanya baik ketika mencintai. Ia tetap adil ketika kecewa, tetap santun ketika berpisah, dan tetap mengenang kebaikan meskipun kebersamaan telah berakhir.
Syekh Sofyan Siroj Abdul Wahab.



