KABARLAH.COM – Ungkapan tentang “pertempuran global di balik layar” mengajarkan bahwa realitas dunia tidak selalu tampak sebagaimana adanya. Ada kepentingan, sistem, dan kekuatan yang saling tarik-menarik, baik dalam sektor energi, ekonomi, maupun struktur keuangan seperti asuransi.
Namun, bagi seorang mukmin, semua itu bukan sekadar dinamika dunia—melainkan bagian dari ujian Allah ﷻ.
Allah berfirman:
“Dan demikianlah Kami jadikan sebagian kamu sebagai cobaan bagi sebagian yang lain. Maukah kamu bersabar?” (QS. Al-Furqan: 20)
Ayat ini menegaskan bahwa konflik, dominasi, dan perebutan pengaruh adalah bagian dari sunnatullah untuk menguji keimanan. Dunia bukan tempat keadilan sempurna, melainkan ladang ujian untuk melihat siapa yang tetap teguh di atas kebenaran.
Ketika dunia tampak “kacau” oleh ambisi kekuatan besar, seorang mukmin tidak larut dalam ketakutan. Rasulullah ﷺ telah mengingatkan:
“Sungguh menakjubkan urusan seorang mukmin; seluruh urusannya adalah baik baginya…” (HR. Muslim)
Artinya, bahkan dalam kondisi global yang tidak stabil, orang beriman tetap memiliki sikap positif: bersyukur saat lapang, bersabar saat sempit.
Adapun kekhawatiran terhadap “kegilaan kekuatan dunia,” Islam mengajarkan bahwa kekuasaan sejati tetap milik Allah. Firman-Nya:
“Katakanlah: Wahai Tuhan Pemilik kerajaan, Engkau berikan kerajaan kepada siapa yang Engkau kehendaki dan Engkau cabut dari siapa yang Engkau kehendaki.” (QS. Ali ‘Imran: 26)
Hikmahnya, kita tidak boleh terpesona atau gentar terhadap kekuatan dunia. Tugas kita adalah memperbaiki diri, menjaga iman, dan membangun ketahanan umat dengan nilai-nilai kebenaran.
Dunia boleh dipenuhi intrik dan persaingan tersembunyi, namun hati yang terikat kepada Allah akan tetap tenang. Sebab ia yakin: di balik semua skenario manusia, ada rencana Allah yang Maha Adil, dan pada akhirnya, kebenaranlah yang akan menang.
Syekh Sofyan Siroj aabdul Wahab.



