KABARLAH.COM – Bismillahirraḥmanirraḥim. Meninggalkan kesenangan hidup bukan berarti membenci dunia, menolak rezeki, atau mengharamkan nikmat yang Allah halalkan. Hakikatnya adalah membebaskan hati dari perbudakan dunia.
Seorang hamba boleh memiliki harta, rumah, makanan yang baik, pakaian yang layak, keluarga yang dicintai, dan pekerjaan yang mulia, tetapi semua itu tidak boleh menjadi tuhan kecil dalam hatinya.
Allah berfirman:
لِكَيْلَا تَأْسَوْا عَلَىٰ مَا فَاتَكُمْ وَلَا تَفْرَحُوا بِمَا آتَاكُمْ
“Agar kamu tidak terlalu bersedih atas apa yang luput darimu dan tidak terlalu bangga atas apa yang diberikan kepadamu.”
QS. Al-Ḥadīd: 23.
Inilah tanda hati yang merdeka: tidak hancur ketika kehilangan, dan tidak sombong ketika mendapatkan. Dunia berada di tangan, bukan di hati. Nikmat dipakai untuk taat, bukan untuk lalai.
Dalam ruh Futūḥ al-Ghaib, Syekh Abdul Qadir al-Jailani رحمه الله mengajarkan bahwa kesenangan hidup harus dididik, bukan disembah. Yang haram wajib ditinggalkan. Yang mubah tidak boleh berlebihan. Yang halal harus disyukuri. Sebab bila nafsu selalu dimanja, hati menjadi keras, ibadah terasa berat, dan akhirat terasa jauh.
Allah berfirman:
وَكُلُوا وَاشْرَبُوا وَلَا تُسْرِفُوا
“Makan dan minumlah, tetapi jangan berlebihan.”
QS. Al-A‘rāf: 31
Rasulullah ﷺ bersabda:
حُفَّتِ الْجَنَّةُ بِالْمَكَارِهِ وَحُفَّتِ النَّارُ بِالشَّهَوَاتِ
“Surga dikelilingi oleh hal-hal yang tidak disukai nafsu, dan neraka dikelilingi oleh syahwat.”
HR. Bukhari dan Muslim
Maka hikmahnya: zuhud bukan tidak memiliki apa-apa, tetapi tidak dimiliki oleh apa pun selain Allah. Sederhana tanpa merasa suci, kaya tanpa sombong, miskin tanpa iri, menikmati nikmat tanpa lupa kepada Pemberi Nikmat.
Rasulullah ﷺ bersabda:
لَيْسَ الْغِنَى عَنْ كَثْرَةِ الْعَرَضِ وَلَكِنَّ الْغِنَى غِنَى النَّفْسِ
“Kekayaan bukanlah banyaknya harta, tetapi kekayaan adalah kaya jiwa.”
HR. Bukhari dan Muslim
Syekh Sofyan Siroj Abdul Wahab.



