KABARLAH.COM – “Perjalanan seribu mil dimulai dengan satu langkah” adalah benar. Namun, sebagaimana dinasihatkan oleh As-Sayyid Sami Hasan Khadra, perjalanan menuju cita-cita besar tidak cukup dimulai dengan langkah biasa—ia harus diawali dengan perbaikan yang menyeluruh, kesungguhan yang total, dan komitmen yang tidak setengah hati.
Islam mengajarkan bahwa perubahan hakiki dimulai dari dalam diri, tetapi harus bersifat menyeluruh, bukan parsial.
Allah berfirman:
“Sesungguhnya Allah tidak akan mengubah keadaan suatu kaum sampai mereka mengubah apa yang ada pada diri mereka sendiri.” (QS. Ar-Ra’d: 11)
Ayat ini menunjukkan bahwa perubahan tidak cukup dengan niat atau langkah kecil, tetapi membutuhkan transformasi batin dan amal secara utuh.
Dalam ayat lain:
“Wahai orang-orang yang beriman, masuklah kamu ke dalam Islam secara keseluruhan (kaffah).” (QS. Al-Baqarah: 208)
Ini adalah perintah untuk tidak setengah-setengah dalam beragama—karena tujuan besar (ridha Allah, kejayaan umat, kemuliaan hidup) tidak bisa dicapai dengan komitmen yang lemah.
Rasulullah ﷺ bersabda:
“Sesungguhnya amal yang paling dicintai oleh Allah adalah yang paling kontinu meskipun sedikit.” (HR. Bukhari dan Muslim)
Hadits ini melengkapi makna: bukan hanya total di awal, tetapi juga istiqamah dalam perjalanan.
Maka hikmah dari ungkapan ini adalah:
➡️ Langkah awal memang penting, tetapi harus dilandasi niat yang lurus dan tekad yang kuat
➡️ Perbaikan tidak boleh setengah—harus mencakup hati, amal, dan tujuan hidup
➡️ Cita-cita besar membutuhkan kesabaran, konsistensi, dan pengorbanan
Seorang hamba yang ingin dekat dengan Allah tidak cukup memperbaiki satu sisi saja, tetapi seluruh hidupnya diarahkan kepada-Nya.
Karena sejatinya, orang yang berhasil bukan hanya yang memulai perjalanan, tetapi yang memulai dengan kesungguhan—dan berjalan dengan istiqamah hingga mencapai tujuan.
Syekh Sofyan Siroj Abdul Wahab



