KABARLAH.COM – Tema ini mengandung hikmah besar dalam perjalanan iman: bahwa tuduhan dan fitnah bukanlah hal baru, melainkan sunnatullah yang senantiasa menyertai orang-orang beriman di setiap zaman, sebagaimana disampaikan oleh Sayyid Sami Hasan Khadra. Sejarah para nabi dan orang shalih penuh dengan ujian berupa tuduhan, bahkan terhadap para utusan Allah yang paling mulia.
Al-Qur’an menegaskan realitas ini:
“Demikianlah, tidaklah datang kepada orang-orang sebelum mereka seorang rasul pun melainkan mereka mengatakan: ‘Dia adalah seorang penyihir atau orang gila.’”
(QS. Adz-Dzariyat: 52)
Ini menunjukan bahwa fitnah adalah pola berulang dalam sejarah dakwah. Bahkan Rasulullah ﷺ pun dituduh sebagai penyihir, pendusta, dan orang gila. Maka jika orang beriman hari ini menghadapi hal serupa, itu bukan tanda kegagalan, tetapi justru jejak para nabi.
Allah juga memberi arahan sikap:
“Dan bersabarlah terhadap apa yang mereka katakan, dan jauhilah mereka dengan cara yang baik.”
(QS. Al-Muzzammil: 10)
Sabar bukan berarti lemah, tetapi kekuatan ruhani untuk tetap teguh tanpa terjerumus dalam keburukan yang sama. Dalam hadits shahih, Rasulullah ﷺ bersabda:
“Barang siapa beriman kepada Allah dan hari akhir, hendaklah ia berkata baik atau diam.” (HR. Bukhari dan Muslim)
Ini menjadi prinsip penting: tidak membalas fitnah dengan fitnah, tetapi dengan akhlak dan kebenaran.
Lebih dalam lagi, fitnah sering menjadi sebab diangkatnya derajat seorang hamba. Rasulullah ﷺ bersabda:
“Sesungguhnya besarnya pahala sebanding dengan besarnya ujian…” (HR. Tirmidzi)
Maka, tuduhan dan fitnah adalah ujian yang mengandung dua kemungkinan: melemahkan iman, atau justru menguatkan dan meninggikannya. Di sinilah letak hikmah: orang beriman tidak terjebak pada suara manusia, tetapi fokus pada penilaian Allah.
Akhirnya, sikap terbaik adalah tetap istiqamah, menjaga lisan, dan memperbaiki niat. Sebab kebenaran tidak selalu menang dengan cepat, tetapi pasti menang dengan izin Allah. Dan orang yang sabar dalam fitnah, sejatinya sedang berjalan di atas jalan para nabi dan orang-orang pilihan.
Syekh Sofyan Siroj Abdul Wahab.



