KABARLAH.COM – Tema ini menggugah kesadaran iman ketika umat bertanya: “Mengapa ini menimpa kita? Apa yang sedang terjadi? Mengapa mereka bersenang atas musibah kita?” Pertanyaan-pertanyaan ini bukan tanda lemahnya iman, tetapi justru pintu menuju pemahaman ruhani yang lebih dalam—sebagaimana ditegaskan oleh Sayyid Sami Hasan Khadra bahwa ini adalah pertanyaan yang wajar dalam perjalanan manusia menuju Allah.
Al-Qur’an telah lebih dahulu menjawabnya. Allah berfirman, artinya:
“Apakah kamu mengira bahwa kamu akan masuk surga, padahal belum datang kepadamu cobaan seperti orang-orang terdahulu sebelum kamu?”
(QS. Al-Baqarah: 214)
Ayat ini menegaskan bahwa ujian adalah sunnatullah bagi orang beriman. Musibah bukan tanda kebencian Allah, melainkan proses penyaringan iman dan pengangkatan derajat. Bahkan Allah juga berfirman, artinya
“Dan sungguh Kami akan menguji kamu dengan sedikit ketakutan, kelaparan, kekurangan harta, jiwa, dan buah-buahan…”
(QS. Al-Baqarah: 155)
Adapun tentang orang lain yang “bersenang” atas musibah kita, itu juga telah diisyaratkan dalam Al-Qur’an:
“Jika kamu mendapat kebaikan, mereka menjadi tidak senang; dan jika kamu ditimpa musibah, mereka bergembira karenanya…”
(QS. Ali ‘Imran: 120)
Namun, Rasulullah ﷺ memberikan kunci sikap yang benar. Dalam hadits shahih, beliau bersabda:
“Sungguh menakjubkan urusan orang beriman; semua urusannya baik baginya…” (HR. Muslim)
Jika mendapat nikmat ia bersyukur, jika tertimpa musibah ia bersabar—dan keduanya adalah kebaikan. Inilah jawaban sejati atas kegelisahan hati: bahwa semua yang terjadi berada dalam hikmah Allah.
Maka, daripada tenggelam dalam pertanyaan, seorang mukmin diarahkan untuk naik pada maqam ridha dan tawakkal. Ujian adalah undangan untuk kembali, musibah adalah panggilan untuk mendekat. Dan di balik setiap luka, Allah sedang menyiapkan kemuliaan yang tidak terlihat oleh mata, tetapi dirasakan oleh hati yang yakin.
Syekh Sofyan Siroj Abdul Wahab.



