KABARLAH.COM – “Jika Allah menghendaki suatu perkara, Dia mencabut (menghilangkan) akal manusia, lalu Dia melaksanakan keputusan-Nya dan sempurnalah kehendak-Nya. Maka ketika Dia telah melaksanakan perintah-Nya, dikembalikanlah akal kepada setiap orang yang berakal. Lalu mereka pun berkata: ‘Bagaimana ini bisa terjadi? Dari mana ini?’”( Sayyid Sami Hasan Khadhra’).
Ungkapan hikmah ini menyingkap satu hakikat besar: ketika Allah menakdirkan suatu perkara, maka keterbatasan akal manusia seringkali tidak mampu menembus hikmah di baliknya. Allah berfirman:
“Boleh jadi kamu membenci sesuatu, padahal ia baik bagimu; dan boleh jadi kamu menyukai sesuatu, padahal ia buruk bagimu. Allah mengetahui, sedangkan kamu tidak mengetahui.”
(QS. Al-Baqarah 2:216)
Ayat ini menegaskan bahwa ilmu Allah meliputi segala sesuatu, sementara akal manusia terbatas. Ketika kehendak Allah berlaku, manusia bisa berada dalam keadaan “tidak memahami” sejenak, hingga takdir itu selesai dijalankan.
Dalam ayat lain Allah menegaskan kekuasaan-Nya yang mutlak:
“Apabila Dia menghendaki sesuatu, Dia hanya berkata kepadanya: ‘Jadilah!’ maka jadilah ia.”
(QS. Yasin 36:82)
Adapun dalam hadits, Rasulullah ﷺ bersabda:
“Ketahuilah, jika seluruh umat berkumpul untuk memberi manfaat kepadamu, mereka tidak akan mampu kecuali dengan apa yang telah Allah tetapkan bagimu. Dan jika mereka berkumpul untuk mencelakakanmu, mereka tidak akan mampu kecuali dengan apa yang telah Allah tetapkan atasmu.”
(HR. Jami’ at-Tirmidzi)
Maka, saat suatu kejadian terasa di luar logika atau rencana manusia, itulah saat iman diuji: apakah kita bersandar pada akal semata atau tunduk pada kehendak Allah. Setelah takdir itu berjalan, barulah akal “kembali” dan manusia mulai merenung, mencoba memahami hikmah yang sebelumnya tersembunyi.
Inilah adab seorang mukmin: ridha terhadap qadha dan qadar, bersabar dalam ketidaktahuan, dan yakin bahwa setiap keputusan Allah pasti mengandung rahmat dan hikmah, meskipun belum tersingkap oleh akal.
Syekh Sofyan Siroj Abdul Wahab.



