KABARLAH.COM – Allah ﷻ berfirman:
وَمَا نُرْسِلُ بِالْاٰيٰتِ اِلَّا تَخْوِيْفًا
“Kami tidak mengirimkan tanda-tanda itu melainkan untuk memberi peringatan.” QS. Al-Isrā’: 59.
Tanda-tanda kekuasaan Allah bukan sekadar tontonan yang mengundang kekaguman. Ia adalah panggilan agar manusia sadar, bertobat, dan kembali kepada-Nya.
Kaum Ṡamūd telah menyaksikan unta Nabi Ṣāliḥ عليه السلام sebagai tanda yang nyata, tetapi mereka tetap mendustakan dan menzaliminya. Hal ini menunjukkan bahwa persoalan iman tidak selalu disebabkan oleh kurangnya bukti. Sering kali bukti telah terbentang, tetapi hati menolak untuk tunduk.
Allah ﷻ berfirman:
سَنُرِيْهِمْ اٰيٰتِنَا فِى الْاٰفَاقِ وَفِيْٓ اَنْفُسِهِمْ حَتّٰى يَتَبَيَّنَ لَهُمْ اَنَّهُ الْحَقُّ
“Kami akan memperlihatkan kepada mereka tanda-tanda Kami di seluruh penjuru dan pada diri mereka sendiri, hingga jelas bagi mereka bahwa Al-Qur’an itu benar.” QS. Fuṣṣilat: 53.
Langit, bumi, tubuh manusia, kesehatan, usia, nikmat, kehilangan, dan kematian adalah ayat-ayat yang terus berbicara. Namun mata yang melihat belum tentu disertai hati yang memahami.
Rasulullah ﷺ bersabda bahwa matahari dan bulan adalah dua tanda di antara tanda-tanda Allah. Keduanya tidak mengalami gerhana karena kematian atau kelahiran seseorang. Ketika gerhana terjadi, beliau memerintahkan umatnya untuk salat dan berdoa. HR. al-Bukhārī dan Muslim.
Ilmu menjelaskan bagaimana suatu peristiwa terjadi, sedangkan iman mengajarkan bagaimana manusia harus meresponsnya.
Karena itu, jangan menunggu mukjizat besar untuk berubah. Bacalah tanda-tanda Allah dengan akal yang jernih dan hati yang tunduk.
Setiap nikmat mengajak kepada syukur, setiap ujian mengajak kepada sabar, dan setiap peringatan mengajak kepada tobat.
Syekh Sofyan Siroj Abdul Wahab.



