KABARLAH.COM – Allah ﷻ berfirman:
وَمَنْ اَضَلُّ مِمَّنِ اتَّبَعَ هَوٰىهُ بِغَيْرِ هُدًى مِّنَ اللّٰهِ
“Siapakah yang lebih sesat daripada orang yang mengikuti hawa nafsunya tanpa petunjuk dari Allah?” QS. Al-Qaṣaṣ: 50.
Hawa nafsu bukan sekadar keinginan makan, beristirahat, memiliki harta, atau memperoleh kesenangan. Ia menjadi berbahaya ketika dijadikan penentu benar dan salah. Saat hawa nafsu berkuasa, manusia tidak lagi mencari kebenaran, tetapi mencari pembenaran bagi keinginannya.
Allah ﷻ berfirman:
اَفَرَءَيْتَ مَنِ اتَّخَذَ اِلٰهَهٗ هَوٰىهُ
“Pernahkah engkau melihat orang yang menjadikan hawa nafsunya sebagai tuhannya?” QS. Al-Jāṡiyah: 23.
Seseorang mungkin tidak menyembah berhala, tetapi ia dapat menaati egonya seperti menaati tuhan. Ia mengetahui bahwa harus meminta maaf, tetapi gengsi menahannya. Ia tahu suatu harta haram, tetapi ketamakan membuatnya mencari alasan. Ia memahami kewajiban berlaku adil, tetapi kebencian menguasai keputusannya.
Karena itu, kekuatan sejati bukan kemampuan menaklukkan orang lain, melainkan kemampuan menguasai diri.
Rasulullah ﷺ bersabda:
لَيْسَ الشَّدِيْدُ بِالصُّرَعَةِ، إِنَّمَا الشَّدِيْدُ الَّذِيْ يَمْلِكُ نَفْسَهُ عِنْدَ الْغَضَبِ
“Orang kuat bukanlah yang pandai bergulat. Orang kuat ialah yang mampu menguasai dirinya ketika marah.” HR. al-Bukhari dan Muslim.
Maka, jangan menjadikan perasaan sebagai satu-satunya ukuran. Tidak semua yang menyenangkan itu baik, dan tidak semua yang berat itu buruk. Tundukkan keinginan kepada Al-Qur’an dan Sunnah. Biasakan bermusyawarah, meminta nasihat, beristikharah, serta melakukan muḥāsabah.
Kemerdekaan sejati bukan melakukan semua yang diinginkan, tetapi mampu menolak keinginan yang menjauhkan diri dari Allah.
Syekh Sofyan Siroj Abdul Wahab.



