BerandaInspirasiNasehatTadabbur: Tenang di Tengah Masalah

Tadabbur: Tenang di Tengah Masalah

spot_img

KABARLAH.COM – Ada kesalahpahaman yang cukup mendasar ketika manusia berbicara tentang ketenangan. Kita sering membayangkan bahwa orang yang tenang adalah orang yang tidak mempunyai persoalan, tidak sedang menghadapi tekanan, tidak dibebani konflik, dan hidupnya berjalan sesuai rencana.

Padahal kehidupan manusia hampir tidak pernah berada dalam keadaan seperti itu.

Ketenangan yang sesungguhnya bukanlah keadaan ketika badai telah berhenti. Ketenangan adalah kemampuan jiwa untuk tetap mempunyai arah ketika badai sedang berlangsung.

Al-Qur’an menyebut salah satu bentuk ketenangan batin itu dengan istilah السَّكِينَةُ — as-sakīnah.

«هُوَ الَّذِي أَنْزَلَ السَّكِينَةَ فِي قُلُوبِ الْمُؤْمِنِينَ لِيَزْدَادُوا إِيمَانًا مَعَ إِيمَانِهِمْ»

“Dialah yang menurunkan ketenangan ke dalam hati orang-orang beriman agar keimanan mereka bertambah di samping keimanan mereka yang telah ada.” QS al-Fatḥ: 4

Ayat ini menarik untuk direnungkan.

Allah tidak mengatakan bahwa seluruh persoalan terlebih dahulu diselesaikan, kemudian manusia memperoleh ketenangan. Justru sakinah diturunkan ketika orang-orang beriman sedang menghadapi keadaan yang menuntut keteguhan jiwa.

Dengan demikian, ketenangan bukan semata-mata produk keadaan eksternal.

Ia adalah kualitas internal.

Bukan:

“Karena semuanya telah selesai, maka aku tenang.”

Tetapi:

“Karena hatiku menemukan Allah, maka aku mempunyai kekuatan untuk menghadapi apa yang belum selesai.”

Di sinilah psikologi, akhlak, dan spiritualitas Al-Qur’an bertemu.

Ketika Emosi Mengambil Alih Akal

Salah satu kesalahan manusia saat menghadapi masalah adalah merasa bahwa semuanya harus segera direspons.

Marah, lalu langsung membalas.

Tersinggung, lalu langsung memutus hubungan.

Takut, lalu segera membayangkan kehancuran.

Kecewa, lalu membuat keputusan besar.

Dalam perspektif psikologi, emosi yang sangat tinggi dapat mempersempit kemampuan seseorang melihat persoalan secara proporsional. Ia melihat dunia melalui emosi yang sedang menguasainya.

Dalam akhlak Islam, karena itulah kemampuan mengendalikan diri dipandang sebagai kekuatan.

Nabi ﷺ bersabda:

«لَيْسَ الشَّدِيدُ بِالصُّرَعَةِ، إِنَّمَا الشَّدِيدُ الَّذِي يَمْلِكُ نَفْسَهُ عِنْدَ الْغَضَبِ»

“Orang kuat bukanlah orang yang menang dalam pergulatan. Orang kuat adalah orang yang mampu menguasai dirinya ketika marah.”

Kekuatan, dengan demikian, bukan sekadar kemampuan mengalahkan sesuatu di luar diri.

Kekuatan pertama adalah kemampuan menjaga agar apa yang terjadi di luar tidak menghancurkan keteraturan di dalam.

Maka ketika emosi meninggi, jangan segera membuat keputusan permanen berdasarkan keadaan batin yang sementara.

Diamlah sebentar.

Berwudhulah.

Duduklah.

Ambillah jarak.

Kemudian bertanyalah:

“Apa yang sebenarnya sedang terjadi, dan apa yang hanya sedang aku takutkan?”

Pertanyaan sederhana ini membawa kita kepada tingkat ketenangan berikutnya.

Antara Fakta dan Cerita yang Dibangun Pikiran

Tidak semua yang kita pikirkan adalah kenyataan.

Seseorang belum menjawab pesan kita. Itu fakta.

Tetapi ketika pikiran mengatakan, “Ia pasti marah kepada saya,” itu sudah interpretasi.

Kemudian pikiran bergerak lebih jauh:

“Hubungan kami akan rusak.”

“Keluarga akan pecah.”

“Semua orang akan meninggalkan saya.”

Padahal peristiwa awalnya hanya satu: pesan belum dibalas.

Begitu pula ketika pendapatan menurun. Penurunan pendapatan adalah fakta. Tetapi mengatakan, “Semuanya akan hancur,” belum tentu fakta.

Banyak penderitaan psikologis berasal dari ketidakmampuan membedakan antara kenyataan, kemungkinan, dan ketakutan.

Karena itu, ketenangan membutuhkan kejernihan epistemologis: mengetahui mana yang benar-benar kita ketahui dan mana yang hanya diasumsikan oleh pikiran kita.

Al-Qur’an mendidik manusia agar tidak mengikuti sesuatu tanpa ilmu:

«وَلَا تَقْفُ مَا لَيْسَ لَكَ بِهِ عِلْمٌ»

“Janganlah engkau mengikuti sesuatu yang tidak engkau ketahui.”
QS al-Isrā’: 36

Ayat ini tidak hanya penting dalam persoalan ilmu dan informasi. Ia juga menjadi disiplin bagi jiwa: jangan menyiksa diri dengan kesimpulan-kesimpulan yang belum memiliki dasar.

Ikhtiar dan Batas Kekuasaan Manusia

Ada wilayah yang diberikan Allah kepada manusia untuk diusahakan.

Kita dapat memilih ucapan.

Kita dapat meminta maaf.

Kita dapat belajar.

Kita dapat bekerja.

Kita dapat berobat.

Kita dapat menyusun ulang strategi kehidupan.

Tetapi ada wilayah lain yang tidak pernah sepenuhnya berada dalam kekuasaan kita: hasil akhir, hati manusia, masa depan, penilaian orang, datangnya musibah, ajal, dan perubahan-perubahan yang berada dalam ketentuan Allah.

Di sinilah muncul salah satu sumber kegelisahan manusia modern: kita ingin mengendalikan sesuatu yang memang tidak diciptakan untuk berada di bawah kendali kita.

Al-Qur’an mengembalikan manusia kepada proporsinya:

«وَمَنْ يَتَوَكَّلْ عَلَى اللَّهِ فَهُوَ حَسْبُهُ»

“Barang siapa bertawakal kepada Allah, maka Dia akan mencukupinya.” QS at-Ṭalāq: 3

Tawakal bukan meninggalkan sebab.

Tawakal justru lahir setelah manusia mengetahui batas antara amanahnya dengan wilayah ketuhanan.

Apa yang merupakan kewajibanku, aku kerjakan.

Apa yang berada di luar kemampuanku, aku serahkan kepada Allah.

Dengan begitu manusia tetap aktif tanpa merasa dirinya Tuhan atas segala hasil.

Masalah Besar dan Langkah Kecil

Masalah sering terasa menakutkan karena kita memandangnya sekaligus.

Persoalan keuangan, kesehatan, keluarga, pekerjaan, masa depan—semuanya dimasukkan ke dalam satu ruangan pikiran. Akhirnya jiwa menyimpulkan:

“Semuanya berantakan.”

Padahal kehidupan tidak harus diselesaikan sekaligus.

Tanyakan:

Apa yang paling mendesak hari ini?

Siapa yang harus saya hubungi?

Keputusan apa yang belum perlu dibuat sekarang?

Apa satu tindakan kecil yang masih mampu saya lakukan?

Satu langkah kecil mempunyai makna psikologis sekaligus spiritual.

Ia mengubah kesadaran dari:

“Aku tidak berdaya,”

menjadi:

“Masih ada amanah yang bisa aku kerjakan.”

Ikhtiar karena itu tidak sekadar mengubah keadaan di luar. Ikhtiar juga menyembuhkan ketidakberdayaan di dalam.

Mengadu kepada Allah, Berikhtiar bersama Manusia

Manusia bukan makhluk yang diciptakan untuk menghadapi seluruh persoalan sendirian.

Ada masalah yang memerlukan dokter.

Ada yang membutuhkan ahli hukum.

Ada yang harus dibicarakan dengan ulama.

Ada yang membutuhkan psikolog, guru, keluarga, atau sahabat yang amanah.

Meminta pertolongan bukan tanda kelemahan iman.

Tetapi seorang mukmin mengetahui bahwa manusia hanyalah sebab.

Sandaran terakhir tetap Allah.

Nabi Ya‘qub عليه السلام berkata:

«إِنَّمَا أَشْكُو بَثِّي وَحُزْنِي إِلَى اللَّهِ»

“Sesungguhnya aku hanya mengadukan kesusahan dan kesedihanku kepada Allah.” QS Yūsuf: 86

Inilah adab batin seorang mukmin: boleh meminta pertolongan manusia, tetapi hati tidak menggantungkan keselamatan secara mutlak kepada manusia.

Zikir: Mengembalikan Besaran yang Benar

Masalah menjadi sangat menakutkan ketika memenuhi seluruh ruang kesadaran.

Zikir mengembalikan proporsi.

«أَلَا بِذِكْرِ اللَّهِ تَطْمَئِنُّ الْقُلُوبُ»

“Ingatlah, dengan mengingat Allah hati menjadi tenteram.”
QS ar-Ra‘d: 28

Ketika seorang hamba mengucapkan:

«حَسْبُنَا اللَّهُ وَنِعْمَ الْوَكِيلُ»

“Cukuplah Allah bagi kami, dan Dia sebaik-baik tempat berserah.”
atau:

«لَا حَوْلَ وَلَا قُوَّةَ إِلَّا بِاللَّهِ»

“Tidak ada daya dan kekuatan kecuali dengan pertolongan Allah,”

ia sebenarnya sedang mengubah pusat kesadarannya.

Dari masalah menuju Allah.

Dari keterbatasan dirinya menuju keluasan kekuasaan-Nya.

Zikir tidak selalu langsung menghilangkan persoalan, tetapi zikir mengubah ukuran persoalan di dalam hati.

Masalah mungkin tetap besar, tetapi Allah kembali menjadi Yang Mahabesar dalam kesadaran kita.

Dari Syariat Menuju Makrifat

Pada tingkat syariat, ketenangan berarti tetap taat ketika diuji: tidak mengambil jalan haram, menjaga lisan, menunaikan kewajiban, dan menggunakan sebab yang halal.

Pada tingkat tarekat, manusia mendidik jiwa: melawan marah, dendam, ketakutan, putus asa, dan ketergantungan berlebihan kepada makhluk.

Pada tingkat hakikat, ia menyadari bahwa seluruh sebab bekerja hanya dengan izin Allah. Dokter adalah sebab. Obat adalah sebab. Uang adalah sebab. Manusia adalah sebab. Tetapi Allah adalah Musabbib al-Asbāb, Yang menentukan bekerjanya segala sebab.

Dan pada tingkat makrifat, pertanyaan seorang hamba menjadi lebih dalam.

Ia tidak hanya bertanya:

“Kapan masalah ini berakhir?”

Tetapi juga:

“Apa yang sedang Allah ajarkan kepadaku melalui keadaan ini?”

Mungkin sabar.

Mungkin tawakal.

Mungkin kerendahan hati.

Mungkin keberanian.

Mungkin pelepasan dari ketergantungan kepada manusia.

Kita tidak memastikan maksud khusus Allah di balik setiap musibah. Namun seorang mukmin selalu berusaha mengambil tarbiyah dari setiap keadaan.

Akhirnya, puncak ketenangan bukan ketika seluruh dunia berjalan sesuai kehendak kita.

Puncaknya adalah ketika hati tetap mempunyai Allah saat dunia tidak berjalan sesuai kehendak kita.

«يَا أَيَّتُهَا النَّفْسُ الْمُطْمَئِنَّةُ ۝ ارْجِعِي إِلَى رَبِّكِ رَاضِيَةً مَرْضِيَّةً»

“Wahai jiwa yang tenteram. Kembalilah kepada Tuhanmu dalam keadaan rida dan diridai.”
QS al-Fajr: 27–28

Maka ketenangan bukan seni berpura-pura kuat.

Ia adalah perjalanan: menenangkan tubuh, menjernihkan pikiran, menertibkan emosi, mengerjakan ikhtiar, menjaga syariat, menghidupkan zikir, menerima takdir yang telah terjadi, kemudian menyerahkan masa depan kepada Allah.

Masa lalu diterima dan dipelajari.
Hari ini diikhtiarkan.
Masa depan ditawakkalkan.

Dan di atas semuanya:

masalah boleh besar, tetapi jangan pernah membiarkannya menjadi lebih besar di dalam hati daripada Allah.

Syekh Sofyan Siroj Abdul Wahab.

spot_img

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

WAJIB DIBACA

spot_img