KABARLAH.COM – Allah ﷻ berfirman:
وَلَيْسَ الذَّكَرُ كَالْاُنْثٰى
“Laki-laki tidaklah seperti perempuan.” QS. Āli ‘Imrān: 36.
Ayat ini hadir dalam kisah kelahiran Maryam. Istri ‘Imran berharap anak yang dikandungnya laki-laki agar dapat berkhidmat di Baitulmaqdis. Namun Allah memberinya seorang anak perempuan. Dari sudut pandang manusia, kenyataan itu mungkin tampak berbeda dari harapan. Akan tetapi, Allah mengetahui bahwa bayi itu kelak menjadi Maryam, perempuan suci yang dimuliakan-Nya.
Allah berfirman:
وَاللّٰهُ اَعْلَمُ بِمَا وَضَعَتْ
“Allah lebih mengetahui apa yang dia lahirkan.”
Ayat ini mengajarkan bahwa laki-laki dan perempuan memang tidak identik dalam seluruh aspek penciptaan, fungsi, dan tanggung jawab. Namun, perbedaan bukanlah alasan untuk saling merendahkan. Kesetaraan tidak selalu berarti keseragaman, dan keadilan tidak selalu berarti tugas yang sepenuhnya sama.
Ukuran kemuliaan di sisi Allah bukan jenis kelamin, melainkan ketakwaan:
اِنَّ اَكْرَمَكُمْ عِنْدَ اللّٰهِ اَتْقٰىكُمْ
“Sesungguhnya yang paling mulia di antara kamu di sisi Allah ialah orang yang paling bertakwa.” QS. Al-Ḥujurāt: 13.
Rasulullah ﷺ juga menyebut Maryam binti ‘Imran sebagai salah satu perempuan yang mencapai kesempurnaan utama dalam keimanan dan keutamaannya. HR. al-Bukhari dan Muslim.
Maka, jangan membanggakan diri hanya karena menjadi laki-laki, dan jangan merasa rendah karena menjadi perempuan. Keduanya adalah hamba Allah, sama-sama diperintah beriman, beramal saleh, menuntut ilmu, dan menjaga kehormatan.
Hormatilah perbedaan, tegakkan keadilan, dan jangan tergesa-gesa menilai ketetapan Allah. Boleh jadi sesuatu yang tidak sesuai dengan harapan kita justru sedang dipersiapkan-Nya menjadi jalan menuju kemuliaan yang lebih besar.
Syekh Sofyan Siroj Abdul Wahab.



