KABARLAH.COM, Pekanbaru – Ketika sebuah negara atau seseorang ditunjuk menjadi ketua, pemimpin, atau wakil dalam suatu forum, hakikatnya ia sedang menerima amanah besar. Kepemimpinan bukan tempat untuk menyombongkan diri, menakut-nakuti pihak lain, atau mencari pujian. Kepemimpinan adalah tanggung jawab untuk menegakkan keadilan, menjaga martabat, dan membawa maslahat bagi manusia.
Allah berfirman:
“Sesungguhnya Allah menyuruh kamu menyampaikan amanah kepada yang berhak menerimanya, dan apabila kamu menetapkan hukum di antara manusia, hendaklah kamu menetapkannya dengan adil.”
(QS. An-Nisā’: 58)
Ayat ini menegaskan bahwa amanah dan keadilan adalah ruh kepemimpinan. Siapa pun yang diberi kedudukan harus sadar bahwa jabatan bukan hadiah semata, tetapi ujian dari Allah.
Allah juga berfirman:
“Katakanlah: Wahai Tuhan Pemilik kerajaan, Engkau berikan kerajaan kepada siapa yang Engkau kehendaki dan Engkau cabut kerajaan dari siapa yang Engkau kehendaki.”
(QS. Āli ‘Imrān: 26)
Maka jangan terlalu kagum kepada kekuasaan manusia, dan jangan pula terlalu takut kepada kekuatan dunia. Semua jabatan, pengaruh, dan kekuatan berada di bawah kehendak Allah.
Rasulullah ﷺ bersabda:
“Setiap kalian adalah pemimpin, dan setiap kalian akan dimintai pertanggungjawaban atas yang dipimpinnya.”
(HR. Bukhari dan Muslim)
Hadits ini mengingatkan bahwa kepemimpinan sekecil apa pun akan ditanya di hadapan Allah: apakah digunakan untuk adil atau zalim, menyatukan atau memecah, melayani atau menindas.
Hikmahnya: pemimpin yang kuat bukan hanya yang ditakuti lawan, tetapi yang dipercaya karena amanahnya. Umat Islam harus memandang kepemimpinan dengan adab: tidak terjebak propaganda, tidak berlebihan memuji, dan tidak membenci tanpa keadilan. Sebab kemuliaan kepemimpinan terletak pada amanah, kejujuran, dan keberpihakan kepada kebenaran.
Syekh Sofyan Siroj Abdul Wahab.



