KABARLAH.COM, Pekanbaru – بسم الله الرحمن الرحيم.
اِنْ يَّمْسَسْكُمْ قَرْحٌ فَقَدْ مَسَّ الْقَوْمَ قَرْحٌ مِّثْلُهٗۗ وَتِلْكَ الْاَيَّامُ نُدَاوِلُهَا بَيْنَ النَّاسِۚ وَلِيَعْلَمَ اللّٰهُ الَّذِيْنَ اٰمَنُوْا وَيَتَّخِذَ مِنْكُمْ شُهَدَاۤءَۗ وَاللّٰهُ لَا يُحِبُّ الظّٰلِمِيْنَۙ ١٤٠
iy yamsaskum qar-ḫun fa qad massal-qauma qar-ḫum mitsluh, wa tilkal-ayyâmu nudâwiluhâ bainan-nâs, wa liya‘lamallâhulladzîna âmanû wa yattakhidza mingkum syuhadâ’, wallâhu lâ yuḫibbudh-dhâlimîn.
Jika kamu (pada Perang Uhud) mendapat luka, maka mereka pun (pada Perang Badar) mendapat luka yang serupa. Masa (kejayaan dan kehancuran) itu Kami pergilirkan di antara manusia (agar mereka mendapat pelajaran) dan Allah mengetahui orang-orang beriman (yang sejati) dan sebagian kamu dijadikan-Nya (gugur sebagai) syuhada. Allah tidak menyukai orang-orang zalim.
Ada satu kenyataan yang terus berulang dalam sejarah: kezaliman jarang dibiarkan berjalan tanpa akibat. Ia bisa membuat manusia takut, tetapi juga bisa membangunkan manusia. Ketika tekanan meningkat, ketika ketimpangan melebar, ketika hak dirampas dan martabat diinjak, banyak orang mulai “sadar”: siapa yang menindas? siapa yang mempermainkan nasib? mengapa hukum terasa tumpul? Dalam bahasa Al-Qur’an, kebangkitan semacam itu bukan fenomena baru. Allah berfirman: “Hari-hari itu Kami pergilirkan di antara manusia.” (QS. Āli ‘Imrān 3:140).
Ayat ini menegaskan bahwa sejarah bukan garis lurus; ia bergerak dalam sunnatullah—kadang sebuah kaum berada di atas, kadang teruji di bawah. Namun Al-Qur’an juga mengingatkan: ukuran naik-turunnya bukan semata teknologi atau kekuatan uang, melainkan kualitas moral—iman, amanah, akhlak, dan keadilan.
Di titik inilah muncul tesis tadabbur: kezaliman dapat memicu kebangkitan, tetapi syariat menentukan cara. Tanpa syariat, kebangkitan bisa berubah menjadi amarah liar; tanpa adab Qur’ani, perlawanan terhadap zalim dapat melahirkan zalim baru. Islam tidak menolak semangat menegakkan keadilan—justru ia mewajibkannya—namun Islam menolak “cara” yang merusak jiwa, melampaui batas, dan menabur fitnah.
Mengapa kezaliman memicu kebangkitan?
Secara sosiologis, kezaliman memaksa masyarakat meninjau ulang “kontrak sosial”: ketika rakyat merasa tertindas, solidaritas baru bisa muncul, bahkan melintasi sekat-sekat yang sebelumnya memisahkan. Secara psikologis, tekanan yang terang-terangan kerap menimbulkan keberanian kolektif: manusia yang tadinya diam mulai bicara. Secara spiritual, kezaliman mengaktifkan suara paling dalam: fitrah—bahwa manusia diciptakan untuk merdeka dari penghambaan pada manusia lain.
Namun Islam menaruh rem: kebangkitan tidak boleh dibangun di atas kebencian. Allah menegaskan: “Janganlah kebencian mendorong kalian berlaku tidak adil. Berlaku adillah…” (QS. al-Mā’idah 5:8). Ini bukan sekadar etika halus; ini fondasi filosofis. Sebab bila kebencian menjadi kompas, maka kebenaran berubah menjadi alat, dan keadilan berubah menjadi slogan. Qur’an menuntut standar yang stabil: adil meski marah, benar meski tidak populer, amanah meski berat.
“Sābiqūnas-sābiqūn”: pelopor yang lahir saat zaman panas
Dalam situasi fitnah, selalu muncul dua tipe manusia: yang terbakar oleh emosi, dan yang menyala oleh nilai. Al-Qur’an mengajarkan kita mengejar tipe kedua: pelopor kebaikan—yang disebut “yang terdahulu” dalam amal. Prinsipnya sejalan dengan firman Allah: “Berlomba-lombalah dalam kebaikan.” (QS. al-Baqarah 2:148). Pelopor bukan yang paling keras suaranya, melainkan yang paling cepat melakukan tiga hal: taubat (membenahi diri), amanah (menanggung beban), dan ihsan (berbuat baik meski dalam tekanan).
Di sinilah dimensi batin tadabbur bekerja. Kebangkitan sejati bukan dimulai dari jalanan, tetapi dari hati: dari kemampuan menahan diri agar tidak melampaui batas; dari keberanian berkata benar tanpa memfitnah; dari kekuatan memberi manfaat tanpa mencari pujian. Pelopor yang Qur’ani bukan pencipta kekacauan; ia adalah penjaga akal sehat, adab, dan nurani kolektif.
Persatuan umat: perintah yang sering dilupakan ketika emosi naik
Sejarah menunjukkan: banyak bangsa tidak runtuh karena musuh luar, tetapi karena pecah dari dalam. Islam mengobati penyakit itu dengan perintah persatuan: “Berpeganglah kalian pada tali Allah dan jangan bercerai-berai.” (QS. Āli ‘Imrān 3:103). Dan Allah menegaskan hakikat sosial iman: “Sesungguhnya orang-orang beriman itu bersaudara.” (QS. al-Ḥujurāt 49:10). Persatuan dalam Islam bukan sekadar “bersatu di panggung”; ia bersatu pada nilai: amanah, keadilan, dan adab. Maka ketika tekanan global meningkat, jawaban umat bukan saling menghantam, tetapi memperkuat ukhuwah, memperbaiki akhlak, dan memperbesar manfaat.
Inilah pelajaran akademik yang sering luput: persatuan bukan berarti meniadakan perbedaan, tetapi mengelola perbedaan dengan adab, dan menyatukannya pada tujuan besar: menegakkan keadilan dan menjaga kemaslahatan.
Korupsi: kebocoran amanah yang bisa memicu “ledakan sosial”
Kezaliman tidak hanya datang dari luar; ia bisa tumbuh dari dalam, terutama melalui khianat amanah—korupsi. Allah memerintahkan: “Sesungguhnya Allah menyuruh kalian menunaikan amanah kepada yang berhak…” (QS. an-Nisā’ 4:58). Dan Allah melarang pengkhianatan: “Janganlah kalian mengkhianati Allah dan Rasul, dan jangan (pula) mengkhianati amanah…” (QS. al-Anfāl 8:27). Nabi ﷺ memberi peringatan yang mengguncang: “Kezaliman adalah kegelapan pada hari kiamat.” (HR. Muslim).
Secara sosial, ketika amanah bocor terus-menerus, rakyat kehilangan percaya. Lalu muncul godaan paling berbahaya: main hakim sendiri. Tetapi syariat menutup pintu itu: melawan zalim tidak boleh dengan zalim baru. Allah melarang melampaui batas: “Janganlah kalian melampaui batas…” (QS. al-Baqarah 2:190). Artinya, keadilan harus ditegakkan melalui islah: perbaikan yang sah, tabayyun, penegakan hukum yang adil, dan gerakan moral yang rapi—bukan chaos, bukan fitnah, bukan kekerasan.
Penutup: kebangkitan yang diridhai Allah adalah kebangkitan yang beradab
Kezaliman memang bisa memicu kebangkitan. Tetapi Al-Qur’an mengajari: kebangkitan yang diridhai Allah adalah kebangkitan yang adil, amanah, bersatu, dan beramal shalih. Kita menolak penindasan dengan kebenaran; kita memperbaiki negeri dengan amanah; kita menguatkan umat dengan persaudaraan; dan kita menjaga gerakan dari penyakit lama: emosi tanpa ilmu, marah tanpa adab, dan semangat tanpa syariat.
Kita butuh menjadi bagian dari sābiqūn: pelopor kebaikan yang memulai dari diri sendiri—jujur, amanah, anti-korupsi, menjaga lisan dari fitnah, dan menolong yang lemah. Sebab cahaya kebangkitan bukan hanya lahir dari menumbangkan yang zalim, tetapi dari membangun manusia beradab yang tidak menjadi zalim baru setelah menang.
Oleh: Syekh Sofyan Siroj Abdul Wahab.



