KABARLAH.COM – بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمٰنِ الرَّحِيْمِ
Mengutamakan yang wajib adalah tanda benarnya arah perjalanan seorang hamba kepada Allah. Dalam ruh ajaran Futūḥ al-Ghaib, Syekh Abdul Qadir al-Jailani رحمه الله menegaskan bahwa jalan menuju Allah tidak dibangun di atas perasaan semata, bukan pula pada banyaknya amal tambahan yang tampak indah, tetapi pada ketundukan kepada perintah Allah yang paling utama.
Rasulullah ﷺ bersabda dalam hadits qudsi:
وَمَا تَقَرَّبَ إِلَيَّ عَبْدِي بِشَيْءٍ أَحَبَّ إِلَيَّ مِمَّا افْتَرَضْتُ عَلَيْهِ
“Tidaklah hamba-Ku mendekat kepada-Ku dengan sesuatu yang lebih Aku cintai daripada apa yang telah Aku wajibkan atasnya.” HR. Bukhari.
Hadits ini menjadi kaidah besar: kewajiban adalah pintu cinta Allah. Shalat wajib lebih utama daripada shalat sunnah yang banyak namun melalaikan fardhu. Membayar utang lebih utama daripada sedekah sunnah. Menunaikan nafkah keluarga lebih utama daripada kedermawanan yang mengabaikan hak rumah tangga. Menjaga lisan dari menyakiti manusia lebih utama daripada banyak wirid tetapi akhlak buruk.
Allah berfirman:
وَمَا خَلَقْتُ الْجِنَّ وَالْإِنسَ إِلَّا لِيَعْبُدُونِ
“Aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan agar mereka beribadah kepada-Ku.” QS. Adz-Dzariyat: 56.
Ibadah bukan hanya banyak amal, tetapi menempatkan amal sesuai prioritas yang Allah cintai. Karena itu, tidak ada tasawuf sejati tanpa syariat. Tidak ada ma‘rifat yang benar dengan meremehkan shalat, halal-haram, amanah, dan hak manusia.
Allah berfirman:
إِنَّ الصَّلَاةَ كَانَتْ عَلَى الْمُؤْمِنِينَ كِتَابًا مَّوْقُوتًا
“Sesungguhnya shalat itu adalah kewajiban yang telah ditentukan waktunya atas orang-orang beriman.”
QS. An-Nisa’: 103
Maka hikmahnya: dahulukan yang Allah wajibkan sebelum mengejar yang sunnah. Dahulukan tauhid sebelum klaim hakikat, shalat sebelum wirid tambahan, halal sebelum sedekah besar, amanah sebelum popularitas, taubat sebelum nasihat, dan akhlak sebelum pengakuan.
Rasulullah ﷺ bersabda:
الْمُسْلِمُ مَنْ سَلِمَ الْمُسْلِمُونَ مِنْ لِسَانِهِ وَيَدِهِ
“Seorang muslim adalah orang yang kaum muslimin selamat dari gangguan lisan dan tangannya.”
HR. Bukhari dan Muslim
Ya Allah, kuatkan kami menunaikan yang wajib, bersihkan hati kami dari riya’ dan ujub, serta jadikan kami hamba yang jujur dalam taat. Amin.
Syekh Sofyan Siroj Abdul Wahab.



