KABARLAH.COM – Bismillāhirraḥmānirraḥīm.
Iman seorang hamba tidak hanya tampak ketika ia sedang berada dalam kelapangan, tetapi juga ketika ia diuji dengan kesempitan. Dalam ruh ajaran Futūḥul Ghaib, Syekh Abdul Qadir al-Jailani رحمه الله mengingatkan bahwa hati seorang mukmin harus tetap tegak di hadapan dua keadaan: ujian dan nikmat. Ujian tidak boleh membuatnya berputus asa, sedangkan nikmat tidak boleh membuatnya sombong.
Allah berfirman:
أَحَسِبَ النَّاسُ أَن يُتْرَكُوا أَن يَقُولُوا آمَنَّا وَهُمْ لَا يُفْتَنُونَ
“Apakah manusia mengira bahwa mereka akan dibiarkan hanya dengan mengatakan: kami telah beriman, sedang mereka tidak diuji?” QS. Al-‘Ankabūt: 2
Ayat ini mengajarkan bahwa ujian adalah bagian dari pembuktian iman. Sakit, kehilangan, kesempitan rezeki, atau kekecewaan bukan selalu tanda murka Allah. Bisa jadi ia adalah jalan pembersihan dosa, pendidikan jiwa, dan panggilan agar hamba kembali lebih dekat kepada-Nya.
Rasulullah ﷺ bersabda:
“Sungguh menakjubkan urusan seorang mukmin. Semua urusannya baik. Jika mendapat kesenangan ia bersyukur, maka itu baik baginya. Jika ditimpa kesusahan ia bersabar, maka itu baik baginya.” HR. Muslim
Inilah hikmah besar: hidup mukmin selalu bernilai ibadah bila dijalani dengan benar. Saat diuji, ia sabar. Saat diberi nikmat, ia syukur. Sabar menjaga hati dari protes kepada Allah. Syukur menjaga hati dari kesombongan terhadap karunia Allah.
Allah berfirman:
لَئِن شَكَرْتُمْ لَأَزِيدَنَّكُمْ
“Jika kalian bersyukur, pasti Aku akan menambah nikmat kepada kalian.”
QS. Ibrāhīm: 7
Maka adab seorang mukmin adalah menahan lisan dari mencela takdir, tetap shalat, berikhtiar halal, memperbanyak istighfar, dan menjaga akhlak kepada manusia. Ketika nikmat datang, ia membaca hamdalah, tidak pamer, tidak merendahkan orang lain, serta menggunakan nikmat untuk ketaatan.
Ujian adalah madrasah sabar. Nikmat adalah madrasah syukur. Siapa yang lulus dari keduanya, ia sedang berjalan menuju iman yang matang dan ridha Allah.
Syekh Sofyan Siroj Abdul Wahab.



