KABARLAH.COM – بسم الله الرحمن الرحيم
Pencari Tuhan bukanlah orang yang mencari Allah seolah-olah Allah jauh atau hilang. Allah Maha Dekat dengan ilmu, rahmat, pengawasan, dan pertolongan-Nya. Yang sering jauh adalah hati manusia dari kesadaran kepada Allah. Maka pencari Tuhan adalah hamba yang sedang mencari ridha-Nya, membersihkan hati, meluruskan tauhid, dan menyelamatkan diri dari perbudakan nafsu serta dunia.
Dalam ruh ajaran Futūḥ al-Ghaib, Syekh Abdul Qadir al-Jailani رحمه الله mengajarkan bahwa perjalanan menuju Allah bukan ditempuh dengan klaim maqam, cerita gaib, atau rasa lebih suci. Jalan menuju Allah ditempuh dengan syariat, adab, ikhlas, taubat, sabar, tawakal, zuhud, dan akhlak yang lembut kepada makhluk.
Allah berfirman:
«إِيَّاكَ نَعْبُدُ وَإِيَّاكَ نَسْتَعِينُ
“Hanya kepada-Mu kami menyembah dan hanya kepada-Mu kami memohon pertolongan.”
QS. Al-Fatihah: 5»
Ayat ini mengajarkan bahwa hati seorang hamba hanya bersandar kepada Allah. Ia boleh berikhtiar melalui manusia dan sebab-sebab dunia, tetapi batinnya tetap bertauhid kepada Allah.
Rasulullah ﷺ bersabda:
«إِنَّمَا الْأَعْمَالُ بِالنِّيَّاتِ
“Sesungguhnya amal-amal itu tergantung niatnya.”
HR. Bukhari dan Muslim»
Maka amal pencari Tuhan harus ikhlas, bukan untuk pujian, kedudukan, atau pengaruh. Ia beramal karena Allah, berdakwah karena Allah, belajar karena Allah, dan melayani manusia karena Allah.
Allah juga berfirman:
«إِنَّ اللَّهَ مَعَ الصَّابِرِينَ
“Sesungguhnya Allah bersama orang-orang yang sabar.”
QS. Al-Baqarah: 153»
Karena itu, pencari Tuhan harus sabar dalam taat, sabar meninggalkan maksiat, dan sabar menghadapi ujian. Ia tidak mudah marah, tidak mudah putus asa, dan tidak menggugat takdir Allah.
Rasulullah ﷺ bersabda:
«مَنْ كَانَ يُؤْمِنُ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الْآخِرِ فَلْيَقُلْ خَيْرًا أَوْ لِيَصْمُتْ
“Barang siapa beriman kepada Allah dan hari akhir, hendaklah ia berkata baik atau diam.”
HR. Bukhari dan Muslim»
Inilah ukuran akhlak ruhani: lisannya terjaga, hatinya lembut, hidupnya jujur, ibadahnya istiqamah, dan hubungannya dengan manusia membawa rahmat.
Kesimpulannya, pencari Tuhan yang sejati bukan yang merasa tinggi, tetapi yang semakin rendah hati. Bukan yang banyak mengaku, tetapi yang banyak bertaubat. Bukan yang meninggalkan syariat, tetapi yang semakin kuat menjaga halal-haram, shalat, amanah, dan akhlak.
Ia berkata dengan hidupnya:
«“Ya Allah, aku mencari ridha-Mu, bukan pujian manusia. Bersihkan hatiku dari selain-Mu, dan bimbing aku sampai akhir hayat.”»
Syekh Sofyan Siroj Abdul Wahab.



