BerandaInspirasiNasehatHikmah: Menjadi Ulul ‘Azmi

Hikmah: Menjadi Ulul ‘Azmi

spot_img

KABARLAH.COM – بسم الله الرحمن الرحيم

Menjadi Ulul ‘Azmi bagi umat bukan berarti menjadi nabi atau rasul, sebab kenabian telah ditutup oleh Nabi Muhammad ﷺ. Maknanya adalah meneladani sifat para rasul pilihan: keteguhan iman, kesabaran besar, keberanian ruhani, istiqamah dalam syariat, dan tawakal kepada Allah.

Allah berfirman:

«فَاصْبِرْ كَمَا صَبَرَ أُولُو الْعَزْمِ مِنَ الرُّسُلِ
“Maka bersabarlah engkau sebagaimana kesabaran rasul-rasul yang memiliki keteguhan hati.”
QS. Al-Ahqaf: 35»

Ayat ini mengajarkan bahwa jalan menuju Allah memerlukan ‘azm, yaitu tekad yang kuat. Banyak orang mudah bersemangat saat lapang, tetapi tidak semua mampu bertahan saat diuji. Maka seorang salik harus belajar tidak meninggalkan Allah hanya karena hidup sulit, tidak meninggalkan syariat karena nafsu ingin bebas, dan tidak berhenti beramal hanya karena manusia tidak menghargai.

Rasulullah ﷺ bersabda:

«قُلْ آمَنْتُ بِاللَّهِ ثُمَّ اسْتَقِمْ
“Katakanlah: Aku beriman kepada Allah, kemudian istiqamahlah.”
HR. Muslim»

Istiqamah adalah bukti keteguhan. Ia tampak dalam shalat yang dijaga, lisan yang ditahan, nafkah yang halal, amanah yang ditunaikan, dan akhlak yang tetap lembut meski hati sedang diuji.

Allah juga berfirman:

«إِنَّ اللَّهَ مَعَ الصَّابِرِينَ
“Sesungguhnya Allah bersama orang-orang yang sabar.”
QS. Al-Baqarah: 153»

Sabar Ulul ‘Azmi bukan pasif, tetapi sabar yang aktif: tetap taat saat berat, tetap jujur saat sulit, tetap lembut saat mampu membalas, dan tetap mencari jalan halal saat terdesak.

Rasulullah ﷺ bersabda:

«احْرِصْ عَلَى مَا يَنْفَعُكَ، وَاسْتَعِنْ بِاللَّهِ وَلَا تَعْجِزْ
“Bersemangatlah terhadap apa yang bermanfaat bagimu, mintalah pertolongan kepada Allah, dan jangan lemah.”
HR. Muslim»

Maka keteguhan tidak boleh menjadi kekerasan hati. Kebenaran harus dibawa dengan adab, rahmat, dan ilmu. Menjadi Ulul ‘Azmi dalam kehidupan sehari-hari berarti menjadi ayah yang sabar, ibu yang tabah, guru yang tekun, pemimpin yang amanah, pedagang yang halal, dan hamba yang terus memperbaiki diri.

Kesimpulannya, ‘azm adalah napas panjang iman. Ia bukan klaim maqam, tetapi pembuktian hidup. Bukan merasa tinggi, tetapi semakin rendah hati. Bukan keluar dari syariat, tetapi semakin kokoh bersama Al-Qur’an dan Sunnah.

Ya Allah, teguhkan hati kami di atas agama-Mu, kuatkan sabar kami, luruskan niat kami, lembutkan akhlak kami, dan wafatkan kami dalam husnul khatimah.

Syekh Sofyan Siroj Abdul Wahab.

spot_img

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

WAJIB DIBACA

spot_img