KABARLAH.COM – بِسْمِ اللهِ الرَّحْمٰنِ الرَّحِيْمِ
Kemarahan para wali bukanlah kemarahan karena ego, tersinggung, dihina, tidak dihormati, atau merasa paling benar. Dalam jalan ruhani Islam, wali Allah adalah hamba yang dekat kepada-Nya karena iman dan takwa, bukan karena klaim, karamah, atau kedudukan lahir.
Allah berfirman:
أَلَا إِنَّ أَوْلِيَاءَ اللَّهِ لَا خَوْفٌ عَلَيْهِمْ وَلَا هُمْ يَحْزَنُونَ الَّذِينَ آمَنُوا وَكَانُوا يَتَّقُونَ
“Ingatlah, sesungguhnya wali-wali Allah itu tidak ada rasa takut pada mereka dan tidak pula mereka bersedih hati. Yaitu orang-orang yang beriman dan selalu bertakwa.”
QS. Yunus: 62–63
Maka kemarahan wali adalah kemarahan yang ditundukkan oleh tauhid, ilmu, adab, dan rahmat. Mereka marah ketika syariat Allah dirusak, kemungkaran dibiarkan, orang lemah dizalimi, agama dipermainkan, dan manusia dijauhkan dari tauhid. Tetapi marah mereka tidak melampaui batas, tidak mencaci, tidak zalim, dan tidak kehilangan kasih sayang.
Allah mengingatkan:
اعْدِلُوا هُوَ أَقْرَبُ لِلتَّقْوَىٰ
“Berlaku adillah, karena adil itu lebih dekat kepada takwa.”
QS. Al-Ma’idah: 8
Rasulullah ﷺ adalah teladan tertinggi. Beliau tidak pernah membalas karena kepentingan diri sendiri. Beliau marah hanya ketika kehormatan Allah dilanggar. Dalam hadits shahih disebutkan:
مَا انْتَقَمَ رَسُولُ اللَّهِ ﷺ لِنَفْسِهِ قَطُّ، إِلَّا أَنْ تُنْتَهَكَ حُرْمَةُ اللَّهِ
“Rasulullah ﷺ tidak pernah membalas karena dirinya sendiri, kecuali apabila kehormatan Allah dilanggar.”
HR. Bukhari dan Muslim
Karena itu, marah yang benar harus membawa perbaikan, bukan kehancuran. Ia harus lahir dari kasih sayang, bukan dendam. Ia harus menegakkan kebenaran, bukan memenangkan ego.
Rasulullah ﷺ bersabda:
لَيْسَ الشَّدِيدُ بِالصُّرَعَةِ، إِنَّمَا الشَّدِيدُ الَّذِي يَمْلِكُ نَفْسَهُ عِنْدَ الْغَضَبِ
“Orang kuat adalah yang mampu menguasai dirinya ketika marah.”
HR. Bukhari dan Muslim
Inilah hikmahnya: wali bukan orang yang tidak pernah marah, tetapi orang yang marahnya telah ditundukkan oleh Allah. Bila marah melahirkan sombong, caci maki, dendam, dan zalim, itu marah nafsu. Tetapi bila marah menjaga agama, membela yang lemah, tetap adil, tetap lembut, dan tetap mendoakan hidayah, itulah marah yang mendekati akhlak para shalihin.
Syekh Sofyan Siroj Abdul Wahab.



