KABARLAH.COM – Bismillāhirraḥmānirraḥīm. Di antara wasiat agung Rasulullah ﷺ kepada Abu Dzar رضي الله عنه adalah pesan tentang dua jalan besar dalam menghadapi hidup: ridha dan sabar. Bila seorang hamba mampu beramal karena Allah dengan hati ridha, yakin, dan lapang, maka itulah derajat yang sangat mulia. Ia menerima ketentuan Allah bukan dengan keterpaksaan, tetapi dengan keyakinan bahwa Allah Maha Mengetahui, Maha Bijaksana, dan tidak menzalimi hamba-Nya.
Allah berfirman:
رَّضِيَ اللَّهُ عَنْهُمْ وَرَضُوا عَنْهُ
“Allah ridha kepada mereka dan mereka pun ridha kepada-Nya.”
(QS. Al-Bayyinah: 8)
Namun tidak semua hati langsung mampu mencapai ridha. Kadang manusia masih berat, sedih, takut, kecewa, atau belum memahami hikmah takdir. Maka jika belum mampu ridha secara sempurna, jangan tinggalkan jalan Allah. Bertahanlah dengan sabar. Sebab dalam sabar terhadap sesuatu yang tidak disukai terdapat kebaikan yang sangat banyak.
Allah berfirman:
إِنَّ اللَّهَ مَعَ الصَّابِرِينَ
“Sesungguhnya Allah bersama orang-orang yang sabar.”
(QS. Al-Baqarah: 153)
Sabar bukan berarti lemah. Sabar adalah kekuatan jiwa untuk tetap taat ketika hati lelah, tetap menjaga adab ketika diuji, dan tetap berharap kepada Allah ketika jalan terasa sempit.
Rasulullah ﷺ bersabda:
وَاعْلَمْ أَنَّ النَّصْرَ مَعَ الصَّبْرِ، وَأَنَّ الْفَرَجَ مَعَ الْكَرْبِ، وَأَنَّ مَعَ الْعُسْرِ يُسْرًا
“Ketahuilah bahwa pertolongan bersama kesabaran, kelapangan bersama kesulitan, dan bersama kesukaran ada kemudahan.”
(HR. Ahmad dan Tirmidzi; maknanya shahih)
Maka hikmahnya: bila mampu ridha, bersyukurlah. Bila belum mampu ridha, bersabarlah. Jangan lari dari Allah karena ujian. Justru saat hati sempit, dekatilah Allah lebih kuat. Sebab pertolongan sering datang setelah sabar, kelapangan hadir setelah sesak, dan kemudahan tumbuh dari rahim kesulitan.
Semoga Allah menjadikan kita hamba yang ridha ketika diberi, sabar ketika diuji, dan tetap beradab kepada-Nya dalam semua keadaan. Amin.
Syekh Sofyan Siroj Abdul Wahab.



