KABARLAH.COM, Pekanbaru – Hari Raya Idul Adha 1447 Hijriah menjadi momentum bagi umat Islam untuk meneladani Nabi Ibrahim dan meningkatkan kepedulian terhadap sesama.
Idul Adha mengajarkan umat Islam untuk taat dan patuh kepada perintah Allah SWT, sebagaimana kisah Nabi Ibrahim dan Nabi Ismail yang rela berkorban demi menjalankan perintah-Nya.
Menghormati Orangtua
Umat Islam harus belajar dari ketakwaan Nabi Ibrahim, ia mampu melewati ujian dalam hidupnya mulai dari ayahnya yang bekerja sebagai pembuat berhala. Nabi ibrahim tetap menghormati dan lembut terhadap ayahnya.
Dihukum Dibakar Raja Namrud
Nabi Ibrahim dihukum dibakar hidup-hidup oleh Raja Namrud., karena menentang untuk menyembah berhala. Namun Allah menyelamatkannya sehingga api menjadi dingin dan tidak membakar tubuh beliau.
Meninggalkan Istri dan Anaknya di Lembah yang Tandus
Saat berusia 86 tahun Nabi Ibrahim baru mendapatkan keturunan, saat anaknya lahir dan sedang lucu-lucunya. Atas perintah Allah SWT Nabi Ibrahim membawa istrinya, Siti Hajar, dan putranya yang masih bayi, Nabi Ismail, ke sebuah lembah gersang, tandus, tidak ada sumber air dan tidak ada penghuni yang saat ini menjadi Makkah.
Setelah meninggalkan sedikit bekal makanan dan air, Nabi Ibrahim bersiap pergi.
Siti Hajar kemudian bertanya.
“Apakah ini perintah Allah?”
Nabi Ibrahim menjawab, “Ya.”
Mendengar itu, Siti Hajar dengan penuh keyakinan berkata:
“Kalau begitu Allah tidak akan menelantarkan kami.”
Dengan menangis Nabi Ibrahim meninggalkan istri dan anaknya. Ia pulang menuju Palestina
Ketika persediaan air habis dan Nabi Ismail menangis kehausan, Siti Hajar berlari-lari kecil antara Bukit Shafa dan Marwah mencari air.
Peristiwa ini kemudian menjadi asal-usul sa’i dalam ibadah haji dan umrah. Atas kuasa Allah, muncullah air dari hentakan kaki Nabi Ismail yang kemudian menjadi Sumur Zamzam, sumber air yang terus mengalir hingga sekarang.
Menyembelih Putranya Ismail
Kisah ini menjadi asal-usul ibadah kurban pada Idul Adha. Nabi Ibrahim mendapat perintah melalui mimpi untuk menyembelih putranya, Nabi Ismail.
Dengan penuh keikhlasan, keduanya siap menjalankan perintah Allah. Namun sebelum penyembelihan terjadi, Allah menggantinya dengan seekor hewan kurban.
Hikmah berkurban
Berkurban mengajarkan manusia agar ikhlas memberikan sebagian harta yang dimiliki untuk membantu sesama.
Meningkatkan kepedulian, daging kurban dibagikan kepada fakir miskin dan masyarakat yang membutuhkan.
Menghilangkan sifat tamak dan cinta dunia berlebihan
Dengan berkurban, seseorang belajar bahwa harta hanyalah titipan Allah dan harus dimanfaatkan di jalan kebaikan.



