KABARLAH.COM – Kalimat tentang “kekuatan tersembunyi” atau struktur kekuasaan yang menghalangi perubahan dapat dibaca sebagai hikmah umum: dalam kehidupan bangsa, masyarakat, bahkan diri manusia, selalu ada kekuatan yang tampak dan yang tersembunyi. Ada kekuasaan yang terlihat dalam jabatan, lembaga, dan aturan. Tetapi ada pula kekuasaan tersembunyi berupa kepentingan, keserakahan, ketakutan, fanatisme, kebohongan, dan hawa nafsu yang mengunci jalan perubahan.
Dalam bahasa ruhani, “deep state” bukan hanya fenomena politik. Ia juga bisa menjadi simbol dari penyakit batin yang tersembunyi. Ada negara yang dikuasai oleh kelompok zalim, tetapi ada pula jiwa manusia yang dikuasai oleh nafsu, dendam, kesombongan, dan cinta dunia. Perubahan sejati tidak cukup mengganti wajah luar, tetapi harus membongkar akar keburukan yang bersembunyi di dalam.
Allah berfirman:
إِنَّ اللَّهَ لَا يُغَيِّرُ مَا بِقَوْمٍ حَتَّىٰ يُغَيِّرُوا مَا بِأَنْفُسِهِمْ
“Sesungguhnya Allah tidak akan mengubah keadaan suatu kaum sampai mereka mengubah keadaan yang ada pada diri mereka sendiri.”
QS. Ar-Ra‘d: 11
Ayat ini menjadi kaidah besar perubahan. Bangsa tidak berubah hanya dengan slogan. Keluarga tidak berubah hanya dengan keluhan. Diri tidak berubah hanya dengan angan-angan. Perubahan dimulai dari keberanian melihat penyakit sendiri: kezaliman, korupsi, dusta, malas, iri hati, keras kepala, dan hilangnya amanah.
Namun perubahan dalam Islam tidak boleh dilakukan dengan hawa nafsu. Ia harus berjalan di atas kebenaran, keadilan, kesabaran, dan akhlak. Sebab mengganti satu kezaliman dengan kezaliman lain bukanlah kemenangan. Mengalahkan lawan tetapi meniru akhlak buruknya bukanlah pembebasan. Kemenangan sejati adalah ketika kebenaran tegak tanpa kehilangan adab.
Allah berfirman:
وَلَا يَجْرِمَنَّكُمْ شَنَآنُ قَوْمٍ عَلَىٰ أَلَّا تَعْدِلُوا ۚ اعْدِلُوا هُوَ أَقْرَبُ لِلتَّقْوَىٰ
“Janganlah kebencianmu terhadap suatu kaum mendorong kamu untuk berlaku tidak adil. Berlaku adillah, karena adil itu lebih dekat kepada takwa.”
QS. Al-Mā’idah: 8
Rasulullah ﷺ bersabda:
انْصُرْ أَخَاكَ ظَالِمًا أَوْ مَظْلُومًا
“Tolonglah saudaramu, baik ia zalim maupun dizalimi.”
Para sahabat bertanya, “Kami menolongnya bila ia dizalimi. Bagaimana menolongnya bila ia zalim?” Nabi ﷺ menjawab, “Engkau mencegahnya dari kezaliman.”
HR. Bukhari
Hadits ini sangat dalam. Menolong bangsa bukan berarti membela semua tindakannya. Menolong pemimpin bukan berarti membenarkan kezalimannya. Menolong saudara bukan berarti menutup kesalahannya. Pertolongan sejati adalah mengembalikan manusia kepada kebenaran.
Maka bila sebuah masyarakat ingin keluar dari kebuntuan perubahan, ia membutuhkan tiga kekuatan. Pertama, kesadaran moral, yaitu keberanian membedakan benar dan salah. Kedua, keberanian sosial, yaitu berani menolak kezaliman dengan cara yang benar. Ketiga, penyucian batin, yaitu memastikan perjuangan tidak dikotori dendam, ambisi pribadi, dan cinta popularitas.
Allah juga mengingatkan:
وَتِلْكَ الْأَيَّامُ نُدَاوِلُهَا بَيْنَ النَّاسِ
“Dan masa kejayaan dan kehancuran itu Kami pergilirkan di antara manusia.”
QS. Āli ‘Imrān: 140
Tidak ada kekuasaan yang abadi. Tidak ada tirani yang kekal. Tidak ada struktur batil yang selamanya kuat. Tetapi jatuhnya kebatilan membutuhkan manusia-manusia yang sabar, cerdas, ikhlas, dan berakhlak.
Hikmahnya: perubahan besar dimulai dari perubahan kecil dalam diri. Kalahkan dusta dalam lisan, zalim dalam tangan, serakah dalam hati, dan malas dalam amal. Bila batin manusia merdeka dari hawa nafsu, masyarakat akan lebih mudah merdeka dari kezaliman.
Sebab perubahan yang diberkahi bukan hanya ketika kekuatan tersembunyi runtuh di luar, tetapi ketika kekuatan gelap dalam diri juga tunduk kepada cahaya Allah.
Syekh Sofyan Siroj Abdul Wahab.



