KABARLAH.COM, Pekanbaru – Dalam hubungan antarbangsa, kekuatan saja tidak cukup. Negara yang besar tetap membutuhkan kepercayaan, amanah, dan akhlak diplomasi. Bila sebuah kekuatan sering menekan, mengancam, atau mengingkari kesepakatan, maka orang lain akan ragu untuk duduk berunding dengannya. Sebab negosiasi hanya hidup bila ada kejujuran.
Allah berfirman:
“Wahai orang-orang yang beriman, penuhilah akad-akad itu.”
QS. Al-Mā’idah: 1
Ayat ini mengaarkan bahwa janji, perjanjian, dan kesepakatan adalah amanah. Dalam urusan pribadi, organisasi, negara, bahkan hubungan internasional, seorang mukmin diajarkan untuk memegang kata dan menghormati perjanjian.
Allah juga berfirman:
“Sesungguhnya Allah menyuruh kamu menyampaikan amanah kepada yang berhak menerimanya.”
QS. An-Nisā’: 58
Amanah adalah fondasi kepemimpinan. Tanpa amanah, kekuasaan berubah menjadi ketakutan. Tanpa kejujuran, diplomasi berubah menjadi permainan. Tanpa keadilan, perundingan hanya menjadi alat pihak kuat menekan pihak lemah.
Rasulullah ﷺ bersabda:
“Tanda orang munafik ada tiga: apabila berbicara ia berdusta, apabila berjanji ia mengingkari, dan apabila diberi amanah ia berkhianat.”
HR. Bukhari dan Muslim
Hadits ini menjadi cermin bagi setiap manusia dan pemimpin. Kehormatan seseorang bukan hanya dilihat dari pidatonya, tetapi dari kesetiaannya pada janji.
Hikmahnya, dunia membutuhkan pemimpin yang kata-katanya dapat dipercaya. Kekuatan sejati bukan hanya pada tentara, ekonomi, atau pengaruh politik, tetapi pada integritas. Bila amanah dijaga, musyawarah akan terbuka. Bila kezaliman ditinggalkan, perdamaian akan lebih dekat.
Maka jagalah janji, hormati kesepakatan, dan jangan menjadikan kekuatan sebagai alat kesombongan. Sebab Allah mencintai orang yang adil dan amanah.
Syekh Sofyan Siroj Abdul Wahab.



