KABARLAH.COM – Dalam kehidupan berbangsa, perbedaan pendapat, persaingan politik, dan urusan pribadi bisa terjadi. Namun Islam mengajarkan bahwa amanah publik tidak boleh dipakai untuk melampiaskan dendam, kepentingan pribadi, atau permusuhan kelompok. Negara, jabatan, dan kekuasaan adalah amanah besar, bukan alat untuk memenangkan ego.
Allah berfirman:
“Sesungguhnya Allah menyuruh kamu menyampaikan amanah kepada yang berhak menerimanya, dan apabila kamu menetapkan hukum di antara manusia, hendaklah kamu menetapkannya dengan adil.”
QS. An-Nisā’: 58
Ayat ini menegaskan bahwa pemimpin dan pejabat harus menjaga amanah dengan adil. Keputusan publik harus lahir dari maslahat rakyat, bukan emosi pribadi. Bila amanah dicampur dengan dendam, maka keadilan akan rusak.
Allah juga berfirman:
“Dan janganlah kebencianmu terhadap suatu kaum mendorong kamu untuk berlaku tidak adil. Berlaku adillah, karena adil itu lebih dekat kepada takwa.”
QS. Al-Mā’idah: 8
Maka siapa pun yang memegang kekuasaan harus berhati-hati. Jangan sampai kebencian membuatnya zalim. Jangan sampai konflik pribadi mengorbankan rakyat. Jangan sampai negara dijadikan panggung permusuhan.
Rasulullah ﷺ bersabda:
“Setiap kalian adalah pemimpin, dan setiap kalian akan dimintai pertanggungjawaban atas kepemimpinannya.”
HR. Bukhari dan Muslim
Hadits ini mengingatkan bahwa setiap amanah akan ditanya di hadapan Allah. Jabatan bukan kemuliaan bila dipakai untuk menzalimi, tetapi akan menjadi beban berat di akhirat.
Maka hikmahnya: hadapi persoalan dengan adab, keberanian, dan kejujuran. Kritik boleh, tetapi jangan menjadi fitnah. Persaingan boleh, tetapi jangan merusak negeri. Kekuasaan harus menjadi alat pelayanan, bukan senjata pribadi.
Sebab negeri akan kuat bila para pemimpinnya adil, rakyatnya dewasa, dan semua pihak menempatkan kepentingan bangsa di atas ego pribadi.
Syekh Sofyan Siroj Abdul Wahab.



