BerandaInspirasiNasehatHikmah: Kesaksian Sejarah di Tengah Kabut Kebohongan

Hikmah: Kesaksian Sejarah di Tengah Kabut Kebohongan

spot_img

KABARLAH.COM – “Kesaksianku untuk sejarah tentang latar belakang pasukan para agen/antek… di tengah kebohongan dan penyesatan yang merajalela.” (Sayyid Sami Hasan Khadra).

Kalimat ini mengingatkan kita bahwa dalam setiap zaman selalu ada pertarungan antara kebenaran dan kepalsuan, antara amanah dan pengkhianatan, antara suara jujur dan propaganda yang menyesatkan.

Sejarah tidak hanya ditulis oleh pena para pemenang, tetapi juga disaksikan oleh hati orang-orang yang takut kepada Allah. Karena itu, seorang mukmin tidak boleh mudah tertipu oleh narasi yang dibungkus indah, berita yang diputarbalikkan, atau tokoh yang berbicara atas nama kebaikan tetapi bekerja untuk kepentingan yang merusak umat.

Allah mengingatkan:

“Wahai orang-orang yang beriman, jika datang kepadamu orang fasik membawa suatu berita, maka periksalah dengan teliti…”
QS. Al-Ḥujurāt: 6

Ayat ini aalah dasar besar dalam menghadapi zaman fitnah informasi: jangan mudah percaya, jangan cepat menyebarkan, dan jangan membangun sikap di atas kabar yang belum jelas.

Rasulullah ﷺ juga bersabda:

“Cukuplah seseorang dikatakan berdusta apabila ia menceritakan semua yang ia dengar.”
HR. Muslim

Hadis ini sangat relevan. Banyak orang merasa sedang membela kebenaran, padahal hanya menjadi penyambung lidah kebohongan karena tidak melakukan tabayyun.

Dalam Al-Qur’an, Allah juga mengecam orang-orang yang menyembunyikan kebenaran:

“Dan janganlah kamu campuradukkan kebenaran dengan kebatilan, dan janganlah kamu sembunyikan kebenaran, sedangkan kamu mengetahuinya.”
QS. Al-Baqarah: 42

Maka hikmahnya: di tengah kebohongan yang merajalela, kesaksian yang jujur adalah amanah. Seorang mukmin harus berdiri bersama kebenaran, meskipun berat; menjaga lisan, meskipun banyak provokasi; dan menilai manusia bukan dari slogan, tetapi dari amanah, kejujuran, dan dampak perbuatannya.

Sebab pengkhianatan terbesar bukan hanya menjual negeri atau umat, tetapi ikut menyebarkan kebatilan sambil merasa sedang berjuang.

Syekh Sofyan Siroj Abdul Wahab.

spot_img

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

WAJIB DIBACA

spot_img