KABARLAH.COM, Pekanbaru – وَوَصَّيْنَا الْاِنْسَانَ بِوَالِدَيْهِۚ حَمَلَتْهُ اُمُّهٗ وَهْنًا عَلٰى وَهْنٍ وَّفِصَالُهٗ فِيْ عَامَيْنِ اَنِ اشْكُرْ لِيْ وَلِوَالِدَيْكَۗ اِلَيَّ الْمَصِيْرُ ١٤
wa washshainal-insâna biwâlidaîh, ḫamalat-hu ummuhû wahnan ‘alâ wahniw wa fishâluhû fî ‘âmaini anisykur lî wa liwâlidaîk, ilayyal-mashîr.
Ada satu ayat yang kalau dibaca pelan-pelan bisa menghancurkan ego sekaligus menghangatkan hati: QS. Luqman (31): 14. Ayat yang mengembalikanb kita dari slogan “self-made” ke kenyataan paling jujur: kita lahir dari kelemahan orang lain, dibesarkan oleh cinta yang sering kita lupakan.
“Dan Kami perintahkan kepada manusia (agar berbuat baik) kepada kedua orang tuanya. Ibunya telah mengandungnya dalam keadaan lemah yang bertambah-tambah, dan menyapihnya dalam dua tahun. Bersyukurlah kepada-Ku dan kepada kedua orang tuamu, hanya kepada-Ku-lah kembalimu.”
Kalau kita jujur, budaya hari ini sangat memuja kemandirian. Kita diajari berkata, “Aku sukses karena kerja kerasku sendiri,” seolah tidak pernah ada malam-malam ibu yang begadang, atau siang-siang ayah yang memeras tenaga sampai tak tersisa. Ayat ini datang seperti suara lembut tapi tegas:
“Berhenti sebentar. Lihat ke belakang. Kamu tidak berdiri sendiri.”
“Wa waṣṣainal-insāna bi wālidayhi” — Allah sendiri yang memberi wasiat tentang orang tua. Wasiat itu menarik: bukan sekadar perintah legal, tapi perintah yang disertai sentuhan emosi. Bukan langsung “berbaktilah”, tapi Allah mengajak kita dulu melihat proses: “Hamalat-hu ummuhu wahnan ‘alā wahn…” — ibunya mengandungnya dalam kelemahan di atas kelemahan.
Allah tidak menyebut “mengandung sembilan bulan” secara kering. Dia menyebut “kelemahan yang bertambah-tambah”: lelah fisik, sakit, mual, beban hormon, resiko nyawa. Lalu “wa fiṣāluhu fī ‘āmain”: disapih dalam dua tahun. Itu berarti malam-malam panjang, kantuk yang dipaksa pergi, tubuh yang dipinjam berkali-kali untuk menyusui dan menggendong.
Secara akademik, ini fondasi birrul-wālidayn: kewajiban berbakti yang bukan hanya “aturan sosial”, tapi perintah wahyu. Secara filosofis, ini “hantaman” halus kepada mitos manusia mandiri. Kita ini makhluk bergantung. Ada sejarah kelemahan di tubuh orang lain yang mengantarkan kita ke sini. Kesombongan adalah bentuk lupa paling tragis terhadap sejarah itu.
Menariknya, Allah tidak berhenti di detail fisik. Dia ikat semuanya dalam satu kalimat kunci:
“An-ishkur lī wa li wālidayk – Bersyukurlah kepada-Ku dan kepada kedua orang tuamu.”
Di sini, struktur syukur Qur’ani terlihat indah:
Syukur itu naik ke langit, tapi harus lewat tangga bumi. Tidak sah kita mengaku bersyukur kepada Allah kalau dalam waktu yang sama hati kita keras, lisan kita kasar, dan punggung kita enggan melayani ibu ayah.
Qur’an menempatkan kita di tengah dua ekstrem:
Ekstrem materialis: hanya melihat orang tua, lupa Allah — seakan semua berawal dan berakhir pada mereka.
Ekstrem pseudo-spiritual: mulut penuh “Allah, Allah”, zikir dan wirid, tapi di rumah suara meninggi, pesan orang tua diabaikan, kehadiran mereka dianggap beban.
Syukur yang sehat adalah syukur yang mengakui:
Allah adalah sumber segala nikmat, dan orang tua adalah titian lembut yang Allah pakai untuk menyalurkan nikmat itu. Menghina titian sama dengan merusak adab syukur.
Di tingkat ruhani, para sufi melihat figur ibu sebagai cermin kecil dari rahmah Allah. Rasa sakit yang ia terima tanpa protes, tubuh yang ia serahkan berkali-kali untuk darah, susu, tenaga, semua itu bayangan kecil dari kasih Allah yang terus mengalir meski kita sering tidak tahu diri. Tidak heran kata rahim dan rahmah berasal dari akar yang sama. Maka ketika seorang anak tega menghardik ibunya, ia bukan hanya melakukan pelanggaran sosial — ia seakan-akan sedang membantah “ayat hidup” yang Allah letakkan di hadapannya.
Dari sisi tarbiyah, syekh Said Hawwa seakan mengingatkan: jangan berbicara terlalu jauh tentang perbaikan umat kalau titik pertama di rumah belum lurus. “Checkpoint” pertama orang yang ingin menjadi dai, aktivis, atau penyeru kebaikan adalah cara ia menjawab panggilan ayah dan ibunya. Bukan hanya di panggung, tapi di ruang tamu, dapur, dan teras rumah. Di situ kredibilitas dakwah diuji.
Syekh Abdul Halim Mahmud naikkan ini ke level maqam suluk: birrul-wālidayn bukan sekadar etika keluarga, tapi maqam ruhani. Ini adalah latihan konkret untuk memotong ego: menahan ingin menang sendiri, merendahkan suara, melayani orang yang mungkin secara ilmu dan pemikiran sudah tidak “selevel”. Orang yang ingin terbang mendekat kepada Allah namun masih tega melukai orang tuanya, kata beliau, seperti “ingin terbang ke langit tapi memotong sayapnya sendiri.”
Syekh Ramadhan al-Buthi mengisi ruang rasionalnya: syariat yang mewajibkan penghormatan kepada orang tua itu bukan beban tradisional, tapi konsekuensi logis. Mereka adalah sebab wujud kita; wajar bila Allah menjadikan sikap kita kepada mereka sebagai indikator akhlak. Namun Al-Qur’an tetap seimbang: di ayat berikutnya, jika orang tua memaksa pada kesyirikan, jangan ditaati — tapi tetap perlakukan dengan baik. Artinya, ada titik di mana kita harus berkata “tidak” pada isi permintaan, tapi tidak pernah berkata “tidak” pada adab dan kelembutan.
Menarik pula melihat bagaimana sebagian wacana kontemporer mengkritik generasi yang memutus akar: merasa modern, cerdas, bebas, lalu memandang orang tua seperti fosil masa lalu. Di titik paling umum, ini selaras dengan pesan QS. Luqman: 14: kebebasan pribadi bukan alasan untuk melupakan tangan-tangan yang dahulu mengangkat kita ketika kita bahkan belum bisa duduk.
Tadabbur ayat ini, pada akhirnya, mengembalikan spiritualitas ke tempat yang paling konkret: rumah. Kita bisa khusyuk di sajadah, fasih menulis status agama, kuat bicara tentang ummah. Tapi Al-Qur’an bertanya pelan:
“Bagaimana sikapmu kepada ibu yang dulu memelukmu saat demam?
Bagaimana suaramu di hadapan ayah yang dulu menjual lelahnya agar engkau bisa sekolah?”
Mungkin standar naik turunnya derajat kita di sisi Allah lebih dekat dari yang kita kira: bukan hanya di lembaran amal besar, tapi di cara kita menyuguhkan segelas air, menahan nada bicara, dan mengucapkan “terima kasih” kepada dua manusia yang menjadi pintu pertama kedatangan kita ke dunia. Di situlah tadabbur QS. Luqman: 14 menemukan wujud paling jujur.
Syekh Sofyan Siroj Abdul Wahab



