BerandaInspirasiNasehatOase Dakwah: Mengenal Hakikat Allah

Oase Dakwah: Mengenal Hakikat Allah

spot_img

KABARLAH.COM, Pekanbaru – Segala puji bagi Allah swt, Tuhan yang Maha Esa, tidak ada sesuatu pun yang menyerupai-Nya, Dia Maha Mendengar lagi Maha Melihat. Shalawat dan salam semoga tercurah kepada Nabi Muhammad saw, kekasih Allah yang mengenalkan manusia kepada Tuhannya dengan sebenar-benar pengenalan.

Hati yang Rindu Mengenal Allah

Saudaraku, manusia diciptakan bukan hanya untuk makan, minum, dan mengejar dunia. Tujuan sejatinya adalah mengenal Allah swt.

Syekh Abdul Qadir al-Jailani dalam Fatḥ al-Rabbānī berkata: “Carilah Allah, bukan hanya surga-Nya. Kenalilah Dia dengan hati yang bersih, bukan dengan lisan yang penuh dusta.”
Artinya, ibadah kita bukan semata-mata karena takut neraka atau berharap surga, tetapi karena cinta untuk mengenal Allah.

Allah swt berfirman: “Aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan agar mereka beribadah kepada-Ku.” (QS. adz-Dzāriyāt: 56).

Imam Ibn ‘Abbās menafsirkan kata liya‘budūn sebagai liya‘rifūn—agar mereka mengenal Allah. Jadi, inti ibadah adalah ma‘rifatullah: mengenal Allah dengan hati.

Allah Tidak Serupa dengan Apa Pun.

Mengenal hakikat Allah bukan berarti menggambarkan-Nya dengan pancaindra. Allah di luar jangkauan pikiran manusia.

Allah swt berfirman: “Tidak ada sesuatu pun yang serupa dengan Dia. Dialah Yang Maha Mendengar lagi Maha Melihat.” (QS. asy-Syūrā: 11)

Rasulullah saw bersabda: “Renungilah ciptaan Allah, tetapi jangan sekali-kali merenungi zat Allah. Karena kalian tidak akan sanggup.” (HR. Abu Nu‘aim).

Maka, hakikat mengenal Allah adalah menyadari keagungan-Nya, menyaksikan tanda-tanda kekuasaan-Nya, dan meyakini sifat-sifat-Nya yang Maha Sempurna.

Jalan Ma‘rifat: Menyucikan Jiwa

Syekh Abdul Qadir al-Jailani menegaskan dalam Fatḥ al-Rabbānī: “Tidak ada jalan menuju Allah kecuali dengan membersihkan hati dari selain-Nya. Jika hati masih dipenuhi nafsu dan dunia, engkau tidak akan mengenal-Nya.”

Maka syarat mengenal Allah adalah tazkiyatun-nafs—penyucian jiwa. Orang yang hatinya kotor tak akan bisa melihat cahaya Allah, sebagaimana cermin berdebu tak akan memantulkan wajah.

Allah swt berfirman: “Sungguh beruntung orang yang menyucikan jiwanya, dan sungguh merugi orang yang mengotorinya.”
(QS. asy-Syams: 9–10)

Rasulullah saw bersabda: “Allah berfirman: Aku sesuai dengan prasangka hamba-Ku kepada-Ku. Jika ia mengingat-Ku dalam dirinya, Aku pun mengingatnya dalam diri-Ku.” (HR. Bukhari-Muslim).

Hadits ini mengajarkan bahwa jalan mengenal Allah adalah dengan menghadirkan-Nya di hati melalui dzikir dan husnuzan (prasangka baik).

Imam al-Ghazali dalam Iḥyā’ berkata: “Orang yang mengenal Allah, lidahnya sibuk berdzikir, hatinya sibuk bersyukur, dan tubuhnya sibuk berkhidmat.”

Sedangkan Syekh Abdul Halim Mahmud, ulama besar al-Azhar abad ke-20, menulis: “Ma‘rifatullah bukan sekadar ilmu teoretis, tetapi rasa kehadiran Allah dalam setiap denyut kehidupan. Orang arif melihat Allah dalam setiap peristiwa, baik suka maupun duka.”

Jalan Praktis Mengenal Allah

Pertama. Dzikir dan Tafakkur

Menyebut nama Allah dan merenungi ciptaan-Nya. Semakin banyak dzikir, semakin jernih hati menyaksikan kebesaran-Nya.

Kedua.Taat dan Ibadah Ikhlas

Ibadah bukan formalitas, tetapi wujud cinta. Shalat bukan sekadar gerakan, tetapi perjumpaan hati dengan Allah.

Keriga. Mujahadah Melawan Nafsu

Hati yang sibuk dengan dunia akan buta dari Allah. Mujahadah dengan puasa, sabar, dan syukur menjadikan hati ringan menuju-Nya.

Keempat. Doa dan Tawakkal

Mintalah agar Allah memperkenalkan diri-Nya kepada kita. Nabi saw sering berdoa:
“Ya Allah, tunjukkanlah kepada kami hakikat segala sesuatu sebagaimana adanya.” (HR. al-Bayhaqi).

Buah dari Ma‘rifatullah

Orang yang mengenal Allah akan memiliki hati yang lapang. Ia tidak lagi goncang oleh dunia, tidak gelisah dengan rezeki, dan tidak sombong dengan kedudukan. Hatinya yakin bahwa Allah-lah pengatur segala sesuatu.

Syekh Abdul Qadir al-Jailani berkata: “Barangsiapa mengenal Allah, maka ia akan ridha dengan segala ketetapan-Nya. Dunia tak lagi membuatnya bangga, musibah tak lagi membuatnya goncang.”

Inilah ketenangan yang Allah janjikan dalam Al-Qur’an: “Wahai jiwa yang tenang, kembalilah kepada Tuhanmu dengan ridha dan diridhai. Masuklah ke dalam golongan hamba-Ku, dan masuklah ke dalam surga-Ku.” (QS. al-Fajr: 27–30)

Saudaraku, mengenal hakikat Allah bukan perkara akal semata, melainkan hati yang disucikan. Ia bukan sekadar tahu, tetapi merasa hadir-Nya dalam setiap hembusan nafas.

Mari kita ikuti jalan para kekasih Allah: membersihkan hati, memperbanyak dzikir, ikhlas beribadah, dan menjadikan Allah satu-satunya tujuan. Dengan begitu, kita tidak hanya mengenal nama-Nya, tetapi benar-benar mengenal-Nya dengan hati.

Semoga Allah SWT mengenalkan diri-Nya kepada kita, menjadikan kita hamba yang ridha dan diridhai, hingga kelak dipanggil dengan penuh cinta: “Wahai jiwa yang tenang, kembalilah kepada Tuhanmu.” Allahu A‘lam.

Oleh: Syekh Sofyan Siroj Abdul Wahab.

spot_img

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

WAJIB DIBACA

spot_img