KABARLAH.COM, Pekanbaru – Tokoh Indonesia, Pangeran Mohammad Soleh Ridwan atau Datuk Setya Amanah Mangku Bumi dari Kesultanan Batara Saur Darussalam–Riau Legacy sekaligus Global Indigenous Monarchical Alliance–Royal Pajajaran Legacy Indonesia, dipercaya menjadi Honored Guest Speaker dalam Extraordinary Supranational Convention 2026 yang berlangsung di The St. Regis Singapore, Rabu (15/7/2026).
Konvensi internasional yang diselenggarakan oleh Creating The Future Today bekerja sama dengan World Philosophical Forum (WPF) tersebut mempertemukan para pemimpin dunia, akademisi, tokoh kemanusiaan, dan pemikir global untuk membahas masa depan peradaban di tengah berbagai tantangan internasional.
Kepercayaan yang diberikan kepada Pangeran Mohammad Soleh Ridwan dinilai menjadi bentuk pengakuan terhadap kontribusi Indonesia dalam forum internasional. Dalam kesempatan itu, ia menyampaikan pesan perdamaian yang berlandaskan filosofi bangsa Indonesia, Bhinneka Tunggal Ika, sebagai salah satu nilai yang dapat mendukung terwujudnya harmoni global.

Prof. Dr. Syekh Sofyan Siroj Abdul Wahab, Ph.D., selaku Datuk Setya Amanah Dewa Negeri Kesultanan Batara Saur Darussalam, Riau, Indonesia, mengapresiasi kepercayaan yang diberikan kepada Pangeran Mohammad Soleh Ridwan sebagai Honored Guest Speaker dalam Extraordinary Supranational Convention 2026. Menurutnya, kehadiran tokoh Indonesia sebagai pembicara kehormatan pada forum internasional tersebut merupakan bentuk pengakuan terhadap nilai-nilai budaya Nusantara yang relevan dalam menjawab tantangan global.
“Kepercayaan yang diberikan kepada Pangeran Mohammad Soleh Ridwan merupakan kehormatan yang patut kita syukuri. Ini bukan hanya menjadi kebanggaan bagi Kesultanan Batara Saur Darussalam, tetapi juga menunjukkan bahwa Indonesia memiliki warisan nilai, budaya, dan kearifan lokal yang mampu memberikan kontribusi nyata dalam membangun dialog peradaban dunia. Filosofi Bhinneka Tunggal Ika yang beliau sampaikan mencerminkan semangat persatuan dalam keberagaman yang selama ini menjadi kekuatan bangsa Indonesia dan sangat relevan untuk mendorong terciptanya perdamaian global,” ujar Prof. Dr. Syekh Sofyan Siroj.
Ia berharap partisipasi tersebut dapat semakin memperkuat posisi Indonesia dalam berbagai forum internasional, sekaligus membuka ruang kolaborasi yang lebih luas di bidang perdamaian, kemanusiaan, pendidikan, dan pengembangan peradaban dunia yang inklusif serta berkelanjutan.

Dalam paparannya yang bertajuk “Bhinneka Tunggal Ika Embraces the Programs of WPF-UNESCO, World Philosophical Forum, and International Alliance of BRICS Strategic Projects”, Pangeran Mohammad Soleh Ridwan menjelaskan bahwa Bhinneka Tunggal Ika bukan sekadar semboyan nasional, melainkan filosofi Nusantara yang telah hidup selama lebih dari seribu tahun dengan makna Unity in Diversity atau “Berbeda-beda tetapi tetap satu”.
Menurutnya, filosofi tersebut mengajarkan bahwa perbedaan bukan alasan untuk terpecah, melainkan kekuatan yang harus dijaga, dihormati, dan dipersatukan tanpa menghilangkan identitas masing-masing.
Dalam pidatonya, ia menyampaikan pesan yang mendapat perhatian para peserta konvensi.
“Unity in Diversity embraces the programs of WPF-UNESCO, the World Philosophical Forum, and the International Alliance of BRICS Strategic Projects. We do not ask the world to be the same. We invite the world to nurture one another within our differences.”
Pesan tersebut menegaskan bahwa dunia tidak harus menjadi seragam untuk dapat hidup berdampingan. Sebaliknya, setiap bangsa diajak saling menghargai, saling menguatkan, dan membangun peradaban bersama di tengah keberagaman.
Kearifan Lokal sebagai Solusi Global
Selain mengangkat filosofi Bhinneka Tunggal Ika, Pangeran Mohammad Soleh Ridwan juga menekankan pentingnya kearifan lokal sebagai fondasi dalam membangun karakter bangsa (nation character) dan kapasitas bangsa (nation capacity). Menurutnya, setiap negara memiliki kompetensi, kapasitas, dan potensi yang berbeda sehingga harus dihormati sebagai kekuatan dalam mewujudkan perdamaian dunia.
Ia juga menegaskan bahwa perjuangan memperkuat hak asasi manusia, kesetaraan, solidaritas, dan inklusivitas perlu terus menjadi agenda bersama masyarakat internasional.
Sementara itu, “Extraordinary Supranational Convention 2026” mengangkat sejumlah isu strategis, mulai dari perdamaian dunia, dialog antaragama, etika teknologi, kepemimpinan spiritual, hingga pembentukan tatanan dunia yang berlandaskan persatuan universal.
Penyelenggara menyatakan forum tersebut bertujuan memperkuat kolaborasi lintas negara, budaya, dan peradaban dalam menghadapi tantangan global yang semakin kompleks.
Sorot Perdamaian Dunia dan Etika Teknologi
Salah satu dokumen yang dibahas dalam forum itu adalah The Final Resolution of the Supranational Convention 2026. Dokumen tersebut antara lain menyerukan penghentian konflik bersenjata di berbagai negara, perlucutan senjata secara menyeluruh, serta pengalihan sebagian anggaran militer untuk mendukung pendidikan dan pembangunan generasi masa depan.
Resolusi tersebut juga mengusulkan pembentukan Supranational Emergency Committee of Earth’s Citizens, sebuah komite internasional yang diharapkan dapat mengawal transisi menuju masyarakat global yang lebih damai, bersatu, dan berkelanjutan.
Dalam dokumen resolusi disebutkan bahwa konvensi tersebut diselenggarakan sebagai respons terhadap kondisi dunia yang dinilai semakin mengkhawatirkan.
“Konvensi ini bersifat darurat karena memburuknya kondisi planet yang mengancam kehancuran umat manusia dan seluruh kehidupan di Bumi.”
Indonesia Membawa Nilai Perdamaian
Kehadiran Pangeran Mohammad Soleh Ridwan sebagai pembicara kehormatan menunjukkan partisipasi Indonesia dalam dialog internasional mengenai perdamaian, kemanusiaan, dan masa depan peradaban dunia. Melalui filosofi Bhinneka Tunggal Ika, Indonesia menawarkan pendekatan yang menempatkan keberagaman sebagai kekuatan untuk membangun persatuan.
Penyelenggara berharap berbagai gagasan yang lahir dari forum tersebut dapat mendorong langkah konkret dalam memperkuat kerja sama global guna mewujudkan dunia yang lebih damai, adil, inklusif, dan berkelanjutan.
Selain Pangeran Mohammad Soleh Ridwan, konvensi ini juga dihadiri sejumlah tokoh internasional, antara lain Larisa Zelentsova (RF Expert in the United Nations, International Alliance of BRICS Strategic Projects), Igor Kondrashin (President & CEO World Philosophical Forum/WPF), Zyomara Briseida Delgado Reynoso (Vice President, International GUSI Peace Prize Laureate), Dr. Salem Humaid Saif Al Mazini (Founder & President BRICS International Football Alliance/BIFA), Bat-Uul Baldandorj (Board Chairman of Unity Asset Management), serta Grand Master Jason Tan dari Federation of World Cultural & Art Society, Singapura.
Forum tersebut diharapkan menjadi momentum untuk memperkuat kolaborasi internasional sekaligus menegaskan bahwa nilai-nilai lokal, seperti Bhinneka Tunggal Ika, dapat menjadi inspirasi dalam membangun perdamaian dan persatuan di tingkat global. ***



