KABARLAH.COM, Pekanbaru – Institute for Southeast Asian Islamic Studies (ISAIS) UIN Suska Riau bersama dengan Asosiasi Ilmu Politik Indonesia (AIPI) Riau menyelenggarakan kegiatan Bincang Diskursus Keragamaan (BIDUK) ke-3 dengan tema “Komodifikasi Agama dan Politik Elektoral 2024”.
Acara ini dilakukan secara hybrid, dengan peserta hadir secara online dan offline di Norma Caffee Pekanbaru. Diskusi kali ini menyoroti isu penting terkait keterlibatan agama dalam politik elektoral.
Dalam paparannya, Adi Prayitno, seorang pengamat politik, memaparkan sisi perilaku pemilih dalam konteks pemilu 2024.
Menurutnya, tidak ada pemilih yang memilih seorang kandidat hanya karena dianggap sebagai sosok yang religius atau saleh.
“Pemilih itu lebih memilih kedekatan, kemampuan calon dalam menyelesaikan persoalan daerah, seperti nelayan yang butuh bantuan, dan hal-hal konkrit lainnya,” ujar Adi.
Ia juga menegaskan bahwa isu agama dalam kampanye hanya dijadikan sebagai komoditas politik belaka.
“Yakinlah, penggunaan agama sebagai instrumen politik pasti akan kalah,” tambahnya.
Adi juga mengingatkan bahwa ulama yang terlibat dalam politik harus siap menghadapi perbedaan tanpa saling mengkafirkan atau menyalahkan satu sama lain.
Sementara itu, Idris Hemay, Direktur CSRC UIN Jakarta, juga menyampaikan pandangan yang senada. Ia menekankan pentingnya menjaga politik dari komodifikasi agama.
“Agama tidak lagi menjadi modal kuat yang dapat dijual sebagai alat untuk menarik suara. Publik kini lebih kritis dan melihat integritas serta kemampuan kandidat dalam memimpin,” ungkap Idris.
Kegiatan BIDUK ke-3 ini berhasil menarik perhatian para peserta dari berbagai kalangan, mulai dari akademisi, mahasiswa, hingga praktisi politik. Diskusi ini diharapkan dapat memberikan pemahaman yang lebih mendalam tentang dinamika politik elektoral di Indonesia, khususnya dalam kaitannya dengan isu komodifikasi agama.



