KABARLAH.COM, PEKANBARU- Membangun citra positif sebuah negara ternyata tidak hanya bergantung pada jalur formal pemerintah. Efektivitas praktik diplomasi melalui interaksi keseharian ini dikaji secara langsung oleh mahasiswa Program Studi Hubungan Masyarakat Universitas Muhammadiyah Riau (UMRI).

Melalui riset lapangan yang dilaksanakan pada 15 dan 23 Juni 2026 di Pekanbaru, para mahasiswa meneliti dampak *people-to-people diplomacy* terhadap reputasi Indonesia sebagai bagian dari Ujian Akhir Semester (UAS) mata kuliah PR Internasional & Diplomasi Publik.
Dengan melakukan wawancara langsung di kawasan Tuanku Tambusai dan Rumbai, tim mahasiswa menelusuri pengalaman dua warga negara asing, yakni Abtoullah Rithvan dan Nourh Shatta. Abtoullah adalah seorang mahasiswa Perbankan Syariah asal Kamboja, sedangkan Nourh merupakan penerjemah daring asal Sudan yang sudah lama menetap di Indonesia.
Sebelum menginjakkan kaki di Tanah Air, ekspektasi keduanya cukup berbeda. Abtoullah meyakini Indonesia akan memberikan kenyamanan karena ia mengenalnya melalui jalur pesantren sebagai negara dengan mayoritas penduduk Muslim.
Di sisi lain, Nourh yang pertama kali mendengar tentang Indonesia dari teman-temannya di Malaysia memiliki pandangan berbeda. Ia mengaku sempat mengira bahwa jika orang membahas tentang Indonesia, maka hal itu hanya sebatas tentang Bali.
Dalam hal adaptasi budaya, keduanya menghadapi dinamika tersendiri. Abtoullah menuturkan bahwa dirinya sempat menjumpai kendala bahasa pada masa awal kedatangannya, sehingga ia harus membiasakan diri secara perlahan.
Sebaliknya, Nourh yang telah tinggal selama kurang lebih tujuh tahun merasa sangat mudah beradaptasi. Hal ini didukung oleh pengalamannya berkunjung ke berbagai daerah di Jawa dan Sumatera serta menyelami variasi tradisi setempat.
Meski memiliki proses penyesuaian yang berbeda, keduanya sepakat bahwa keramahan masyarakat Indonesia sangat membekas di hati. Nourh menyoroti karakter masyarakat lokal yang hangat, murah senyum, serta selalu menunjukkan sikap saling menghormati terhadap orang asing.
Senada dengan hal tersebut, Abtoullah mengagumi keberagaman budaya di Indonesia, khususnya budaya Melayu, serta sikap bersahabat warga lokal yang sering berinisiatif mengajaknya berinteraksi.
Interaksi langsung dengan warga lokal ini terbukti paling berhasil mengubah pandangan mereka menjadi jauh lebih positif, melampaui peran media sosial dalam memperkenalkan Indonesia ke kancah global.
Pengalaman berharga tersebut bahkan membuat Nourh berencana menulis buku tentang perjalanannya di Indonesia, sementara Abtoullah antusias untuk menceritakan keramahan masyarakat lokal kepada rekan-rekannya di Kamboja.
Kajian lapangan ini pada akhirnya membuktikan bahwa praktik *people-to-people diplomacy* menjadi instrumen komunikasi yang sukses memperkuat reputasi Indonesia di mata dunia. Hal ini terwujud berkat sikap ramah, toleransi, dan keterbukaan yang ditunjukkan oleh masyarakat lokal.



