KABARLAH.COM – Allah ﷻ berfirman:
وَمَنْ يُّهِنِ اللّٰهُ فَمَا لَهٗ مِنْ مُّكْرِمٍ
“Barang siapa dihinakan Allah, tidak seorang pun dapat memuliakannya.” QS. Al-Ḥajj: 18.
Kemuliaan sejati tidak ditentukan oleh jabatan, kekayaan, gelar, popularitas, atau banyaknya pengikut. Semua itu dapat meninggikan seseorang di mata manusia, tetapi belum tentu memuliakannya di sisi Allah.
Seseorang dapat tampak terhormat, tetapi sesungguhnya hina karena kesombongan, kezaliman, kemunafikan, dan penolakannya terhadap kebenaran. Sebaliknya, seseorang mungkin tidak dikenal manusia, tetapi mulia di langit karena iman, ketakwaan, keikhlasan, dan ketundukannya kepada Allah.
Allah ﷻ berfirman:
اِنَّ اَكْرَمَكُمْ عِنْدَ اللّٰهِ اَتْقٰىكُمْ
“Sesungguhnya yang paling mulia di antara kamu di sisi Allah ialah orang yang paling bertakwa.” QS. Al-Ḥujurāt: 13.
Kehinaan terbesar bukanlah kehilangan kedudukan, melainkan kehilangan hidayah. Bukan tidak dihormati manusia, melainkan tidak mampu lagi menerima nasihat. Bukan jatuh miskin, melainkan menjadi kaya tetapi diperbudak dunia.
Sujud adalah jalan untuk meruntuhkan kesombongan. Ketika wajah diletakkan di tanah, jiwa seorang mukmin justru diangkat menuju kemuliaan. Rasulullah ﷺ bersabda:
وَمَا تَوَاضَعَ أَحَدٌ لِلّٰهِ إِلَّا رَفَعَهُ اللّٰهُ
“Tidaklah seseorang merendahkan dirinya karena Allah, melainkan Allah akan mengangkat derajatnya.” HR. Muslim.
Karena itu, jangan mencari kemuliaan melalui maksiat, kezaliman, atau pujian manusia. Kemuliaan tidak dimulai ketika seseorang berdiri di hadapan manusia, tetapi ketika ia bersujud di hadapan Allah.
Barang siapa tunduk kepada Allah, Allah akan mengangkatnya. Barang siapa menyombongkan diri di hadapan-Nya, tidak ada kekuasaan dan pujian manusia yang mampu menyelamatkannya dari kehinaan.
Syekh Sofyan Siroj Abdul Wahab.



