KABARLAH.COM – Allah ﷻ berfirman:
وَالصُّلْحُ خَيْرٌ
“Perdamaian itu lebih baik.” QS. An-Nisā’: 128.
Perdamaian bukan tanda kelemahan. Ia adalah kekuatan jiwa untuk menundukkan ego, meredakan kemarahan, dan memilih jalan yang lebih dekat kepada rida Allah.
Banyak konflik bertahan bukan karena masalahnya terlalu besar, tetapi karena masing-masing pihak ingin menang. Manusia ingin didengar, tetapi enggan mendengar. Ia ingin dimengerti, tetapi sulit memahami. Ia sibuk menuntut hak, namun lupa menunaikan kewajiban.
Karena itu, Al-Qur’an mengingatkan:
وَاُحْضِرَتِ الْاَنْفُسُ الشُّحَّ
“Jiwa manusia itu dihadirkan bersama sifat kikir.” QS. An-Nisā’: 128.
Kikir tidak hanya pada harta. Ada pula kekikiran dalam memberi maaf, perhatian, pengertian, dan kesempatan untuk memperbaiki diri.
Allah ﷻ juga berfirman:
فَاتَّقُوا اللّٰهَ وَاَصْلِحُوْا ذَاتَ بَيْنِكُمْ
“Bertakwalah kepada Allah dan perbaikilah hubungan di antara sesamamu.” QS. Al-Anfāl: 1.
Perdamaian yang diridai Allah bukanlah perdamaian yang menutupi kezaliman. Ia harus berdiri di atas kebenaran, kerelaan, dan keadilan. Namun selama batas-batas Allah tetap dijaga, mengalah dalam perkara yang tidak prinsip sering kali lebih mulia daripada mempertahankan pertengkaran.
Rasulullah ﷺ bersabda:
وَمَا زَادَ اللّٰهُ عَبْدًا بِعَفْوٍ إِلَّا عِزًّا
“Tidaklah Allah menambah kepada seorang hamba yang memaafkan, kecuali kemuliaan.” HR. Muslim.
Memaafkan tidak menjadikan seseorang hina. Meminta maaf tidak menjadikannya kalah. Justru keduanya menunjukkan bahwa hati lebih besar daripada luka.
Maka ketika hubungan mulai retak, jangan hanya bertanya, “Siapa yang paling benar?” Bertanyalah:
“Apa yang paling diridai Allah dan paling sedikit menimbulkan kerusakan?”
Perdamaian adalah kemenangan kebijaksanaan atas ego, kasih sayang atas kemarahan, dan masa depan atas luka masa lalu.
Kadang kita tidak kehilangan kehormatan ketika mengalah; kita justru menemukannya.
Syekh Sofyan Siroj Abdul Wahab.



