KABARLAH.COM -بِسْمِ اللهِ الرَّحْمٰنِ الرَّحِيْمِ
Hikmah besar dari ungkapan “tiada yang mampu menolak takdir kecuali doa” adalah bahwa seorang hamba tidak boleh pasif di hadapan takdir. Doa bukan lawan dari ketetapan Allah, tetapi bagian dari takdir Allah itu sendiri. Allah yang menakdirkan suatu keadaan, dan Allah pula yang menakdirkan doa, taubat, istighfar, sedekah, dan ikhtiar sebagai sebab datangnya rahmat.
Allah berfirman:
وَقَالَ رَبُّكُمُ ادْعُونِي أَسْتَجِبْ لَكُمْ
“Dan Rabb kalian berfirman: Berdoalah kepada-Ku, niscaya Aku kabulkan untuk kalian.”
QS. Ghāfir: 60
Ayat ini menunjukkan bahwa doa adalah perintah Allah. Maka orang yang berdoa bukan sedang menolak kehendak Allah, tetapi sedang menjalankan kehendak Allah dalam bentuk ibadah. Rasulullah ﷺ bersabda:
الدُّعَاءُ هُوَ الْعِبَادَةُ
“Doa itu adalah ibadah.”
HR. Abu Dawud dan Tirmidzi
Dalam hadits lain disebutkan:
لَا يَرُدُّ الْقَدَرَ إِلَّا الدُّعَاءُ
“Tidak ada yang dapat menolak takdir kecuali doa.”
HR. Tirmidzi, Ibnu Majah, dan Ahmad; dinilai hasan oleh sebagian ulama.
Maknanya, Allah menjadikan doa sebagai sebab untuk mengangkat, meringankan, menunda, atau mengganti suatu bala sesuai ilmu dan hikmah-Nya. Karena itu, iman kepada takdir tidak boleh membuat seorang hamba malas berdoa. Justru semakin kuat iman kepada takdir, semakin kuat pula ketergantungan hati kepada Allah.
Allah berfirman:
وَمَا كَانَ اللَّهُ مُعَذِّبَهُمْ وَهُمْ يَسْتَغْفِرُونَ
“Dan Allah tidak akan mengazab mereka selama mereka beristighfar.”
QS. Al-Anfāl: 33
Maka istighfar, doa, dan taubat adalah benteng dari bala. Dalam ruh Futūḥ al-Ghaib, seorang salik diajarkan agar tidak lari dari Allah ketika takdir terasa berat, tetapi justru berlari menuju Allah.
Hikmahnya: ketika takut musibah, berdoalah. Ketika sakit, berdoalah dan berobatlah. Ketika sempit, berdoalah dan berikhtiarlah. Doa adalah pintu rahmat, istighfar adalah pintu ampunan, tawakal adalah jalan ketenangan, dan ikhtiar adalah adab kehambaan.
آمِيْنَ
Syekh Sofyan Siroj Abdul Wahab.



