KABARLAH.COM – “Jalan Menuju Kesembuhan Bangsa yang Sakit” menggunakan perumpamaan : bangsa disamakan dengan tubuh manusia. Sebagaimana manusia dapat mengalami masa muda, kuat, sehat, lalu jatuh sakit dan melemah, demikian pula sebuah bangsa. Ia bisa berjaya, bermartabat, berdaulat, dan memiliki kekuatan moral; tetapi bila terkena penyakit politik, ekonomi, pemikiran, sosial, pendidikan, dan kejiwaan, maka bangsa itu akan kehilangan daya hidupnya. Perumpamaan ini penting karena membuat persoalan kebangsaan tidak hanya dilihat secara administratif, tetapi juga secara ruhani, moral, dan peradaban.
Pokok utama adalah bahwa kerusakan bangsa tidak terjadi tiba-tiba. Ia biasanya bermula dari penyakit yang kecil, lalu menyebar ke seluruh tubuh bangsa. Dalam bidang politik, penyakit itu tampak pada penjajahan, fanatisme kelompok, permusuhan, perpecahan, dan hilangnya persatuan. Bila sebuah bangsa lebih sibuk bertengkar di dalam daripada membangun kekuatan bersama, maka musuh dari luar akan mudah masuk. Perpecahan internal adalah pintu bagi kelemahan eksternal.
Dalam bidang ekonomi, menyoroti riba dan penguasaan sumber daya oleh pihak asing. Ini menunjukkan bahwa kemerdekaan politik tidak cukup bila suatu bangsa masih lemah secara ekonomi. Bangsa yang sumber dayanya dikuasai orang lain akan sulit berdiri tegak. Ia bisa memiliki bendera, lagu kebangsaan, dan pemerintahan sendiri, tetapi bila kekayaan, pasar, tanah, dan hasil alamnya dikendalikan pihak luar, maka kedaulatannya menjadi rapuh.
Dalam bidang pemikiran, penyakit bangsa tampak pada kekacauan ide, lemahnya iman, hilangnya arah, dan runtuhnya cita-cita luhur. Sebuah bangsa tidak hanya hidup dari makanan dan pembangunan fisik, tetapi juga dari keyakinan, nilai, ilmu, dan visi. Bila generasi mudanya kehilangan pegangan, mudah meniru tanpa menyaring, dan merasa rendah di hadapan bangsa lain, maka perlahan ia kehilangan kepribadian. Kekaguman buta kepada musuh atau kepada peradaban lain menjadi berbahaya apabila membuat suatu bangsa meniru keburukannya, bukan mengambil ilmunya.
Dalam bidang sosial, kerusakan akhlak, pornografi, pelepasan diri dari nilai-nilai luhur, dan gaya hidup yang meniru Barat secara membabi buta. Kritik ini bukan berarti menolak seluruh kemajuan luar, tetapi menolak sikap kehilangan jati diri. Bangsa yang sehat mampu mengambil ilmu, teknologi, dan kedisiplinan dari mana pun, tetapi tetap menjaga akhlak, agama, keluarga, kehormatan, dan budaya mulianya.
Dalam bidang pendidikan, penyakit bangsa tampak ketika sistem pendidikan tidak lagi membentuk manusia yang berkarakter, beriman, berilmu, dan siap memikul amanah. Pendidikan yang hanya mencetak tenaga kerja tanpa membentuk jiwa, adab, dan tanggung jawab akan melahirkan generasi pintar tetapi rapuh. Padahal masa depan bangsa berada pada kualitas manusia yang dibentuk hari ini.
Penyakit paling dalam adalah penyakit kejiwaan: putus asa, malas, pengecut, hina diri, lalai, dan egois. Ini adalah penyakit mental kolektif. Bila rakyat kehilangan harapan, pemimpin kehilangan keberanian, ulama kehilangan suara, pemuda kehilangan cita-cita, dan orang kaya kehilangan kepedulian, maka bangsa akan tampak hidup tetapi ruh perjuangannya mati.
Obat yang ditawarkan ada tiga: mengetahui sumber penyakit, sabar menjalani pengobatan, dan adanya tabib ahli. Maknanya, bangsa harus berani melakukan diagnosis jujur, tidak sekadar menyalahkan pihak luar. Ia harus sabar menjalani proses pembaruan, karena penyembuhan bangsa tidak instan. Dan ia membutuhkan para pemimpin, ulama, pendidik, intelektual, serta pejuang yang ikhlas dan ahli sebagai “tabib peradaban”.
Ini adalah seruan kebangkitan. Bangsa yang sakit masih bisa sembuh bila ia mengenali penyakitnya, kembali kepada nilai ilahi, memperkuat ilmu, menyatukan barisan, memperbaiki ekonomi, membenahi pendidikan, dan membangkitkan keberanian moral. Kesembuhan bangsa bukan hanya kembalinya kekuatan fisik, tetapi kembalinya iman, akhlak, persatuan, kedaulatan, dan cita-cita besar.
Syekh Sofyan Siroj Abdul Wahab.



