BerandaInspirasiNasehatTadabbur: Membina Masyarakat

Tadabbur: Membina Masyarakat

spot_img

KABARLAH.COM – Bismillāhirraḥmānirraḥīm. Ungkapan “Membina Masyarakat” adalah ungkapan yang tampak sederhana, tetapi sesungguhnya memuat pandangan hidup yang sangat dalam. Dalam kerangka Melayu-Islami, ia tidak boleh dipahami sekadar sebagai aktivitas mengatur orang banyak agar tertib secara lahiriah. Ia jauh lebih besar dari itu. “Membina masyarakat” berarti memimpin manusia sebagai amanah Allah, mengelola kehidupan bersama dengan adab, menegakkan keadilan, menjaga marwah, serta menuntun arah sosial agar tetap berada di bawah cahaya petunjuk Allah dan Rasul-Nya.

Secara filosofis, ungkapan ini menegaskan bahwa masyarakat bukan sekadar kumpulan individu yang hidup berdekatan. Masyarakat adalah jaringan amanah: ada hak, ada kewajiban, ada tanggung jawab, ada hubungan moral, ada warisan nilai, dan ada masa depan bersama. Karena itu, orang yang berbicara tentang membina masyarakat sesungguhnya sedang berbicara tentang mengelola manusia, bukan sebagai objek kuasa, tetapi sebagai makhluk Allah yang memiliki kehormatan, beban tanggung jawab, dan tujuan hidup.

Di sinilah perbedaan penting antara membina dan menguasai. Membina mengandung unsur memimpin, mendidik, membimbing, mengarahkan, memanaj, dan menumbuhkan. Adapun menguasai cenderung menunjuk kepada dominasi, pemaksaan, dan penundukan menurut kehendak diri. Islam tidak mengajarkan manusia menjadi penguasa mutlak atas hati sesamanya. Manusia diberi kewajiban berikhtiar, tetapi tidak diberi kuasa atas hidayah. Karena itu, bahasa “membina masyarakat” lebih benar, lebih adab, dan lebih tauhid daripada bahasa yang memberi kesan bahwa manusia dapat menentukan segala hasil secara mutlak.

Allah ﷻ berfirman:

إِنَّكَ لَا تَهْدِي مَنْ أَحْبَبْتَ وَلَٰكِنَّ اللَّهَ يَهْدِي مَنْ يَشَاءُ
“Sesungguhnya engkau tidak dapat memberi petunjuk kepada orang yang engkau cintai, tetapi Allah memberi petunjuk kepada siapa yang Dia kehendaki.”
(QS. Al-Qashash: 56)

Ayat ini adalah fondasi adab dalam seluruh pembinaan sosial. Bahkan Rasulullah ﷺ, manusia paling mulia, tidak memiliki kuasa mutlak untuk menanamkan hidayah ke dalam hati orang yang beliau cintai. Maka apalagi manusia biasa. Dari sini kita belajar: tugas pemimpin, pendidik, orang tua, ulama, ninik mamak, dan para pemegang amanah sosial adalah membina dengan sungguh-sungguh, bukan merasa memiliki kuasa mutlak atas hasil.

Secara akademik, masyarakat yang sehat tidak lahir hanya dari infrastruktur, program, atau kebijakan formal. Semua itu penting, tetapi tidak cukup. Sebuah masyarakat akan kokoh jika ada tiga lapis yang berjalan seimbang: aturan yang adil, kepemimpinan yang amanah, dan kesadaran moral yang hidup. Bila aturan ada tetapi amanah hilang, maka hukum menjadi alat kepentingan. Bila pemimpin ada tetapi adab mati, maka kuasa berubah menjadi penindasan. Bila program banyak tetapi hati rusak, maka pembangunan hanya memperindah permukaan sambil membiarkan keretakan batin terus melebar.

Karena itu, membina masyarakat secara zahir berarti memastikan bahwa kehidupan bersama ditopang oleh tata kelola yang benar. Harus ada pemimpin yang membimbing, bukan menindas; hukum yang melindungi, bukan menzalimi; musyawarah yang mencari hikmah, bukan sekadar formalitas; serta perlindungan yang nyata bagi pihak yang lemah. Dalam istilah yang lebih dekat dengan bahasa masa kini, membina masyarakat berarti memanaj sumber daya manusia sebagai amanah, bukan sekadar mengendalikan massa. Potensi manusia harus diarahkan, hak-haknya dijaga, akhlaknya dibina, dan energinya dituntun kepada maslahat.

Namun Al-Qur’an mengajarkan bahwa persoalan masyarakat tidak pernah selesai hanya dengan pendekatan lahiriah. Kerusakan sosial pada mulanya sering berakar dari kerusakan batin: hilangnya amanah, matinya rasa malu, kerasnya hati, rakusnya nafsu, dan pudarnya takut kepada Allah. Karena itu, secara ruhani, membina masyarakat berarti membangun jiwa kolektif yang masih hidup nuraninya. Masyarakat yang sehat bukan hanya masyarakat yang tertib lalu lintasnya atau ramai programnya, tetapi masyarakat yang masih merasa bersalah ketika zalim, masih takut ketika berkhianat, masih peduli ketika melihat penderitaan, dan masih menjaga adab ketika berbeda pendapat.

Rasulullah ﷺ bersabda:

“Setiap kalian adalah pemimpin, dan setiap kalian akan dimintai pertanggungjawaban atas yang dipimpinnya.”
(HR. al-Bukhari dan Muslim)

Hadits ini menempatkan pembinaan masyarakat sebagai persoalan amanah, bukan prestise. Orang tua memimpin rumah tangga. Guru memimpin ruang pendidikan. Ulama memimpin kesadaran umat. Pemimpin memimpin urusan rakyat. Raja memimpin negeri. Semua akan ditanya, bukan pertama-tama tentang seberapa besar kuasa yang dipegang, tetapi tentang bagaimana amanah itu dijalankan. Maka pembinaan sosial yang benar selalu menuntut dua hal sekaligus: kesungguhan ikhtiar dan kerendahan hati di hadapan Allah.

Dalam bahasa populisnya, masyarakat tidak akan baik hanya karena banyak pidato, spanduk, rapat, atau proyek. Masyarakat menjadi baik bila yang kuat tidak menindas, yang berilmu mau membimbing, yang memimpin takut kepada Allah, yang berbeda tetap beradab, dan yang memegang amanah tidak menjadikan manusia sebagai alat. Itulah masyarakat yang dibina, bukan sekadar diatur.

Tadabbur dari tema ini membawa kita pada satu kesimpulan besar: membina masyarakat adalah ibadah peradaban. Ia adalah kerja lahir dan batin sekaligus. Lahirnya menegakkan aturan, batinnya menghidupkan nilai. Lahirnya mengelola manusia, batinnya menjaga niat. Lahirnya memimpin dengan kebijakan, batinnya bersandar dengan tawakkal.

Maka inti hikmahnya ialah: manusia wajib membina, tetapi tidak boleh sombong terhadap hasil; manusia wajib memimpin, tetapi tidak boleh merasa memiliki hati manusia; manusia wajib mengelola kehidupan bersama, tetapi seluruhnya harus tunduk kepada hukum Allah dan Rasul-Nya.

Karena itu, “Membina Masyarakat” bukan sekadar soal mengatur banyak orang, tetapi memimpin dan memanaj banyak orang sebagai amanah Allah, agar kehidupan bersama berjalan dalam keadilan, adab, amanah, dan ridha-Nya. Di situlah letak peradaban yang sejati: bukan hanya tertib di permukaan, tetapi juga hidup nuraninya, jernih akalnya, lurus niatnya, dan takut kepada Allah dalam seluruh langkah sosialnya.

Oleh: Syekh Sofyan Siroj Abdul Wahab.

spot_img

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

WAJIB DIBACA

spot_img