BerandaInspirasiNasehatRamadhan Syahrul Qur'an, Iman yang Stabil di Zaman Bising: Menjadikan Al-Qur’an sebagai...

Ramadhan Syahrul Qur’an, Iman yang Stabil di Zaman Bising: Menjadikan Al-Qur’an sebagai Sistem Hidup

spot_img

KABARLAH.COM, Pekanbaru – Zaman ini bising—bukan hanya oleh suara, tetapi oleh makna yang saling bertabrakan. Informasi melimpah, namun arah hidup makin kabur. Banyak orang merasa “beriman” karena masih percaya dalam kepala, tetapi hati mudah pecah oleh emosi, keputusan sering dipimpin nafsu, dan ibadah menjadi rutinitas yang tak selalu melahirkan akhlak.

Di sinilah Al-Qur’an hadir bukan sekadar “buku suci yang dibaca”, melainkan sistem yang membangun manusia: menguatkan tauhid, menata orientasi hidup, membersihkan penyakit batin, dan menurunkan iman menjadi adab sosial. Allah menegaskan: “Sesungguhnya Al-Qur’an ini memberi petunjuk kepada jalan yang paling lurus.” (QS Al-Isrā’ 17:9). Petunjuk paling lurus berarti bukan hanya indah didengar, tetapi layak dijadikan kompas keputusan.

Secara akademik, iman itu bukan status statis; ia adalah kualitas dinamis yang bisa bertambah atau berkurang, tergantung “asupan” dan “pengelolaan batin”. Nabi ﷺ menegaskan iman memiliki cabang-cabang yang banyak; artinya iman bertingkat, bertumbuh, dan teruji dalam amal.

Karena itu, iman yang stabil memerlukan “arsitektur”: fondasi, pilar, dan perawatan. Al-Qur’an adalah bahan bangunannya yang paling kuat—sebab ia tidak hanya memerintah beriman, tetapi membentuk cara berpikir tentang Allah, manusia, dunia, dan akhirat. Dalam bahasa populis: Al-Qur’an bukan hanya mengajari kita “apa yang benar”, tetapi juga “bagaimana menjadi orang benar”.

Mengapa banyak orang “membaca” tetapi tidak “terbangun”? Karena membaca saja belum cukup. Al-Qur’an sendiri menyebut tujuannya: “Kitab yang Kami turunkan penuh berkah agar mereka mentadabburi ayat-ayatnya…” (QS Ṣād 38:29).

Tadabbur adalah titik balik: ketika ayat tidak berhenti sebagai suara, tetapi masuk sebagai pertanyaan yang mengoreksi: “Apa yang harus aku benahi?” Tanpa tadabbur, tilawah mudah menjadi kebiasaan dingin; dengan tadabbur, tilawah menjadi energi perubahan. Di sini tampak hikmah para ulama tarbiyah: Al-Qur’an dibaca sebagai bimbingan pembentukan manusia—bukan sekadar informasi, melainkan pembinaan.

Namun tadabbur pun punya syarat: pintu hati harus terbuka. Allah bertanya: “Tidakkah mereka mentadabburi Al-Qur’an, ataukah hati mereka terkunci?” (QS Muḥammad 47:24). Ada orang yang rajin belajar, tetapi kunci hatinya bernama riya, ujub, hasad, cinta dunia berlebihan, dan dosa yang diulang tanpa taubat. Dalam kerangka tazkiyah, iman tidak tumbuh di tanah yang penuh racun.

Karena itu, “pembangunan iman” selalu diawali dengan pembersihan: istighfar, taubat, dan kerendahan hati. Inilah urutan kenabian yang sangat dalam: Allah menggambarkan misi Rasul: membacakan ayat, menyucikan jiwa, lalu mengajarkan kitab dan hikmah (QS Al-Jumu‘ah 62:2). Tilawah tanpa tazkiyah melahirkan pengetahuan yang bisa keras; tazkiyah tanpa ilmu melahirkan semangat tanpa arah; ilmu yang benar membuahkan amal yang adil.

Dalam bahasa filosofis, iman adalah orientasi eksistensial: siapa yang menjadi pusat gravitasi hidup—Allah atau nafsu. Ketika pusatnya Allah, dunia kembali menjadi alat; ketika pusatnya nafsu, agama mudah menjadi simbol untuk membela ego. Al-Qur’an membangun iman dengan memindahkan pusat itu: dari “aku dan gengsiku” menuju “Allah dan ridha-Nya”. Maka batin yang sehat ditandai oleh khudū‘—tunduk, bukan sekadar kagum. Tunduk berarti: ketika ayat menegur, kita berhenti membela diri; ketika ayat mengarahkan, kita mengubah keputusan.

Ciri iman yang dibangun Qur’an juga punya indikator emosional yang benar: bukan emosi liar, melainkan getaran takut dan ketenangan. Allah menyebut: “Orang beriman… bila disebut nama Allah bergetar hati mereka, dan bila dibacakan ayat-ayat-Nya bertambah iman mereka.” (QS Al-Anfāl 8:2). Bertambah iman artinya bertambah taat, bertambah kuat menahan diri, bertambah jujur.

Lalu Allah memberi mekanisme stabilitas: “Hanya dengan mengingat Allah hati menjadi tenang.” (QS Ar-Ra‘d 13:28). Banyak orang runtuh bukan karena kurang dalil, tetapi karena batinnya gelisah—lalu ia mencari pelarian pada yang haram. Qur’an memutus rantai itu: menenangkan hati, lalu memberi arah yang lurus.

Pilar penting lainnya adalah keseimbangan dua sayap iman: harap dan takut. Al-Qur’an menggabungkan keduanya: “Kabarkan bahwa Aku Maha Pengampun lagi Maha Penyayang; dan azab-Ku sangat pedih.” (QS Al-Ḥijr 15:49–50). Jika hanya harap, dosa terasa remeh; jika hanya takut, jiwa menjadi kering dan putus asa. Iman yang Qur’ani adalah iman yang tenang namun waspada: lembut kepada manusia, tegas kepada dosa, jujur menilai diri.

Dan puncaknya, iman yang benar harus turun menjadi akhlak sosial. Qur’an tidak membiarkan iman tinggal sebagai rasa; ia menuntut wujudnya sebagai adab dan keadilan: “Sesungguhnya Allah menyuruh berlaku adil dan berbuat ihsan…” (QS An-Naḥl 16:90). Ukuran iman bukan hanya panjang tilawah, tetapi apakah ia makin amanah, adil, dan tidak zalim. Orang yang benar-benar beriman akan semakin sulit menipu, karena ia merasa diawasi Allah (muraqabah).

Karena itu, metode paling aman adalah metode bertahap: Tadabbur wa ‘Amal—pahami → niatkan → kerjakan → evaluasi. Sederhananya: pilih 5–10 ayat per hari; pahami makna; ambil satu pelajaran; tetapkan satu aksi; evaluasi sebelum tidur. Inilah cara iman dibangun: bukan oleh ledakan semangat sesaat, tetapi oleh istiqamah kecil yang konsisten.

Akhirnya, Al-Qur’an akan datang memberi syafa’at bagi pembacanya—tetapi “pembaca” yang dimaksud adalah yang menjadikan Qur’an sahabat perubahan, bukan sekadar bacaan bibir. Maka di zaman bising, tugas kita bukan hanya mempertahankan iman, tetapi menstabilkannya: menjadikan wahyu sebagai sistem hidup. Jika itu terjadi, iman tidak mudah runtuh oleh fitnah zaman, karena ia berdiri di atas petunjuk yang paling lurus dan akhlak kita menjadi saksi bahwa Al-Qur’an benar-benar membangun.

Oleh: Syekh Sofyan Siroj Abdul Wahab.

spot_img

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

WAJIB DIBACA

spot_img