BerandaInspirasiNasehatKetika Peradaban Melaju Tanpa Langit: Tauhid, Adab, Maslahah sebagai Kompas

Ketika Peradaban Melaju Tanpa Langit: Tauhid, Adab, Maslahah sebagai Kompas

spot_img

KABARLAH.COM, Pekanbaru – Syekh Muhammad al-Ghazali pernah melontarkan kalimat yang terasa seperti sirine di tengah kebisingan zaman: peradaban modern melaju dengan kedua tangan menuju kehancuran. Ungkapan ini tidak menolak kemajuan; ia menolak kemajuan yang kehilangan orientasi. Dalam tadabbur, kita belajar bahwa bencana paling berbahaya tidak selalu datang sebagai gempa dan perang, tetapi sebagai pergeseran makna: ketika manusia tetap bergerak, namun arah geraknya menjauh dari cahaya.

Peradaban modern memang mengagumkan: ilmu berkembang, teknologi memendekkan jarak, institusi bertambah, dan produktivitas meningkat. Namun al-Ghazali menyorot sebuah paradoks: semakin cepat dunia bergerak, semakin rapuh jiwa kolektifnya. Kecanggihan tak otomatis melahirkan kebijaksanaan; kemudahan tak selalu menumbuhkan syukur; kebebasan tak selalu membuahkan kemuliaan. Ada sesuatu yang hilang—bukan pada mesin, tetapi pada makna.

Dalam kerangka Tauhid–Adab–Maslahah, kalimat al-Ghazali terbaca sebagai diagnosis: krisis modern adalah krisis “poros”. Ketika poros hilang, sistem masih berputar, tetapi tidak lagi menuju kebaikan; ia berputar menuju kepentingan, nafsu, dan kuasa. Dan ini bukan tuduhan emosional; ini konsekuensi logis. Bila sumber nilai bergeser dari wahyu kepada selera massa atau pasar, maka ukuran baik–buruk pun menjadi cair. Dalam dunia yang cair, yang paling kuat bukan yang paling benar—melainkan yang paling mampu mempengaruhi.

Pertama: Tauhid sebagai poros orientasi.
Tauhid bukan hanya “percaya Tuhan ada”, tetapi “mengakui Tuhan sebagai pusat rujukan”. Ia menata arah: siapa yang ditaati, apa yang dicari, apa yang dianggap mulia. Ketika al-Ghazali berkata mengabaikan wahyu, itu berarti manusia memutuskan hubungan dengan standar kebenaran yang melampaui kepentingan. Tanpa wahyu, akal sering berubah dari alat mencari kebenaran menjadi alat memenangkan keinginan. Akal tetap cerdas, tetapi tak selalu lurus.

Di sinilah “melupakan Hari Akhir” menjadi titik paling tegas. Akhirat adalah mekanisme etika paling kuat: keyakinan bahwa setiap amanah akan ditanya, setiap kezaliman akan dibalas, setiap kebaikan sekecil apa pun akan dihitung. Ketika akhirat dilupakan, muncul logika baru: yang penting hasil sekarang. Maka budaya “instan” bukan sekadar gaya hidup; ia menjelma menjadi teologi praktis: seolah hidup berhenti di dunia. Inilah akar kegelisahan modern: manusia mengejar banyak hal, tetapi tidak tahu untuk apa—dan ketika tidak tahu “untuk apa”, manusia juga tidak tahu “harus bagaimana”.

Kedua: Adab sebagai wajah peradaban.
Adab adalah buah tauhid yang hidup. Jika tauhid memberi orientasi, adab memberi bentuk. Ia adalah seni menempatkan sesuatu pada tempatnya: benar dihormati, manusia dimuliakan, hak dijaga, lisan ditertibkan. Tanpa adab, kemajuan menjadi kasar. Kita melihatnya pada ruang publik: kata-kata menjadi senjata, fitnah menjadi hiburan, kebohongan menjadi strategi, aib orang menjadi komoditas. Ini bukan semata masalah komunikasi, tetapi masalah spiritual: matinya murāqabah—kesadaran bahwa Allah melihat.

Dalam bahasa akademik, adab adalah “infrastruktur moral” sebuah masyarakat. Ia lebih halus dari hukum, tetapi lebih menentukan dari slogan. Hukum bisa memaksa, adab membuat manusia rela berbuat baik meski tak dipaksa. Karena itu, kehancuran peradaban sering dimulai bukan dari krisis institusi, tetapi dari krisis adab: ketika orang tidak lagi malu berkhianat, tidak lagi takut menzalimi, dan tidak lagi merasa berdosa memanipulasi kebenaran.

Ketiga: Maslahah sebagai tujuan kemajuan.
Maslahah dalam Islam bukan sekadar “manfaat”, tetapi manfaat yang menjaga inti kemanusiaan: agama, jiwa, akal, keluarga, dan harta. Peradaban modern sering memutlakkan angka: pertumbuhan, indeks, rating, impresi. Namun tidak semua yang naik adalah kebaikan. Jika pertumbuhan merusak keluarga, jika kebebasan menormalisasi kerusakan moral, jika teknologi menggerus akal sehat dan menumbuhkan kecanduan, maka “kemajuan” itu adalah manfaat semu yang memanen mudarat jangka panjang.

Di sini, kalimat al-Ghazali tentang dampak yang kembali menimpa “diri kita dan anak-anak kita” terasa seperti cermin. Generasi bisa mewarisi fasilitas, tetapi kehilangan daya tahan batin. Mereka punya informasi, tetapi miskin hikmah. Mereka punya akses, tetapi kehilangan arah. Dan krisis ini tidak selalu tampak sebagai kemiskinan; sering justru tampak sebagai kelimpahan yang hampa.

Lalu apa jalan pulangnya? Tadabbur memberi kita satu kata: islah—perbaikan yang dimulai dari poros, bukan kosmetik. Kita tidak diminta memusuhi modernitas, tetapi diminta menundukkan modernitas. Mengembalikan tauhid sebagai kompas: wahyu menjadi rujukan, akhirat menjadi horizon. Menghidupkan adab sebagai budaya: jujur, amanah, santun, berani pada kebenaran, lembut kepada manusia. Mengarahkan maslahah sebagai kebijakan: teknologi untuk memuliakan martabat, ekonomi untuk keadilan, pendidikan untuk membangunkan akal dan iman.

Pada akhirnya, peradaban yang selamat bukan yang paling cepat, tetapi yang paling benar arah. Bukan yang paling bising, tetapi yang paling beradab. Bukan yang paling kuat memaksa, tetapi yang paling mampu menebar rahmah. Dan di situlah ungkapan al-Ghazali menemukan makna Qur’ani-nya: ketika manusia kembali berlangit—tauhid menuntun, adab membentuk, maslahah menguatkan kemajuan tidak lagi menyeret ke jurang, melainkan menjadi tangga menuju keberkahan.

Oleh: Syekh Sofyan Siroj Abdul Wahab.

spot_img

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

WAJIB DIBACA

spot_img